Setiap anak dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, seperti gadis Pekalongan bernama Windy Setyoningsih ini. Windy adalah penyandang disabilitas (Sindrom Savant) dengan IQ rendah tapi memiliki bakat yang luar biasa hebat.

Dalam beberapa hari terakhir, nama Windy menjadi buah bibir dan banjir pujian netizen, pasalnya gadis yang dianggap ‘cah bodoh’ ini bisa membuat sketsa gambar sekelas desainer ternama. Lantas, bagaimanakah Windy bisa seperti sekarang? Yuk simak kisah Windy, remaja dengan keterbelakangan mental yang punya bakat luar biasa.

Viral berkat postingan Fauzan Mukrim

Windy menjadi perbincangan setelah seorang bernama Fauzan Mukrim membagikan hasil karya Windy dalam akun facebooknya. Gambar yang sudah disukai 25 ribu orang ini rupanya diambil oleh Nurul Fairyda yang bekerja sebagai perawat di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita (BBRSBG) Kartini, Temanggung, Jawa Tengah. Dia bertemu Windy saat gadis tersebut mendapatkan pelayanan Rehabilitasi Sosial Berbasis Keluarga (RSBK) di BBRSBG.

Fauzan Mukrim Facebook [Image source]
Karena penasaran, Nurul akhirnya mengunjungi Windy di kediamannya di Dusun Blandong, Desa Purworejo, Kecamatan Sragi, Pekalongan. Nurul sendiri melihat bagaimana Windy menggambar gaun menawan yang setara dengan sketsa desainer ternama.

Suka menggambar dari kecil dan belajar secara otodidak

Menurut penuturan Nurul, Windy memang sudah suka menggambar sedari dia kecil. Namun, selama lima tahun belakangan ini dia gemar sekali menggambar gaun di buku sketsa yang diberikan oleh seseorang padanya. Gambaran Windy memang bakalan membuatmu bengong jika melihat langsung ia menggoreskan pensil dan mulai membuat gambar-gambar gaun.

Hasil gambar Windy [Image source]
Windy menggambar tanpa menjiplak, tanpa mikir, tanpa penghapus, mengalir begitu saja, namun hasil gambar yang didapatkan simetris kiri dan kanannya. Desainer ternama saja masih butuh waktu untuk meimkirkan desain seperti apa yang akan dibuat bukan?

Duduk di bangku SD hanya sampai kelas 4

Jika difikir-fikir mungkin memang sedikit tidak masuk akal, jika anak yang tidak lulus SD bisa menghasilkan gambar sedetail desain Windy. Tapi itulah kenyataannya, Windy mengidap Sindrom Savant, dimana seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata bisa saja memiliki kemampuan luar biasa.

Desain gambar Windy yang hanya lulusan SD [Image source]
Windy dulunya hanya belajar sampai kelas 4 SD saja, ia dianggap pihak sekolah tidak mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Gadis berusia 23 tahun ini tidak bisa membaca dan hanya mampu berhitung sampai angka 20 saja.

Bukan anak orang berada

Karena sudah tidak bersekolah dan berasal dari keluarga yang sederhana, sehari-hari Windy membantu orangtuanya bekerja. Ibu Windy hanyalah seorang buruh lipat kain kassa, yang jika sudah melipat semua perban akan diserahkan kepada pengepul (pemilik), sedangkan ayah Windy juga bekerja sebagai buruh sablon di desanya.

Orang tua Windy hanyalah buruh Kassa dan sablon [Image source]
Dulu, sebelum punya sketsa Windy sering menggambar di buku adiknya, maklum saja karena penghasilan orangtuanya yang hanya Rp.7.000-10.000 per hari tidak memungkinkan untuk membeli keperluan menggambar lengkap untuk Windy. Setelah diberikan sketsa oleh sang parawat, Windy baru bisa menuangkan idenya di sketsa tersebut.

‘Cah bodoh’ yang ditawari 3 desainer ternama untuk bekerja sama

‘Lah, cah bodo kok iso gambar apik banget’ (Lah, anak bodoh kok bisa gambar bagus banget). Begitulah kata yang keluar dari mulut tetangga saat mengetahui kalau Windy bisa menggambar sesuatu yang luar biasa bagus. Windy memang mendapat cap sebagai ‘anak bodoh’ di lingkunganya, betapa tidak gadis usia 23 tahun ini IQ nya hanya di bawah 90. Ditambah kemampuannya hanya setara dengan anak SD bahkan lebih parah.

Windy dianggap ‘cah bodoh’ [Image source]
Karena sering mendapat ejekan itulah yang menambah kuat tekad Windy untuk tidak melanjutkan pendidikan SD nya. Menurut postingan Fauzan Mukrim, Hingga saat ini, sudah ada 3 desainer ternama yang mengajak Windy berkolaborasi, termasuk timses parpol juga ada.

Dari kisah Windy, kita bisa belajar bahwa tidak boleh merendahkan orang, karena boleh jadi ia memiliki karya yang luar biasa bagusnya. Semoga dengan apresiasi yang terus berdatangan bisa membuat Windy bisa mewujudkan mimpinya untuk menjadi desainer ternama yang karyanya mendunia.