in

Berbekal Mantra ‘Coba Lagi’, Anak Pedagang Sayur Ini Sukses Kuliah di Amerika Setelah 53 Kali Gagal

Berhasil setelah puluhan kali gagal [sumber gambar]

Tak ada manusia di dunia ini yang tidak pernah gagal. Bahkan orang yang punya nama besar, kaya raya, sekolah tinggi, mereka kadang sudah banyak menelan asam garam kegagalan. Tapi, dari banyaknya kegagalan itu, ada yang mampu bertahan ada pula yang tidak. Nah, mereka yang sukses ini boleh jadi menerapkan banyak mantra, salah satunya adalah kata Jack Ma: Hari ini berat, besok akan semakin berat, tapi lusa akan indah.

Ya, yang penting mau terus mencoba, besok lusa sukses akan datang. Hal ini lagi-lagi dibuktikan oleh seorang anak penjual sayur asal Aceh, Aula Andika. Aula baru bisa mencapai impiannya untuk kuliah di luar negeri setelah 53 kali gagal mencoba. Pada percobaan ke 54, Aula lulus dan bisa membuktikan mantra ‘coba lagi’ miliknya berhasil. Yuk, simak perjuangan Aula di sini!

Tumbuh dalam keterbatasan ekonomi, sejak kecil Aula sudah menjadi anak yang kuat

Ibu Aula [sumber gambar]
Aula, sejak kecil tidaklah hidup dengan mudah. Karena kondisi finansial orang tuanya, Aula tentu hidup serba kurang. Ayahnya hanya orang yang tamat pendidikan SD, sedangkan ibunya bahkan tidak bisa membaca dan menulis (buta huruf). Kedua orang tuanya berprofesi sebagai penjual sayur. Kondisi inilah membuat Aula nekat untuk punya pendidikan yang tinggi. Apapun yang terjadi, ia dan adik-adiknya harus sekolah dan menuntut ilmu.

Bencana dan tsunami Aceh menewaskan keluarganya

Bencana alam menewaskan keluarganya [sumber gambar]

Aula juga diterpa musibah dan harus kehilangan keluarga yang ia sayang satu per satu. Ayahnya meninggal pada tahun 2004 dalam kerusuhan di Aceh saat itu. Tak lama, di tahun yang masih sama dua kakaknya meninggal dunia, satu karena sakit, satu lagi menjadi korban tsunami. Beruntung, Aula masih punya ibunya yang disapa Mak Cut, yang berusaha membiayai kehidupan mereka dengan berjualan sayur –yang hanya bisa untung 10-20 ribu per harinya.

Anak yang berprestasi sejak kecil

Anak yang berprestasi [sumber gambar]
Yang namanya mutiara, mau di manapun tetap akan bersinar bukan? Mungkin Aula bisa diumpamakan seperti mutiara itu. Sejak kecil, ia sudah langganan juara, mulai dari cerdas-cermat, juara olimpiade Fisika dan Matematika, bahkan menjadi pemenang Festival Film Anak yang diadakan oleh UNICEF. Alhasil, kuliah S-1 ia tempuh dengan beasiswa Bidikmisi di Universitas Syah Kuala Aceh, lagi-lagi karena ibunya tak mampu membiayai ia kuliah regular.

Berhasil lulus di luar negeri setelah 53 percobaan gagal

Berhasil setelah puluhan kali gagal [sumber gambar]
Selama enggak menyerah sih pasti ada jalan. Kemauan Aula memang tidak main-main, ia rela melakukan apa saja demi mewujudkan mimpinya kuliah di luar negeri. Tak peduli berapa kali gagal, ia selalu bangkit dan mencoba lagi. Alhasil di kali ke 54, ia berhasil. Aula lulus di Lehigh University, Pensylvania, jurusan Instructional Technology. Belum lama ini, ibunya juga mendapat penghargaan sebagai “Orangtua Hebat 2019” yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat.

BACA JUGA: Taufiq Effendi, Tunanetra yang Lulus Cumlaude dan Dapat Beasiswa di 8 Kampus Luar Negeri

Orang-orang yang mau terus mencoba seperti ini memang 1 di antara 100. Karena kebanyakan, satu dua kali gagal saja, ada yang tak mau mencoba lagi kan? BTW, selamat juga untuk Mak Cut karena sudah menjadi orang tua yang paling hebat untuk anak yang tak pantang menyerah. Salute!!!

Written by Ayu

Ayu Lestari, bergabung di Boombastis.com sejak 2017. Seorang ambivert yang jatuh cinta pada tulisan, karena menurutnya dalam menulis tak akan ada puisi yang sumbang dan akan membuat seseorang abadi dalam ingatan. Selain menulis, perempuan kelahiran Palembang ini juga gemar menyanyi, walaupun suaranya tak bisa disetarakan dengan Siti Nurhalizah. Bermimpi bisa melihat setiap pelosok indah Indonesia. Penyuka hujan, senja, puisi dan ungu.

Leave a Reply

Kisah Guru Honorer di Pandeglang yang Tetap Ikhlas Mengabdi Meski Hanya Digaji Rp 12 Ribu

Menilik Kebijakan Sultan Brunei yang Sempat Jadi Sorotan dan Menuai Kontroversi