Kerusuhan yang pecah di Wamena, Papua, beberapa waktu lalu memang menyisakan tragedi kemanusiaan yang begitu hebatnya. Selain diwarnai eksodus besar-besaran dari para perantauan di luar Papua, peristiwa tersebut juga memakan korban jiwa yang mayoritas dialami oleh para pendatang. Meski demikian, ada sebuah kisah haru sekaligus heroik di balik kerusuhan tersebut.

Dilansir dari BBC Indonesia, sejumlah warga pendatang dari Padang, Jawa, Makassar bercerita bagaimana mereka diselamatkan saat kerusuhan di Wamena setelah rumah mereka dibakar. Ya, nyawa mereka ditolong dari orang-orang lokal Papua yang justru bersimpati meski rekan mereka yang lainnya dengan melakukan tindakan anarkis. Seperti apa kisahnya?

Diungsikan dan dimasukan ke dalam gereja agar selamat dari amukan massa

Warga pendatang saat dilindungi oleh masyarakat lokal Wamena [sumber gambar]
Kerusuhan massal di Wamena mungkin menjadi pengalaman yang tak bakal dilupakan oleh seorang Mus Mulyadi. Pria asal Sumatera Barat ini, merupakan seorang pemilik warung makan di Wamena yang diselamatkan oleh warga asli setempat saat kerusuhan pecah. “Kita 250 orang dibawa ke gereja, diungsikan, diselamatkan. Orang Padang, Jawa, Makassar dimasukkan ke gereja. Yang menyelamatkan asli orang Wamena. Mereka juga yang menjaga serta mengawal kami sepanjang hari itu,” ungkapnya yang dikutip dari BBC Indonesia.

Tukang ojek asal Madura selamat setelah nekat jebol atap kontrakan

Qoim yang selamat setelah dirinya menjebol atap dan melarikan diri [sumber gambar]
Nasib mujur juga dialami oleh Qoim, perantauan asal Madura yang selamat setelah berhasil meloloskan diri dari massa yang mengepungnya. Saat kerusuhan terjadi, pria 32 rahun itu tengah berada di dalam kontrakannya bersama beberapa 21 temannya yang bekerja sebagai tukang ojek. Oleh massa yang kalap, pintu depan kontrakan Qoim digedor agar mereka keluar. Dilansir dari Viva, ia Sempat bertahan beberapa saat, kemudian nekat menjebol atap belakang dan langung berlari keluar. Beruntung dirinya, ditemukan oleh anggota Brimob dan akhirnya dibawa ke kantor Kodim setempat.

Perantauan asal Ponorogo diselamatkan oleh penduduk asli Wamena

Ilustrasi warga pendatang diselamatkan orang lokal Wamena [sumber gambar]
Informasi bahawa akan terjadi kerusuhan di Wamena, di dapatkan Nani Susongki dari anak perempuannya yang bekerja di toko gadget. Wanita paruh baya asal Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur itu, hampir saja menjadi korban jika tidak dilindungi oleh warga sekitar yang bernama Mama Nanu. Nani yang bekerja sebagai tukang pijat, akhirnya selamat berkat kebaikan warga asli Wamena tersebut. Nani menyatakan tidak pernah menyangka Mama Manu nekat berhadapan dengan sekelompok orang bersenjata tajam, demi untuk mempertahankan warga yang berlindung dalam rumahnya.

Pegawai PLN hampir meregang nyawa dibakar massa

Cuitan salah satu karyawan PLN yang selamat dari kerusuhan Wamena [sumber gambar]
Dalam unggahan di Twitter piribadinya, seorang pegawai PLN yang bernama Naufal Alamsyah juga menceritakan kisahnya yang hampir menjadi korban kerusuhan. Saat kejadian, Ia dan kawan-kawannya nyaris tewas hangus terbakar dalam kantor ketika api disulut massa dan mulai membakar kantor PLN tempatnya bekerja. Beruntung, dirinya berhasil kabur dan menyelamatkan diri dengan bersembunyi di rumah warga.

Gubernur Papua meminta maaf atas peristiwa kerusuhan Wamena

Gubernur Papua Lukas Enembe [sumber gambar]
Begitu banyaknya korban dan bangunan yang rusak selama terjadinya kerusuhan Wamena, Gubernur Papua Lukas Enembe menyatakan permintaan maafnya. Dilansir dari Suara, ia menuliskan surat yang ditujukan pada masyarakat perantauan di Wamena dengan empat poin yang intinya memohon maaf, dan menegaskan akan melakukan rekonstruksi, rehabilitasi, pemulihan keamanan, hingga penanganan korban kerusuhan.

BACA JUGA: Papua Kembali Ricuh, 5 Fakta Kerusuhan di Wamena Ini Bikin Orang Perantauan Kocar-kacir

Dengan berangsur pulihnya situasi dan kondisi keamanan di Wamena, semoga saja peristiwa kerusuhan yang telah berlalu, bisa menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Bahwa hal tersebut sejatinya tidak memiliki manfaat dan sebaliknya, malah menimbulkan nestapa dan duka bagi sesama.