Nama Dandhy Dwi Laksono sempat jadi perbincangan beberapa waktu setelah film dokumenter karyanya yang berjudul Sexy Killer, dinilai sangat menghebohkan masyarakat. Kini, ia kembali jadi sorotan karena dikabarkan ditangkap oleh pihak kepolisian. Dilansir dari CNN Indonesia, Dandhy berstatus tersangka ujaran kebencian berdasarkan UU Nomor 8 tahun 2016 tentang ITE dan UU Nomor 1 tahun 1946 tentang hukum pidana.

Ia dikabarkan ditangkap polisi karena berbagai posting-an di akun Twitter miliknya terkait Papua. Sebagai Mantan jurnalis sekaligus pendiri rumah produksi Watchdoc, pria yang dikenal kritis dengan fenomena sosial itu kerap menghasilkan karya-karya jurnalistik berupa film dokumenter. Lewat hal tersebut, ia sukses mengguncang kesadaran masyarakat dan pemerintah, lewat produksi filmnya di bawah ini.

Sexy Killer yang menyentil korporasi tambang batu bara di Indonesia

Terbaru, film dokumenter berdurasi 1,5 jam yang bernama Sexy Killer berusaha mengungkap sisi lain dari korporasi pertambangan di Indonesia. Diceritakan, bagaimana industri batu bara berdampak pada kesehatan dan lingkungan warga, terutama nelayan dan petani. Sayang, penambangan dan pembangunan kerap berdampak bagi masyarakat di sekitarnya, tak banyak disoroti. Di sinilah Dandhy Laksono bersama Sexy Killer hadir mengungakap hal tersebut.

Asimetris yang menyuarakan kondisi hutan akibat pembukaan lahan sawit

Sejak awal, Asimetris berusaha membawa penontonnya untuk menyelami cerita yang membuka wawasan sekaligus mencerdaskan penontonnya. Kisah dimulai dari dampak yang dihasilka oleh industri perkebunan sawit sebagai penghasil devisa negara. Tak hanya tu, fenomena kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang ada, menjadi sebuah cerita pedih yang perlahan berusaha diungkap oleh Dandhy Laksono dan Indrajati, dalam sebuah dokumenter berdurasi 68 menit bernama Asimetris.

THE MAHUZEs yang menyoroti wilayah Papua dan konflik antara masyarakat adat dan program nasional

Bercerita tentang dinamika yang ada di Papua, THE MAHUZEs mencoba menyajikan narasi sosial yang nyata, dimana sebuah program nasional terkesan dipaksakan kepada masyarakat lokal, dengan dalih untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional dan global. Hal ini dibuktikan dengan adanya perluasan lahan untuk pertanian. Jelas, hal ini membuat orang-orang Mahuze menolak adanya intimidasi dari perusahaan yang melakukan perluasan lahan di tanah adat mereka.

Kala Benoa jadi suara hati masyarakat Bali tentang reklamasi Tanjung Benoa

Bersama Ucok Parta, Dandhy Laksono menyajikan keindahan panorama Teluk Benoa yang menyejukan mata. Bukan sebagai bahan promosi wisata, tetapi menjadikannya sarana untuk menyuarakan suara mereka yang tak terdengar, yakni penolakan soal reklamasi di wilayah Tanjung Benoa. Ya, ada banyak masyarakat di Bali yang tidak setuju dengan wacana tersebut. Kala Benoa pun menyajikan sebuah fakta apa adanya yang membuka mata dan hati kita.

Samin vs Semen yang memperlihatkan perjuangan kaum Samin melawan pabrik semen

Tayangan film dokumenter jurnalistik berjudul Samin Vs Semen di atas, menyoroti betapa masyarakat menolak keberadaan pabrik semen yang dilakukan oleh kaum Samin. Digarap oleh Dandhy Laksono bersama seorang fotografer asal Aceh, bernama Suparta Arz, bagaimana adat pengikut Sedulur Sikep menentang kegiatan penambangan karst di pegunungan Kendeng, karena menjadi sumber pengairan bagi pertanian produktif.

BACA JUGA: Dandhy Laksono, Sosok Di Balik Film Sexy Killers yang Sukses Bikin Hati Nurani Terguncang

Lewat karya-karya jurnalistiknya, seorang Dandhy Dwi Laksono mampu membuka mata dan hati kita tentang fenomena sosial yang tidak pernah disadari sebelumnya. Meski terkadang, ada pihak-pihak tertentu yang merasa terusik karena tidak bisa menerima kenyataan yang ada. Siapakah mereka? Tentu Sahabat Boombastis punya jawaban masing-masing.