Apa itu cinta sejati? Benarkah kita semua bisa menemukan cinta sejati kita? Adakah seseorang yang bisa melengkapi hidup kita atas nama cinta sejati? Mungkin kita merasa terlalu naif berharap bisa hidup bahagia selama-lamanya dengan seseorang yang kita anggap sebagai jodoh dan cinta sejati kita. Tapi pada kenyataannya, tak semua pasangan bisa sehidup semati. Meski begitu, cinta sejati tak begitu saja luntur walau maut memisahkan.
Kisah cinta Hasri Ainun Besari dan B. J. Habibie merupakan salah satu kisah cinta yang paling banyak menginspirasi sekaligus mengharukan bagi kita semua. Ainun dan Habibie memang tercipta untuk saling mencinta dan berbahagia. Kisah cinta mereka tetap abadi meski akhirnya maut jua yang memisahkan. Ainun lebih dulu berpulang. Beliau wafat tanggal 22 Mei 2010, meninggalkan suami tercinta dan dua orang putra. Kepergian Ainun jelas sangat mengguncang hati Habibie. Menghabiskan 48 tahun 10 hari hidup bersama dalam biduk rumah tangga bukanlah waktu yang singkat. Seperti kehilangan sebelah sayap, Habibie sempat limbung ketika sang istri pergi untuk selamanya. Walaupun demikian, ada banyak pelajaran tentang pengorbanan, ketulusan, kesungguhan, dan pembuktian cinta sejati yang bisa kita ambil dari kisah Habibie – Ainun.
1. Cinta Sejati Selalu Memberi Tanda
Ainun dan Habibie bersekolah di SMA yang sama. Habibie pernah menggoda Ainun dengan menyebutnya “gula jawa” hanya karena saat itu Ainun memiliki kulit hitam. Godaan itu sebenarnya karena Habibie diam-diam juga naksir dengan Ainun. Teman-teman mereka pun sering menjodoh-jodohkan mereka berdua. Ditambah lagi Ainun sebenarnya sosok gadis manis yang bisa dengan mudah menarik perhatian para kaum adam.
Ainun yang pernah dioloknya “gula jawa” kini berubah jadi “gula pasir”. Ia tumbuh menjadi seorang perempuan yang cantik. Jelas Habibie tak bisa menyembunyikan rasa suka dan kekagumannya. Hatinya bergejolak. Saat itulah ia tahu bahwa Ainun adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan padanya. Tanggal 12 Mei 1962 jadi hari paling bersejarah. Itulah hari saat Habibie mengucap janji suci dan sah menjadi suami Ainun.
2. Kesulitan yang Dialami Berdua Bukan untuk Dikeluhkan Tapi Dicari Jalan Keluarnya
Setelah menikah, Habibie harus segera kembali ke Jerman. Ia masih punya tanggung jawab untuk bekerja sekaligus melanjutkan pendidikan doktoralnya di sana. Ainun pun diajaknya. Ainun akhirnya mengiyakan ajakan Habibie meski harus meninggalkan pekerjaannya sebagai dokter. Tapi hidup di negeri orang ketika sudah menikah bukan hal yang mudah.
3. Cinta Sejati Selalu Butuh Pengorbanan
Ainun tetap sabar dan setia mendampingi Habibie di masa-masa sulitnya. Bahkan demi penghematan, saat mengandung, Ainun menjahit sendiri keperluan baju bayinya. Ainun juga menjadi sosok ibu yang sangat bertanggung jawab. Setelah kedua putranya Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie lahir, Ainun berusaha keras membesarkannya keduanya dengan baik.
Sejak kecil, kedua putra Ainun dan Habibie dibiasakan hidup sederhana. Ainun memberikan jatah uang jajan yang pas per minggunya. Cara ini dipilih agar anaknya bisa belajar bertanggung jawab sekaligus bisa menanamkan pola hidup sederhana dalam kesehariannya.
Mungkin apa yang dilakukan Ainun seperti sebuah keputusan yang sangat disayangkan. Bagaimana ia bisa rela meninggalkan profesinya yang bergengsi dan jadi ibu rumah tangga? Namun, ketulusan cinta dan keikhlasan juga lah yang membuatnya memilih jalan yang bisa memberi kebahagiaan yang lebih besar untuk dirinya juga orang-orang yang dicintainya.
4. Cinta Sejati Itu Mendampingi
Ainun memang benar-benar sosok istri yang luar biasa. Ia selalu mendampingi Habibie dalam berbagai hal. Dalam masalah waktu kerja misalnya, Ainun selalu memantau dan mengingatkan Habibie. Ainun selalu jadi orang pertama yang mengingatkan Habibie agar tetap menjaga kesehatannya dan tak kerja melebihi batas.
5. Cinta Sejati Juga Perlu Keikhlasan
“Saya dilahirkan untuk Ainun dan Ainun dilahirkan untuk saya.”
(B.J. Habibie)
Cinta bisa menyatukan dan menguatkan. Namun, di sisi lain cinta juga perlu melepaskan dan mengikhlaskan. Sejak Ainun masuk rumah sakit tanggal 24 Maret 2010, Habibie selalu berada di sisinya. Habibie pun selalu membantu dan menuntun istrinya untuk shalat. Cinta mereka begitu kuat, meski pada akhirnya maut yang harus memisahkan.
Pada akhirnya cinta sejati juga mengajarkan kita untuk merelakan dan mengikhlaskan. Meski raga sudah tak bernyawa, tapi perasaan cinta itu akan selalu ada. Kenangan dan kebahagiaan yang pernah ada juga tak akan pupus begitu saja. Semoga kita semua bisa menemukan dan hidup bahagia dengan cinta sejati kita.