Tragedi penyerangan yang menewaskan banyak jiwa membuat kebanyakan orang ingin bersatu dan mengekspresikan solidaritas dan kepedulian kepada para korbannya. Karena bagaimanapun juga, pembunuhan bukanlah hal yang dapat dibenarkan.
Meski begitu, ada juga beberapa pihak yang justru memanfaatkan tragedi yang terjadi dengan menyebarkan kebohongan yang justru berpotensi merusak ketenangan. Berikut ini kebohongan yang tersebar di dunia maya setelah terjadinya penyerangan oleh teroris beberapa waktu terakhir ini.
1. Umat Muslim di UK Merayakan Penyerangan Paris
Setelah terjadinya penyerangan yang terjadi di Paris pada 13 November 2015 lalu, sebuah video yang menyebutkan tentang umat muslim UK merayakan penyerangan Paris tersebar di sosial media. Kenyataannya, video tersebut sebenarnya adalah perayaan kemenangan Pakistan dalam pertandingan kriket tahun 2009.
https://www.youtube.com/watch?v=xKdhVfR2iLw&feature=youtu.be
Video tersebut sebenarnya dengan gamblang menunjukkan bendera Pakistan dan orang-orang di dalamnya meneriakkan kata Pakistan. Namun hal ini tidak menghentikan orang yang tidak bertanggung jawab untuk menggunakan video tersebut sebagai bukti bahwa umat muslim adalah orang yang ganas.
2. Media Tidak Peduli dengan Seorang Muslim Pemberani yang Menghentikan Seorang Pengebom
Cerita tentang seorang sekuriti Muslim bernama Zouheir yang menghalangi seorang bom bunuh diri di Stade de France juga beredar pasca penyerangan di Perancis. Karena sekuriti tersebut muslim, maka media menolak melaporkannya.
3. Jepang Tidak Pernah Diserang Karena Mengontrol Terhadap Muslim
Setelah terjadinya penyerangan di Paris, muncul catatan yang beredar luas bahwa Jepang mengontrol umat muslim di sana sehingga tidak pernah terjadi serangan terorisme. Menurut teks tersebut, Jepang menolak memberikan ijin tinggal pada Muslim, melarang impor Quran dalam bahasa Arab, tidak punya duta besar di negara Islam, penyebaran Islam dilarang, dan muslim dilarang menyewa rumah.
Muslim bisa menyewa properti, dan Jepang punya kedutaan besar di Afganistan, Bahrain, Iran, Irak, Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Saudi Arabia, Siria, Turki, Arab Saudi, dan Yaman. Bahkan ada juga kelas Bahasa Arab yang ditawarkan di Tokyo. Jepang memiliki angka terorisme yang rendah karena negara tersebut sejak awal memang memiliki tingkat kejahatan yang rendah, tidak ada hubungannya dengan Muslim.
4. Media Tidak Peduli dengan Pengeboman Beirut
Selang beberapa jam sebelum terjadinya pengeboman di Paris, dua bom bunuh diri meledak di Beirut dan menewaskan 43 orang. Dengan banyaknya simpati yang mengalir untuk Paris, di sosial media beredar pertanyaan kenapa tidak ada simpati dan pemberitaan yang serupa untuk tragedi pengeboman di Beirut.
5. Penyerang di Paris Adalah Pengungsi Siria
Setelah terjadinya serangan paris, ditemukannya paspor pengungsi Siria mengejutkan seluruh Eropa. Gara-gara hal ini, Polandia menarik tawaran rumah untuk 7 ribu pengungsi Siria dan Gubernur di Amerika mengatakan mereka tidak akan pernah menerima warga Siria.
6. UK dan Perancis Memiliki Daftar Kota yang Tidak Boleh Dikunjungi Oleh Non-Muslim
Setelah penyerangan Charlie Hebdo, Fox News menghadirkan dialog dengan seorang “ahli teroris” Steve Emerson. Dalam dialog tersebut, Steve Emerson mengatakan bahwa UK dan Prancis memiliki beberapa kota yang menerapkan hukum sharia dan non Muslim tidak bisa ke sana.
7. Kontrol Peredaran Senjata Penyebab Serangan di Paris
Entah orang macam apa yang menggunakan hal tragis semacam serangan di Paris untuk mendongkrak kampanye presiden, namun hal inilah yang dilakukan Donald Trump. Hanya berselang beberapa hari setelah penyerangan, ia berpidato dan menyalahkan tragedi tersebut karena undang-undang kontrol peredaran senjata.
8. Penembakan di Norwegia Tahun 2011 Dilakukan oleh Muslim
22 Juli 2011, Anders Breivik yang menganut supremasi kulit putih meledakkan bom di Oslo dan menembaki orang-orang di pulau Utoya. Kejadian tersebut menewaskan 77 orang yang mayoritas anak muda dan merupakan aksi terorisme terburuk di Eropa sebelum terjadinya penyerangan di Paris.
Setelah fakta terungkap bahwa sebenarnya penyerangan ini tidak ada hubungannya dengan Islam, maka Washington Post kemudian menerbitkan artikel baru untuk mengoreksi berita sebelumnya dan meminta maaf atas tuduhannya.
Terjadinya sebuah tragedi seperti ini tentu membuat setiap orang merasa sedih sekaligus ngeri. Meski begitu seharusnya masyarakat tetap bersikap positif dan menghindari perbuatan yang bersifat provokasi apalagi sampai menyebarkan kebohongan. Hal seperti ini justru menimbulkan perpecahan dan tidak akan bisa menyelesaikan masalah.