BJ Habibie [image source]
Seperti Apakah sosok Bacharuddin Jusuf Habibie di mata Anda? Setiap mendengar namanya disebut, kita pasti akan teringat sosok lelaki tua dengan gaya bicara yang khas, terkadang meloncat ke sana ke mari saking cepatnya ia berpikir.
Tapi meskipun usianya sudah menginjak 79 tahun, ia masih memberikan perhatian besar pada kemajuan bangsa Indonesia. Hal sederhana tapi sangat mengena di hati yang ia lakukan, terlihat saat mantan Presiden Indonesia ke-3 itu mengunjungi Kantor Manajemen Garuda Indonesia di Garuda City Complex, Bandara Soekarno-Hatta.
BJ. Habibie adalah orang yang mempunyai andil besar dalam dunia dirgantara Indonesia, sudah sepantasnya Beliau disambut dengan hangat dan hormat oleh segenap jajaran manajemen Garuda Indonesia.
Habibie datang ke manajemen Garuda Indonesia ditemani oleh putranya Ilham Habibie dan keponakannya Adri Subono, juragan Java Musikindo. Sebagai persembahan untuk sang legenda dirgantara Indonesia, diputarlah video yang memperlihatkan perjalanan Garuda Indonesia sejak tahun 2005. Dalam video tersebut juga ditampilkan segenap prestasi dan proyek ambisius Garuda Indonesia di masa depan.
Bagi Habibie memori 20 tahun yang lalu itu sangatlah berharga dan beliau pasti punya alasan tersendiri kenapa ia memilih video N250 untuk disuguhkan pada segenap jajaran pegawai Garuda Indonesia. Video itu dapat menyihir seisi ruangan menjadi haru dan banjir air mata. Kisah ini diceritakan oleh Novianto Herupratomo seorang direktur pelaksana maskapai penerbangan nomer satu di Indonesia, Garuda Indonesia.
Video diputar, semua mata memandang ke layar dan menyaksikan bagaimana pintarnya N250 terbang tanpa oleng hingga akhirnya bisa kembali ke landasan dengan selamat. Penerbangan perdana tersebut disaksikan langsung oleh Presiden Soeharto, ibu wapres Soedarmono, para menteri dan para pejabat Indonesia serta para teknisi IPTN. Tepuk tangan bergemuruh menyambut keberhasilan seorang Habibie mempelopori teknologi penerbangan buatan dalam negeri.
Novianto menceritakan kembali pidato Habibie setelah video tersebut diputar yang kurang lebih sebagai berikut ini. “Dik, Anda tahu? Saya ini lulus SMA tahun 1954!” Habibie mulai bercerita dengan nada khas menyapa semua hadirin dengan kata ‘Dik’. “Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang. Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat. Ia tahu persis sebagai Insinyur, Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan teknologi yang berwawasan nasional yakni teknologi maritim dan teknologi dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara.
Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN.
Sekarang Dik, Anda semua lihat sendiri N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin. Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan. Teknologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun ke depan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal. Satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini, rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu.
Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya. Dik tahu? Di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina dan Indonesia. Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa. Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua?
Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun. Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang. Dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!” begitulah kata Pak Habibie kemudian menghela nafas panjang.
Keputusan pemerintah saat itu, membuat proses produksi pesawat berhenti. Novianto yang teringat semua itu menunjukkan raut muka yang sama kecewanya dengan Habibie. Menurut Novianto jika saja N2130 benar-benar lahir, maka Indonesia tak perlu repot-repot membeli B737 atau Airbus 320 dan kemungkinan untuk menjadi pusat industri dirgantara akan semakin besar.
Pak Habibie kemudian melanjutkan ceritanya. “Dik, saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ibu Ainun istri saya. Ia ikuti ke mana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya, saya mau kasih informasi, Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu”.
Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan; Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup. Saya pilih opsi yang ketiga”. “Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun. Dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia”.
Ucapan tulusnya pada Garuda Indonesia membuat semua orang terhenyak dan tak kuasa menahan tangis. Kesedihan dan keprihatinan akan nasib industri dirgantara Indonesia yang tak sesuai harapannya seakan belum cukup, Kepedihannya semakin bertambah tatkala istrinya yang sangat ia cintai meninggal dunia.
Itulah sepenggal cerita tentang Habibie dan garuda Indonesia. Seorang Habibie telah menunjukkan bahwa apapun bisa dicapai, asalkan harus dikerjakan dengan hati. Terimakasih Bapak Habibie, kami bangga padamu.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…