in

Mengenal Tradisi Tidur di ‘Kasur Pasir’ Sumenep yang Dipercaya Bisa Memperpanjang Umur

Tak hanya sate dan keindahan alam saja yang disajikan oleh pulau penghasil garam ini. Di salah satu sudut Madura, tepatnya Sumenep, masyarakatnya punya kebiasaan unik yang sudah menjadi tradisi turun temurun dari nenek moyang mereka. Tepatnya di Desa Legung Timur Kecamatan Batang-Batang Kabupaten Sumenep serta dua desa lain, Legung Barat dan desa Dapenda.

Setiap rumah memiliki pasir tempat mereka tidur dan bersantai bersama keluarga. Apakah mereka tidak punya uang untuk membeli kasur? Tidak. Kebiasaan ini diyakini mereka memiliki manfaat tersendiri untuk kesehatan. Nah, daripada penasaran, yuk baca lebih lengkap dalam ulasan berikut.

Tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun

Desa Legung Sumenep [Sumber gambar]
Fenomena seperti ini bukanlah hal aneh lagi bagi masyarakat Sumenep. Kasur pasir menjadi hal wajib yang pasti ada di setiap rumah mereka, sekalipun orang kaya dan punya rumah mewah. Bahkan tak hanya dalam rumah, di halaman pun sering ditemukan kotak penuh pasir yang digunakan untuk bercengkrama dengan keluarga dan tetangga. Anak-anak Desa Legung juga kebanyakan lahir di atas pasir tersebut. Sedari kecil mereka sudah akrab bermain, tumbuh, dan dewasa di atas pasir-pasir tersebut, sehingga tak jarang sering disebut sebagai Manusia Pasir.

Pasir berguna sebagai kursi sekaligus meja

Kasur dari pasir [Sumber gambar]

Tidak hanya sebagai kasur saja, hamparan pasir ini juga bisa difungsikan sebagai kursi sekaligus meja. Rata-rata masyarakat kampung ini tidak memiliki kursi dan meja, mereka memanfaatkan pasir sebagai alternatifnya. Hamparan pasir tersebut akan diganti setiap 3 bulan sekali, apalagi untuk yang sering dipakai serta memiliki banyak anggota keluarga. Menurut para penduduk yang rata-rata berprofesi nelayan ini, dengan adanya pasir sebagai pengganti kursi dan meja, mereka lebih merasa nyaman dan tenang.

Pasir diambil dari Gunung Pasir  Pantai Lombang

Pasir diambil dari Pantai Lombang [Sumber gambar]
Pasir yang digunakan oleh para warga bukan sembarang pasir. Biasanya, mereka mengangkutnya dari Gunung Pasir di desa Legung Barat serta Pantai Lombang yang berupa pasir kristal, berwarna putih gading dan tidak lengket di badan sekalipun badan dalam keadaan basah. Pasir tersebut dibersihkan, lalu dijemur untuk menghilangkan lembab dan kandungan airnya.

Diyakini bisa menolak serangan guna-guna

Kamar berkasur pasir [Sumber gambar]
Saat manusia berbuat baik terhadap alam, maka alam juga akan membalasnya dengan hal serupa. Hal tersebut juga berlaku bagi masyarakat Desa Legung dan sekitarnya. Menurut penduduk setempat, dengan tidur-tiduran di pasir mereka bisa terhindar dari segala macam ilmu hitam, seperti guna-guna, santet, dan sejenisnya. Karena, saat seorang bersatu dengan bumi, tak akan ada hal jahat yang bisa menghampiri mereka.

Berkhasiat untuk kesehatan dan memperpanjang umur

Berkhasiat memperpanjang umur [Sumber gambar]
Pasir-pasir ini bukan seperti pasir kebanyakan yang sering kita temui di pantai, Saboom. Pasir di rumah masyarakat Legung bisa menyesuaikan dengan kondisi cuaca. Saat cuaca panas, pasirnya bisa berubah menjadi tempat rebahan yang sejuk dan nyaman, begitupun sebaliknya saat udara terasa sangat dingin. Dengan begitu, beristirahat di tumpukan pasir ini secara tidak langsung bisa menghilangkan pegal linu dan capek. Khasiat paling mujarab lain adalah bisa memperpanjang usia, apalagi kalau bukan karena jarangnya terserang penyakit.

Begitulah kehidupan masyarakat di Desa Legung yang menjadikan pasir sebagai teman kehidupan mereka. Hal tersebut berlaku untuk siapapun juga tanpa memandang strata sosial mereka. Ya, kalau sudah menjadi tradisi turun temurun pastinya memang punya tempat tersendiri dalam hidup suatu masyarakat. Apakah kamu juga punya sesuatu yang unik di tempatmu berada? Jika iya bisa share di kolom komentar ya Saboom!

Written by Ayu

Ayu Lestari, bergabung di Boombastis.com sejak 2017. Seorang ambivert yang jatuh cinta pada tulisan, karena menurutnya dalam menulis tak akan ada puisi yang sumbang dan akan membuat seseorang abadi dalam ingatan. Selain menulis, perempuan kelahiran Palembang ini juga gemar menyanyi, walaupun suaranya tak bisa disetarakan dengan Siti Nurhalizah. Bermimpi bisa melihat setiap pelosok indah Indonesia. Penyuka hujan, senja, puisi dan ungu.

Leave a Reply

Dulu Jadi Relationship Goals, Berkat 6 Foto Ini Wilona-Verrel Malah Dihujat Netizen

Hati-hati Tertipu! Kenali 5 Ciri-ciri dari Tahu yang Dicampur dengan Formalin