Adanya media sosial ternyata ibarat koin yang memiliki dua sisi. Satu sisi memberikan manfaat dengan akses informasi dengan luar biasa, namun juga sebaliknya membuat orang-orangnya jadi kecanduan. Medsos saat ini memang tidak bisa lagi dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari, pasalnya hampir semua orang memilikinya.
Masih soal pengguna media sosial, kalau dilihat secara cermat, kecanduan yang terjadi ini benar-benar menakutkan. Seolah jika tidak update dalam satu menit saja rasanya tersiksa luar biasa. Keadaan seperti itu nampaknya hampir mirip dengan bangsa Bonga. Lalu apa itu bangsa Bonga dan bagaimana bisa seperti itu? Simak ulasan berikut.
Keganjilan yang dilakukan bangsa Bonga
Memang sejatinya setiap suku yang ada di dunia ini memang memiliki perilaku uniknya sendiri. Begitu pula yang ada di bangsa Bonga ini. Ya, orang-orang yang mendiami daerah di sekitar Kepulauan Blest dalam karya Umberto Eco ini mempunyai sebuah perilaku unik.
Apa yang dilakukan bangsa Bonga membentuk mindset pengguna akut sosmed
Keganjilan dari apa yang dilakukan oleh bangsa Bonga ini membuat sebuah pemikiran aneh dalam diri mereka. Jadilah orang-orang ini selalu memiliki kecanduan khusus dengan menamai atau menuliskan segala hal yang ada di sekitarnya.
Kecanduan Instastory dan perilaku bangsa Bonga
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, bangsa Bonga suka sekali, bahkan wajib menuliskan atau menamai segala hal yang dilakukan. Sadar atau tidak, bukankah hal itu merupakan cerminan dari keadaan sekarang ini. Para pengguna media sosial zaman sekarang, terutama instagram seolah wajib untuk melakukan update pada instastory-nya.
Perilaku yang mirip bangsa Bonga ini bersifat adiktif
Dari sebuah kebiasaan, update di dunia sosial tiba-tiba berubah menjadi candu. Ya rasanya kebiasaan ini memang tidak bisa dihilangkan pada anak muda zaman sekarang. Bukan hanya update mengenai diri sendiri, namun melihat instastory milik orang lain pun seolah tidak bisa dihilangkan.
Memang untuk update di media sosial adalah hal yang wajar namun jangan sampai kelewatan. Ingat kalau kita hidup di dunia nyata dan membutuhkan komunikasi secara langsung. Belum lagi dengan menunjukkan masalah privasi pada orang lain bisa berbalik jadi petaka bukan? Misalnya saja ada yang mau berniat jahat. Oleh sebab itu penting menjadi bijak menggunakan media sosial.