Selama ini, sebagai Warga Negara Indonesia yang baik, kita telah didoktrin bahwasanya pahlawan yang kita hormati dan ingat jasa-jasanya itu hanyalah mereka dari kalangan militer dan politik. Padahal, jika menelisik lebih jauh, banyak sekali orang-orang dengan profesi pendidik, pengarang, hingga musikus yang bisa disebut pahlawan Indonesia atas jasa-jasa mereka. Seperti sosok yang telah meninggal 30 tahun yang lalu ini.
Ya, ia adalah Soedjarwoto Soemarsono alias Gombloh. Mempersatukan rakyat Indonesia lewat lagu-lagunya yang nasionalis abis, kini riwayatnya tak pernah dikenang bahkan diingat oleh banyak orang. Maka dari itu, selagi memperingati hari berpulangnya, Boombastis.com akan mengungkap jasa-jasa beliau untuk tanah air, terutama belantara musiknya.
Sebelum Iwan Fals, Efek Rumah Kaca, serta Slank membuat karya dengan menyisipkan kritik mereka pada pemerintah, Gombloh sudah terlebih dahulu melakukannya. Lewat lagu Apa Itu Tidak Edan, Berita Cuaca, serta Jawabannya Ada di Timor Timur, Gombloh mencurahkan isi hatinya tentang Indonesia dari pengamatan lekatnya.
Selain kritik, Gombloh pun memberikan bumbu-bumbu nasionalisme yang kuat pada setiap lagunya. Kita pun mengenal sosoknya dari lagu Kebyar-kebyar yang tidak pernah absen diputar ketika 17-an tiba. Selain Kebyar-kebyar, Berkibarlah Bendera Negeriku dan Kami Anak Negeri Ini juga menjadi favorit para anak muda kala itu.
Kecintaannya terhadap musik memang tak tanggung-tanggung. Buktinya saja ketika sudah berstatus sebagai mahasiswa jurusan Arsitektur, Institut Teknologi Sepuluh November, Gombloh menyerah pada semester dua dan lebih memilih untuk fokus dalam bermusik. Dilansir dari majalah Aktuil (dalam tirto.id), ternyata Gombloh memiliki sebuah ide cemerlang untuk dunia musik Indonesia.
Selain lagu yang mengandung kritik serta jiwa nasionalisme yang kuat, rupanya musisi kelahiran Jombang, 14 Juli 1948 ini memiliki hati yang lembut. Buktinya saja ia juga lihai menulis lagu cinta yang jadi favorit banyak pasangan remaja. Contohnya, lagu Apel (dibaca seperti mengeja ngepel, bukan apel buah), yang lebih dikenal dengan judul di Radio.
Hingga sekarang, lagu tersebut masih sering didendangkan dengan sudah lebih dari 10 kali dibawakan ulang oleh band lokal seperti Lyla dan grup musik besutan MLDJAZZPROJECT. Rasanya lagu-lagu zaman old ini memang tak lekang oleh waktu ya, berbeda dengan lagu kekinian yang hanya bisa keren jika dinyanyikan oleh penyanyi aslinya.
Tak hanya Chairil Anwar yang mampu menciptakan frase legendaris “aku ini binatang jalang” atau Aan Mansyur dengan “kebodohan dan keinginanku untuk memilikimu sekali lagi,” Gombloh pun memiliki sebuah frase yang melekat di hati. Hal tersebut adalah “kalau cinta melekat, tai kucing rasa cokelat.”
Meskipun masih ada segelintir orang yang mengingat Gombloh sebagai musisi legendaris tanah air, lebih banyak pula mereka yang sudah melupakannya atau bahkan tidak mengenal sosoknya sama sekali. Lewat ulasan di atas, penulis berharap lebih banyak lagi orang yang terus mengapresiasi musik Indonesia dan mengenang mereka yang meski sudah tiada, karya-karyanya tetap hidup di antara kita semua. Rest in peace, Gombloh.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…