Masih ingatkah anda dengan Sumanto? Orang yang dihukum selama lima tahun lantaran mencuri mayat dan memakan dagingnya. Sumanto percaya jika memakan daging manusia ia akan mendapatkan sebuah kesaktian hingga menjadi orang yang lebih kuat. Kasus kanibal yang dilakukan Sumanto sontak membuat publik gempar. Bahkan saking viralnya hingga dibuatkan film yang mengisahkan perjalan hidupnya.
Publik Indonesia menganggap kanibalisme adalah hal mengerikan. Bahkan mereka sangat percaya di dalam kebudayaan Indonesia, atau kebudayaan Nusantara tidak mungkin ada hal semacam ini. Kanibalisme hanya ada di suku-suku pelosok seperti Amazon. Sayangnya, dalam sejarah tercatat banyak sekali praktik kanibalisme di Nusantara. Beberapa di antaranya bahkan sempat menggegerkan dunia barat. Berikut sejarah kanibalisme di Indonesia!
1. Kisah Perjalanan Marcopolo dari Italia ke Sumatra (1292)
Saat perjalanan ke Sumatra, Marco Polo merasa kaget mendapati banyak warga yang memakan daging manusia. Bukannya takut, Marco Polo justru semakin penasaran hingga sampai ke Kerajaan Dagroian di daerah Pidie, Aceh. Masyarakat sana memiliki kebiasaan memakan saudaranya yang sedang sakit dengan maksud agar mereka tidak menderita terlalu lama. Mati tenang dengan cepat.
2. Kanibalisme Abad ke-12 yang Ditemukan Seorang Arkeolog (1935)
Seorang arkeolog bernama Friedrich Schnitger menemukan sebuah fakta mengerikan terkait suku kanibal di masa lalu. Ia menemukan sebuah reruntuhan candi di Padang Lawas, Sumatra Selatan yang dipercaya sebagai sisa kerajaan Poli pada abad ke-12 masehi. Schnitger menduga jika kerajaan ini berasal dari sekte yang bernama Bhairawa. Orang-orang dari sekte ini memuja dewa-dewa yang memiliki wujud seperti setan.
3. Kanibalisme Sebagai Hukuman Bagi Orang yang Bersalah (1844)
Masih dari Pulau Sumatra, kanibalisme ternyata juga terjadi di suku Batak kuno. Kala itu, membunuh dan memakan orang adalah sebuah simbol dari melaksanakan hukuman. Biasanya mereka akan menangkap orang sebagai tawanan perang. Jika orang ini tak mampu menebus dirinya sendiri maka ia akan dibunuh.
4. Kisah Perjalanan Ida Laura Reyer Pfeiffer yang Nyaris Dimangsa Suku Kanibal (1852)
Ida Laura adalah seorang pelancong dari Eropa yang penasaran dengan suku kanibal di Sumatra. Ia mengetahuinya dari sebuah pemberitaan koran hingga memutuskan hijrah jauh ke Sumatra. Akhirnya ia tiba di daerah dekat Toba dan meminta izin penguasa setempat untuk melakukan riset dan perjalanan. Awalnya Ida disuruh mengurungkan niatnya namun ia tetap melakukan perjalanan dan didampingi oleh pemandu yang merupakan sewaannya.
Dalam ceritanya, Ida mengatakan jika orang yang ditangkap akan diambil darahnya untuk diawetkan. Darah itu nantinya akan disantap dengan nasi. Selain darah daging juga akan dimasak dan dimakan bersama-sama dalam acara adat. Sungguh mengerikan!
5. Suku Korowai yang Mendiami Papua Melakukan Kanibalisme Untuk Hukuman (1970)
Suku Korowai adalah sebuah suku yang berada di Papua. Suku ini dipercaya masih kerap melakukan praktik kanibalisme hingga sekarang. Namun praktik ini tidak dilakukan setiap hari. Biasanya hanya pada mereka yang dianggap bersalah kepada suku. Orang yang bersalah ini akan dihukum mati dan dagingnya akan dimakan semua orang di dalam suku. Harapannya adalah agar ia yang dihukum dapat menembus semua kesalahannya.
6. Perjalanan Carl Bock Berjumpa Suku Kanibal di Kalimantan (1870-an)
Carl Bock adalah seorang penjelajah dari Norwegia yang terpukau melihat kebiasaan hidup salah satu suku di Kalimantan. Dahulu orang menyebutnya dengan Suku Dayak Tring. Orang-orang dari suku ini memiliki kebiasaan memakan orang hingga dibenci oleh suku-suku di sekitarnya. Bahkan Sultan yang menguasai kawan itu meminta Carl Bock untuk pulang dan tidak melanjutkan perjalanannya.
Lambat laun praktik kanibalisme di Indonesia semakin habis setelah Belanda melarangnya. Hingga pada akhirnya di abad ke-19 praktik mengerikan ini dianggap melanggar hukum. Di era modern seperti sekarang praktik kanibalisme mungkin sudah mulai hilang. Namun di beberapa tempat terutama di daerah pelosok, kanibalisme masih dianggap sesuatu yang sakral. Karena praktik ini dianggap sebagai perwujudan perpindahan energi kehidupan.
Semoga di Indonesia tidak ada lagi praktik mengerikan seperti ini!