Bicara tentang dunia perfilman tanah air, pasti tak lepas dari balutan aktor Reza Rahadian atau Dian Sastrowardoyo. Kita tak pernah tahu siapa yang bekerja di balik layar, mengatur jalannya film serta para pemerannya, sehingga menjadi sebuah bungkusan yang dapat kita nikmati sambil nyemil gorengan. Menyebut kata sutradara, pasti Sahabat Boombastis (Saboom) hanya tahu soal Hanung Bramantyo.
Padahal, jauh sebelum Hanung bercita-cita menjadi seorang sutradara, sudah ada sosok yang membuat dunia perfilman Indonesia dilirik para pecinta sinema dari seluruh dunia. Ya, sosok tersebut bernama Usmar Ismail yang hari ini tengah merayakan ulang tahun ke-97-nya. Lewat ulasan berikut, Boombastis.com akan mengungkap 5 jasa seorang Usmar Ismail bagi dunia perfilman tanah air.
Mencoba berbagai macam profesi, dari TNI hingga wartawan
Salah satu faktor kenapa Usmar Ismail bisa melanglang buana dan membuat karya dalam bentuk film ketika Indonesia sedang melalui masa-masa sulit adalah, ia merupakan seorang pelajar yang cerdas. Sedari kecil, ia sudah menempuh pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS)—atau lebih dikenal sebagai sekolah pada zaman penjajahan Belanda. Ia pun lalu melanjutkan pendidikannya di The University of California, Los Angeles, mengambil major sinematografi.
Mendirikan Klub Sandiwara Penggemar Maya yang jadi awal mula ketertarikan masyarakat akan film
Tak puas dengan hanya menjadi TNI, anggota DPRGR/MPRS, maupun wartawan, Usmar Ismail pun terjun ke dalam dunia seni. Ketika masa pendudukan Jepang, ia bergabung dan ikut andil ke Pusat Kebudayaan. Di sana, ia bertemu dengan seniman-seniman lain seperti, El Hakim, Rosihan Anwar, Cornel Simanjuntak, serta H.B. Jassin.
Telah membuat lebih dari 30 judul film
Jika kalian pernah mendengar Film Tiga Dara atau Lewat Djam Malam, dapat dipastikan kalian kenal dengan sosok Umar Ismail. Dua film tersebut selalu jadi buruan remaja tahun ‘60an ketika ditayangkan di TVRI. Meskipun masih tayang dalam format hitam putih, film-film besutan Usmar Ismail tak pernah mengecewakan penontonnya.
Tayangnya Film Darah dan Doa sebagai tonggak perfilman Indonesia
Pada tahun 1950, Film Darah dan Doa selesai digarap dan ditayangkan kepada publik sebagai film Indonesia pertama setelah tanah air merdeka. Film ini menceritakan tentang seorang TNI yang diperintahkan untuk pindah tugas, dari Yogyakarta ke Jawa Barat. Tokoh utamanya yang juga TNI ini ternyata terlibat cinta dengan seorang gadis Jerman di pengungsiannya.
https://www.youtube.com/watch?v=AGQCcjWvJDE
Film Darah dan Doa tercatat mulai syuting pada tanggal 30 Maret 1950, yang lalu ditetapkan menjadi Hari Film Nasional dalam masa Pemerintahan Presiden BJ Habibie. Usmar Ismail pun diberi gelar sebagai Bapak Film Nasional berkat hal tersebut. Setelah itu, lewat Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) Usmar Ismail mulai produktif dan membuat karya-karya berkualitas untuk disuguhkan pada masyarakat tanah air. Jangan-jangan, Film Dilan 1990 dan Ada Apa Dengan Cinta? terinspirasi dari karya-karya Usmar Ismail, lagi, Saboom.
Membuka jalan ke ajang Festival Film Internasional lewat karyanya yang berjudul Pedjuang
Seperti yang kita tahu, banyak film-film karya sineas Indonesia zaman now yang sudah go internasional. Seperti halnya Dilan 1990 atau Istirahatlah Kata-Kata yang digilai oleh banyak negara di dunia, Film Pedjuang karya Usmar Ismail pada tahun 1960 ini menjadi film pertama Indonesia yang go internasional.
Tak disangka-sangka, ya, meski sosoknya sudah tiada, karyanya masih tetap hidup di antara masyarakat Indonesia. Sebagai kado alias penghargaan terbesar untuk Usmar Ismail, baiknya kita mulai mencintai film-film Indonesia dengan berangkat ke bioskop dan menikmatinya. Jangan hanya menunggu film tersebut tayang di televisi, Saboom! Sekali lagi, selamat ulang tahun ke-97 untuk Usmar Ismail. Jaya selalu perfilman Indonesia!