Jauh sebelum sosok Bacharuddin Jusuf Habibie menjadi pencipta pesawat terbang yang terkenal di era modern Indonesia, sejarah mencatat sosok bernama Achmad bin Talim merupakan pembuat pesawat di Indonesia yang kala itu masih bernama Hindia Belanda. Segera, rancangan pesawat buatannya itu mampu menggegerkan masyarakat Eropa.

Prestasi yang diukir Talim tergolong luar biasa pada masanya. Terlebih, kondisi Hindia Belanda yang kala itu masih berstatus sebagai negara jajahan Belanda. Sebagai seorang mekanik pesawat dari perusahaan besar, sosok Talim dikenal sebagai teknisi yang handal sekaligus cekatan dalam pekerjaannya. Selengkapnya, simak ulasan Boombastis berikut ini.

Sosok cerdas yang bekerja sebagai teknisi pesawat di perusahaan Belanda

Sejak kecil, Achmad bin Talim yang lahir di Bandung, Jawa Barat, tahun 1910 itu menaruh minat yang besar pada dunia penerbangan. Hal tersebut tak lepas dari masa kecilnya yang akrab terhadap lalu lalang pesawat di Bandara Pangkalan Udara Andir (sekarang Bandara Husein Sastranegara) yang memang dekat dengan rumahnya.

Sosok jenius yang menyukai dunia penerbangan sejak kecil [sumber gambar]
Dikutip dari Majalah Suara Angkasa edisi Januari 2012, Achmad kemudian menerima tawaran untuk bekerja di Luchtvaart Afdelling, yang merupakan bagian dari Militaire Luchtvaart Dients (penerbangan Militer Hindia Belanda) di Andir, usai dirinya lulus dari Sekolah Teknik. Dari sana, pengetahuannya soal pesawat semakin berkembang.

Mendapat tawaran untuk merakit pesawat sendiri dari seorang pengusaha

Pengusaha sekaligus pewaris perusahaan pemotongan sapi NV Merbaboe yang bernama Khouw Ke Hien menjadi jalan bagi Talim untuk mengembangkan pesawat sendiri. Kala itu, ia mendapat pesanan dari Hien untuk membuat sebuah pesawat. Tentunya disesuaikan dengan kebutuhan dari sang pengusaha.

Achmad bin Talim (kiri) dan Laurents Walraven (kanan) di depan pesawat buatan mereka, Walraven-2 [sumber gambar]
Gayung bersambut, Talim pun menyanggupi. Rencana ini kemudian ia diskusikan dengan rekan-rekannya di di Luchtvaart Afdelling, yakni Kapten M.P. Pattist dan tenaga sipil L.W. Walraven. Keduanya segera menggarap dari sisi desain rancangan berupa cetak biru, sementara Talim bersama kawan-kawan lain yang mengerjakan bentuk jadinya di bengkel.

Sukses menciptakan pesawat hingga berhasil diterbangkan

Menurut Menurut artikel “Built in the Dutch East Indies” dalam majalah Flight, terbitan 28 Februari 1935, pesawat yang kemudian dinamakan Walraven-2 itu dirancang untuk penerbangan jarak jauh. Selain struktur yang apik, hal ini tak lepas dari penggunaan dua mesin Pobjoy (ada yang menulis Pobyo) Niagara 7 silinder berkekuatan masing-masing 90 tenaga kuda.

Pesawat Walraven-2 pesanan Khouw Ke Hien; dibuat oleh Laurents Walraven, MP Pattist, dan Achmad bin Talim [sumber gambar]
Walraven-2 pun selesai dibuat pada akhir 1934 dan berhasil diujicoba terbang perdana pada 4 Januari 1935. Bisa dibilang, desain aerodinamika Walraven-2 menjadi perhatian besar pada saat pembuatannya. Talim sendiri bangga sebagai salah satu perancangnya. “Memang baru pertama kali itulah saya membuat penutup mesin bulat begitu,” kenang Talim, sebagaimana ditulis Cartono Soejatman dan Duni Sudibyo, “Made In Bandung Menggegerkan Eropa”, dimuat dalam Kisah Hebat di Udara I, yang dikutip dari Historia.

Berhasil diterbangkan ke Belanda dan membuat kagum masyarakat setempat

Ujicoba perdana berhasil dilakukan di dalam negeri, membuat sosok Hien yang kala itu menyukai dunia penerbangan merasa tertantang, Tak hanya memesan pesawat sesuai spesifikasi yang diinginkannya, ia juga tertarik untuk menjadi pilot dan membawa Walvaren-2 lepas landas untuk jarak yang jauh. Tak kepalang tanggung, Eropa (Amsterdam, Belanda) menjadi tujuannya.

Berhasil diterbangkan hingga ke Bandara Schipol, Amsterdam, Belanda [sumber gambar]
Terbang dari Bandara Andir yang kini dikenal sebagai Husein Sastranegara, Hien bersama Walraven-2 berhasil mendarat dengan aman di Bandara Schipol, Amsterdam. Alhasil, kehebohan terjadi pada masyarakat setempat pada saat itu. Bagaimana bisa ada pesawat mendarat di depan mata mereka, yang ternyata dibuat oleh teknisi lokal yang merupakan daerah jajahannya. Aneh tapi nyata, namun itulah faktanya.

Sosok yang juga berjasa pada perkembangan pesawat udara Indonesia

Walraven-2 yang memiliki kode registrasi internasional PK-KKH (PK kode Hindia Belanda) dan KKH (singkatan Khouw Khe Hien), menjadi salah satu bukti kehebatan Talim merancang pesawat. Ia pun diminta oleh KSAU Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma untuk menjalankan kembali bengkel pesawat milik AURI di Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta.

Pesawat Walraven-2 rancangan Achmad bin Talim dan rekan-rekannya [sumber gambar]
Talim sendiri telah terdaftar sebagai anggota AURI. Bersama rekan-rekannya yang lain, ia menjadi salah satu perancang dari proyek pesawat WEL-1 RI-X. Dilansir dari News.detik.com (16/12/2015), Talim juga membidangi dari kelahiran pesawat terbang produksi lokal seperti Si Kumbang, Belalang, dan Kunang.

BACA JUGA: Mengenal Nurtanio, Tentara AURI yang Ciptakan Pesawat Tempur Pertama Indonesia

Pesawat rancangan Achmad bin Talim bersama rekan-rekannya yang bernama Walraven-2, kala itu berhasil mengguncang Eropa. Siapa sangka jika negara yang statusnya sebagai wilayah jajajahan itu bisa menciptakan pesawat dari tangan seorang teknisi lokal. Hebat ya Sahabat Boombastis.