Profesi nelayan yang identik dengan bau amis dan penampilan yang lusuh, telah menjadi mindset bagi banyak orang terhadap mereka yang menggelutinya. Lingkungan yang buruk dan kumuh, seolah menjadi stigma negatif yang kadung melekat. Pun dengan kondisi keluarganya yang tak jauh berbeda.
Namun saat melihat sosok Elita Tirta Triningrum, semua anggapan negatif di atas bakal buyar seketika. Meski kerap membantu sang ayah mencari ikan, tak ada yang menyangka jika ia merupakan sosok cerdas yang berprestasi. Kegiatannya melaut, semata-mata hanyalah niat tulus dirinya untuk membantu keadaan ekonomi keluarganya yang pas-pasan.
Di tengah-tengah himpitan ekonomi, Elita justru tak mengendurkan semangat untuk mengejar mimpinya meraih prestasi. Untuk itu, ia pun berusaha aktif mengikuti pendidikan formal di salah satu SMK Remaja di kawasan Pluit. Elita bahkan rela meluangkan waktunya untuk mengajar anak-anak nelayan lainnya di PAUD, Paket A, B, C, TPA, serta menari.
Sebagai nelayan, sang ayah berpenghasilan rata-rata Rp 50 ribu per-hari. Sementara dari hasil menjahit, sang ibu mendapatkan Rp 57 ribu per harinya. Untuk itu, Elita mencari tambahan pemasukan dengan menjajakan otak-otak di pelabuhan Muara Angke. Dari hasil berjualan tersebut Elita mampu menyisihkan uang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
yang membanggakan, Elita juga berhasil menerima penghargaan berupa beasiswa penuh untuk menempuh pendidikan di Podomoro University. Semua usaha dan kerja kerasnya pun terbayar lunas. Berbekal beasiswa yang diperolehnya, Elita siap merajut asanya meraih prestasi yang selama ini diidamkannya. Salut ya Sahabat Boombastis.