Pernahkah terbesit di pikiran kalian pertanyaan seperti ini, “pemain-pemain sinetron jadul, bagaimana ya kabarnya sekarang?” Jika iya, maka dapat dipastikan kalian termasuk orang-orang yang gagal move on. Namun tenang saja, gagal move on bukan berarti sebuah hal yang buruk kok.
Buktinya saja, Boombastis.com mau mengobati ‘penyakit’ kalian itu dengan bernostalgia bersama. Masih ingat dengan Eva Arnaz? Sosok yang selalu muncul dalam sinetron Warkop DKI, kini telah banyak berubah. Kalian akan berdecak kagum dibuatnya!
Sepak Terjang di Dunia Hiburan Tanah Air
Boombers sekalian pasti pertama kali mengenal seorang Eva Arnaz dari sinetron Warkop DKI. Padahal, jauh sebelum itu ia sudah terjun ke dalam dunia hiburan tanah air. Memulai karirnya menjadi None Jakarta pada tahun 1976 yang sekaligus ternyata menjadi pintu untuk Eva lebih dikenal lagi.
Berkat Pamer Dada, Telah Menikah Sampai 4 Kali
Ketotalannya dalam melakukan adegan di berbagai film dewasa mungkin menarik perhatian para pria terhadapnya. Buktinya saja, tercatat hingga saat ini Eva telah menikah sebanyak 4 kali. Namun, dengan suami terakhirnya tidak berjalan mulus.
Berhijrah Hingga Ganti Nama
Sesaat setelah kehilangan suaminya, Eva pun bertandang ke tanah suci. Di sanalah semua pergolakan ini dimulai. Ia pulang ke tanah air dengan hati mantap berhijrah. Eva pun harus rela kehilangan namanya yang unik menjadi Siti Syarifah.
Dulu Sering Diajak Tidur Para Pejabat, Kini Menjadi Penjual Lontong Sayur
Selain karena bagian tubuhnya yang banyak disorot ketika masih menjadi aktris, ia juga sering mendapat tawaran untuk ‘tidur bersama’ dengan para pejabat, pengacara, maupun sutradara. Namun, mengingat ia telah memiliki keluarga saat itu, ia menolak dengan cara bertanya “wani piro?”
Kisah dari Eva Arnaz alias Siti Syarifah di atas membuat kita sadar bahwa keterpurukan akan berubah menjadi sesuatu yang indah seiring dengan berjalannya waktu. Apa yang Eva lakukan pun tak lepas dari bantuan Yang Maha Kuasa. Bagaimanapun, kita sebagai penikmat dunia hiburan pun harusnya sadar bahwa popularitas itu bukan sesuatu yang abadi dan tidak segala-galanya bisa didapat dengan eksistensi di layar kaca.