Indonesia seolah menjadi contoh, bagaimana sebuah perbedaan bisa bersatu dalam kerukunan yang banyak dikagumi oleh negara lain. Meski akhir-akhir ini sering terjadi gesekan antar etnis, namun kebersamaan dalam keberagaman tersebut seolah masih tetap utuh terjaga. Tak pelak, hal tersebut seolah mengokohkan Pancasila sebagai pondasi negara ini.
Bicara soal kerukunan antar etnis, hal ini bisa ditemukan di kampung cina, Peunayong. Jika ditilik dari namanya, kampung ini terletak di Kota Serambi Mekkah atau Banda Aceh. Kerukunan yang terjalin selama ratusan tahun silam, banyak menyiratkan beragam hal, mulai dari perpaduan budaya, toleransi antar agama hingga, beragam kesenian yang unik. Untuk lebih jelasnya, simak ulasan berikut.
Asal muasal nama Peunayong
Nama Peunayong sendiri mempunyai makna yang sangat spesial. Berasal dari kalimat ” Peu Payong” yang mempunyai arti memayungi, melindungi dan mengayomi. Konon, nama ini diambil karena wilayah tersebut sering digunakan oleh Sultan Iskandar Muda memberikan perlindungan sekaligus jamuan bagi tamu kerajaan. Mereka yang berasal dari wilayah Tiongkok dan Eropa, merasa sanagt nyaman dan aman di tempat tersebut.
Toleransi yang terjalin ratusan tahun silam
Berdasarkan fakta sejarah yang ada, hubungan antara etnis Tionghoa dan masyarakat Aceh telah terjalin sejak abad ke-17 Masehi pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu, etnis Tionghoa yang datang dari Tiongkok tersebut, berprofesi sebagai pedagang musiman maupun permanen.
Kerukunan antar agama yang awet hingga kini
Meski Banda Aceh merupakan Provinsi yang dihuni mayoritas umat Muslim, syariat Islam yang diterapkan di bumi Serambi Mekkah tersebut, justru membuat nyaman komunitas non muslim lainnya merasa nyaman. Mereka bebas menjalankan aktivitas ibadahnya dengan tenang. Selain terjamin, Mereka juga berbaur dalam kehidupan sosial, tanpa turut campur dalam kegiatan spiritualnya.
Situs sejarah yang menjadi warisan budaya
Kampung pecinan Peunayong, juga disebut-sebut sebagai China Town-nya di kawasan Banda Aceh, serupa dengan China Town yang ada di berbagai negara dunia. Selain itu, Kota Tua ini juga merupakan warisan budaya yang didalamnya banyak menyimpan bangunan-bangunan bersejarah. Pasar tradisional, toko obat, toko kain hingga kedai kopi, merupakan bangunan lama yang menjadi saksi bisu hiruk pikuk Peunayong di masa lampau.
Peunayong yang jadi kampung wisata kuliner
Tak hanya latar belakang sejarahnya yang memukau, Kampung pecinan Peunayong juga dikenal sebagai destinasi wisata kuliner yang menwarkan banyak pengalamn seru didalamnya. Salah satunya adalah REX, sebuah pusat kuliner yang aktifitasnya senantiasa berdenyut setiap malam. Di kawasan yang telah ada sejak zaman penjajahan Belanda ini, wisatawan bisa berburu aneka kuliner unik dan lezat.
Tak salah jika menyebut Peunayong sebagai kampung pecinan yang menjadi contoh nyata kerukukunan hidup antar etnis lintas agama. Selain itu, nilai historis dari warisan peradaban di masa silam, seakan menjadi pelengkap bagi kampung yang juga merupakan tonggak kebangkitan bagi kesadaran untuk menghargai setiap perbedaan. Dari kampung ini pula, kita bisa belajar banyak. Bagaimana sebuah kebersamaan bisa berdiri tegak atas nama kemanusiaan tanpa melibatkan golongan dan kepercayaan masing-masing.