Bangunan peninggalan kolonial Belanda memang dikenal dengan kualitas dan bentuknya yang khas. Tak hanya kokoh, tapi juga tahan hingga ratusan tahun lamanya. Salah satu dari para arsitek Belanda yang berjasa atas berdirinya bangunan tersebut adalah Herman Thomas Karsten. Tak hanya soal arsitektur, keberadaannya sangat spesial di mata orang Indonesia lantaran sikapnya yang memihak dan membela Bumiputera meski dirinya seorang Belanda.
Dilansir dari tirto.id, ia merupakan sosok penting di balik bangunan seperti Pasar Djohar Semarang, Gedung perkuliahan Institut Teknologi Bandung (ITB) hingga tata kota Malang, Jawa Timur. Uniknya, ia ternyata seorang Belanda yang simpatik terhadap kaum Bumiputera yang terjajah dan bergabung bersama menentang negerinya sendiri.
Sosok cerdas yang pilih merantau ke negeri seberang
Pada 1914, Karsten mencoba peruntungan dengan merantau ke negeri seberang. Tujuannya adalag Hindia Belanda, tempat di mana ia kelak menelurkan banyak karya arsitektur yang monumental. Dilansir dari tirto.id, Karsten menuju ke tanah jajahan negerinya itu berkat undangan rekannya sesama arsitek yang bernama Henri Maclaine Pont, yang juga temannya semasa kuliah di Sekolah Tinggi Teknik Delft.
Rancang bangunan megah dan menata ruang perkotaan
Secara kebetulan, kedatangan Karsten ke Hindia Belanda bertepatan dengan persiapan Kota Semarang yang tengah dipercantik, karena bakal digunakan untuk perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis. Laman tirto.id menuliskan, pameran berskala internasional bertajuk Koloniale Tentoonstelling (Pameran Kolonial) yang dihelat pada 1915. Karsten memang lebih sering menjadi arsitek ketimbang perencana kota. Karya-karya bangunannya tersebar di Semarang, Solo, Yogyakarta, Medan, Comal, Palembang, dan banyak lagi.
Putra dari golongan elit yang lebih berpihak pada rakyat Indonesia
Sebaliknya, Karsten merasa iba dengan masyarakat Bumiputera yang hidup sebagai terjajah di tanah airnya sendiri. Dalam “Thomas Karsten’s Indonesia: Modernity and the End of Europe, 1914–1945” (2014), sejarawan Deakin University Joost Coté yang dikutip dari tirto.id mengatakan, Karsten adalah pengkritik kolonialisme, dilihat dari kerja-kerjanya merancang kota untuk menantang rasisme yang dilanggengkan oleh pemerintahan Hindia Belanda melalui tata kota mereka sebelumnya.
Arsitek ‘radikal’ yang nasibnya berakhir di dalam kamp tawanan
Simpatinya terhadap masyarakat Lokal ditunjukkan oleh Karsten dengan mendirikan Java Institute, menerbitkan majalah Djawa dan De Taak, perkumpulan kesenian Jawa Sobokarti di Semarang dan bergabung dengan kelompok intelektual Belanda De Stuw yang peduli dengan nasib masyarakat Hindia Belanda. Laman tirto.id menuliskan, Karsten juga menerbitkan majalah Kritik dan Upbow (Kritik dan Pembangunan) yang berisi tentang menghapus sistem dan masyarakat kolonial. Tak heran jika ia tak disukai oleh pemerintah Belanda sendiri.
BACA JUGA: Mengenal Pria Belanda yang jadi Penyebab Indonesia Dijajah Hingga Ratusan Tahun
Meski telah lama tiada, sosok Thomas Karsten akan selalu abadi dikenang lewat karya-karyanya yang monumental. Selain itu, tak banyak arsitek Belanda seperti Karsten yang memadukan unsur daerah lokal dan cita rasa eropa saat membuat sebuah bangunan, yang hingga kini masih bisa dilihat keberadaannya. Pendek kata, keberadaan seorang Thomas Karsten telah banyak mengubah wajah Indonesia di masa lampau. Terutama kepeduliannya terhadap perjuangan rakyat.