Badan SAR Nasional atau BASARNAS memang merupakan salah satu tim penyelamat kebanggaan Indonesia. Bagaimana tidak, pasukan berseragam oranye itu selalu bisa menunjukkan kinerja terbaiknya di lapangan. Namun belum lama ini kabar menyedihkan juga datang dari tim rescue terbaik Indonesia tersebut. Pasalnya saat melakukan evakuasi korban dalam peristiwa letusan Kawah Sileri di Pegunungan Dieng, helikopter Basarnas jatuh di wilayah Temanggung, Jawa Tengah.
Kejadian tersebut tentu saja sangat disayangkan oleh banyak orang, lantaran Basarnas lah yang selama ini selalu diharapkan dapat membantu masyarakat dalam berbagai macam bencana. Kekhawatiran pun sontak muncul di benak masyarakat kala mendengar kejadian tersebut. Jika kalian termasuk orang yang sempat khawatir mendengar berita tersebut, ada baiknya bila kita mengingat kembali kehebatan tim SAR Indonesia dalam beberapa misi penyelamatan berikut.
Tim SAR kecelakaan Air Asia
Sepertinya masih segar dalam ingatan tentang kecelakaan yang menimpa maskapai Air Asia QZ8501 beberapa tahun silam. Proses evakuasi kecelakaan pesawat yang terjadi di wilayah Pangkalan Bun, Kalimantan Timur itu merupakan salah satu bukti kehebatan tim SAR Indonesia yang jadi buah bibir dunia internasional. Tentu banyak dari kalian masih ingat betapa menantangnya tugas yang dilakukan oleh tim gabungan dari Basarnas serta TNI saat itu.
Tim SAR Sukhoi Superjet 100
Kehebatan tim Sar kita juga pernah diuji saat melakukan proses penyelamatan korban kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 pada 2012 silam. Bisa dibilang bahwa penyelamatan ini merupakan salah satu yang terbesar, pasalnya ada sekitar 2000 orang diturunkan untuk evakuasi korban di Gunung Salak. Ribuan personil tersebut kemudian dibagi lagi menjadi 750 tim untuk menyusuri Gunung Salak selama kurang lebih 10 hari.
Tim SAR kawah Gunung Merapi
Masih ingat peristiwa yang menimpa seorang mahasiswa Yogyakarta di Gunung Merapi? Pada 2015 lalu, seorang mahasiswa bernama Eri Yunanto tidak sengaja terpeleset di kawah Gunung Merapi. Saat itu Eri diketahui berada di titik kedalaman 150 sampai 200 meter dari bibir kawah. Bayangkan saja bagaimana tim SAR harus masuk ke dalam untuk mengambil tubuh korban. Maka tak heran jika proses peyelamatan Eri membutuhkan waktu selama tiga hari.
Tim SAR perairan Selat Bali
Kalau pada tiga cerita di atas anggota tim SAR harus bergelut dengan terjalnya medan, panasnya suhu kawah, serta tidak menentunya cuaca, belum lama ini Basarnas Kantor SAR Denpasar harus menaklukkan medan perairan. Pasalnya awal Juli lalu, mereka mendapat informasi mengenai sebuah kapal yang mengalami mati mesin di perairan Selat Bali. Untuk proses pencarian target, tim SAR melakukan proses penyisiran melalui udara dan laut.
Tentu tidak mudah menjadi seorang anggota Basarnas atau tim SAR. Kita harus siap kapan pun dan di mana pun untuk melakukan proses penyelamatan korban kecelakaan. Belum lagi resiko dan tantangan lain yang akan dialami sepanjang perjalanan. Empat cerita di atas tentu sudah cukup mengingatkan kita betapa tangguhnya tim SAR Indonesia dan tidak salah jika mereka disanjung-sanjung di dunia internasional karena kinerjanya yang taktis.