Entah mengapa sepertinya kita begitu mudah melihat sisi negatif seseorang dan ‘tidak sengaja’ melupakan jasa yang telah diperbuat orang tersebut. Entah karena persaingan yang negatif atau karena kepentingan tertentu, pandangan kita terkaburkan dan hanya melihat apa yang tidak kita sukai dan bukannya prestasi apa yang sudah dia perbuat dan apa yang bisa dilakukan agar setidaknya bisa menyamainya atau bahkan lebih baik darinya.
Dahlan Iskan termasuk sosok yang banyak disoroti dan dikritik sejak ia ditunjuk menjadi Dirut PLN hingga Menteri BUMN. Banyak orang yang tertarik dengan terobosan dan tata caranya yang nyeleneh, tapi tidak sedikit pula yang meragukan kemampuannya dan terang-terangan menolaknya. Penolakan ini muncul dikarenakan Dahlan Iskan dianggap awam dalam hal kelistrikan dan kekhawatiran akan terjadinya konflik kepentingan karena ia memiliki bisnis pembangkit listrik di Kalimantan Timur. Mungkin ketakutan yang wajar karena didasari oleh rasa lelah dan muak atas banyaknya kasus korupsi di Indonesia.
Kalaupun kepercayaan masyarakat kepadanya berkurang atau bahkan memang meragukan dirinya sejak awal, rakyat Indonesia tidak boleh melupakan jasa-jasanya dalam usaha memajukan Indonesia. Karena sebagai warga negara Indonesia, setidaknya ia telah berusaha.
Dipilihnya Dahlan Iskan menjadi Dirut PLN menimbulkan berbagai polemik. Sebelum resmi dilantik saja, Serikat Pekerja PLN sudah menyatakan penolakannya. Padahal belum juga Dahlan Iskan mulai memimpin atau menunjukkan kemampuannya, protes sudah bermunculan seolah-olah ia tidak akan mampu memimpin PLN.
Dahlan mewajibkan seluruh direksi anak perusahaan kepala divisi, dan general manager di semua wilayah distribusi dan Unit Pelaksana Proyek untuk secepatnya melaporkan kekayaan ke KPK. Ia juga menegaskan bahwa BPK sebagai badan auditor negara dapat mengakses langsung secara online seluruh transaksi keuangan PLN kapan saja.
Semua ini dilakukannya di bulan Januari 2010, hanya beberapa minggu setelah ia dilantik pada 23 Desember 2009. Kalau kita mau berpikir terbuka dan positif, bukankah keterbukaan yang dilakukan ini merupakan itikad baik untuk menciptakan PLN yang bersih, jujur, dan bebas korupsi?
Kondisi infrastruktur yang bermasalah membuat rakyat Indonesia mengalami krisis listrik. Pemadaman bergilir seperti sudah menjadi hal yang umum terjadi bagi rakyat Indonesia selama bertahun-tahun karena berbagai konsep strategis dan usaha untuk menyelesaikan masalah byar pet ini juga belum membuahkan hasil.
Namun hanya dalam 6 bulan, tepatnya pada Juli 2010, upaya mengatasi pemadaman bergilir telah berhasil di hampir seluruh provinsi di Indonesia. 6 bulan lebih cepat dari jangka waktu yang direncanakan. Dahlan Iskan memberi waktu untuk melakukan pemadaman tidak lebih dari tiga jam dan setelah itu listrik harus menyala lagi. Memang awalnya dianggap tidak realistis, tapi ternyata usahanya berhasil membuat pemadaman bergilir di wilayah Indonesia berkurang drastis.
Namun tentu saja, bukan langkah sederhana dan mudah untuk bisa mengatasi krisis listrik yang sudah lama terjadi di Indonesia. Tapi Dahlan Iskan mampu membuat seluruh jajaran direksi dan staf PLN untuk berinovasi dan berpikir out of the box untuk mengatasi permasalahan ini. Mulai dari mengembangkan instalasi PLTS SEHEN (Super Ekstra Hemat Energi), penyediaan perangkat solar cell dan tiga buah lampu LED di setiap rumah, serta pembangunan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) berukuran medium bagi pulau-pulau terpencil.
Bukan hanya masalah listrik di pulau Jawa saja yang perlu dibereskan dengan cepat, tapi juga daerah-daerah lainnya. Indonesia adalah negara yang begitu luas, meski begitu masih banyak daerah perbatasan atau pulau-pulau terluar yang tidak teraliri listrik. Maka untuk mengatasi hal ini, Dahlan Iskan merencanakan pembangunan PLTS.
Pulau-pulau tersebut kini sudah diterangi listrik yang berasal dari Tenaga Surya, dan selanjutnya Dahlan Iskan bertekad untuk melakukan pembangunan PLTS di 100 pulau pada tahun 2011. Targetnya, program ini akan mencapai target 1000 pulau di seluruh Indonesia dan diharapkan proyek ini selesai pada tahun 2014. Namun sayangnya, beliau sudah keburu dipanggil untuk menjadi menteri BUMN pada 17 Oktober 2011 padahal menurutnya saat itu PLN sedang pada puncak semangat untuk melakukan reformasi.
Jakarta sempat mengalami pemadaman listrik bergilir akibat kerusakan trafo yang terjadi. Dalam rentang delapan bulan, sudah terjadi empat kali kerusakan trafo pada gardu induk sehingga pasukan listrik menjadi berkurang. Apalagi Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) tersebut tidak memiliki trafo cadangan, padahal bebannya sudah sangat tinggi. Maka jika sewaktu-waktu mengalami kerusakan, bisa diprediksi akan terjadi pemadaman bergilir.
Meski begitu, pemeliharaan trafo termasuk salah satu beban terbesar PLN selama ini karena biayanya yang sangat besar. Agar tidak terlalu memakan banyak biaya, maka Dahlan Iskan mengubah cara pengadaannya yaitu dengan menenderkan barang-barang yang dibutuhkan saja. Tidak seperti sebelumnya yang menenderkan untuk satu gardu induk. Dengan cara ini, ternyata ia mampu menghemat pembelian trafo sebesar 37 miliar pada tahu 2010. Dengan penambahan sebagian trafo-trafo besar di Jakarta selesai, pasokan listrik tidak lagi kritis.
Salah satu hal yang juga menjadi masalah saat itu adalah sulitya proses penyambungan listrik. Ketika masalah pemadaman listrik berhasil diatasi, seorang karyawan mengusulkan padanya untuk mempermudah proses penyambungan. Usulan tersebut disambut baik dan ia meminta Sekertaris Perusahaan, Mardawa, dan Kepala Divisi Niaga Benny Marbun untuk mempersiapkan terobosan demi mempermudah penyambungan listrik.
Gerakan tersebut dilanjutkan dengan menyambung 1000 MW listrik di Jakarta dan sekitarnya untuk pelanggan bisnis dan industri. Kemudian pada 17 Juni 2011, gerakan tersebut dilanjutkan kembali dengan menghilangkan daftar tunggu antrian listrik 1,5 juta pelanggan sekaligus.
Gerakan ini tidak hanya menjawab keraguan pelanggan, tapi juga berdampak besar bagi karyawan PLN sehingga mereka kembali percaya diri setelah sekian lama dihujat gara-gara listrik sering padam dan masyarakat sulit melakukan penyambungan. Selain itu, langkah ini juga memotong jalan ribuan calo-calo yang memanfaatkan ketidaktahuan publik tentang kelistrikan.
Selama ini, PLN terjebak oleh biaya yang tinggi terutama karena besarnya energi yang dibangkitkan dengan bahan bakar minyak yang dulunya masih disubsidi pemerintah. Pemakaian minyak sendiri mencapai 30% dari total energi yang diproduksi, padahal jumlah kapasitas PLTD hanya 12% saja. Artinya, ada PLTG dan PLTGU yang salah konsumsi bahan bakar. Yang seharusnya menggunakan gas malah menggunakan minyak untuk operasinya karena sulitnya mendapatkan gas.
Dahlan Iskan pernah mengeluarkan larangan untuk terlibat dalam politik praktis bagi pegawai, pejabat, dan direksi di Kementrian BUMN. Larangan ini dibuat dengan tujuan untuk menjauhkan BUMN dari urusan dan kepentingan politik. Pasalnya, selama ini BUMN kerap dikaitkan sebagai penyandang dana bagi kepentingan politik.
Ketika Dahlan Iskan menjabat sebagai menteri BUMN, kinerja keuangan BUMN di bidang militer ternyata terus membaik. PT Dirgantara Indonesia berhasil mencapai rekor pesanan pesawat terbesar sepanjang sejarah yaitu dari pesanan senilai 2 triliun rupiah pada tahun 2011 menjadi 7,79 triliun pada tahun 2012 dengan nilai penjualan 2,69 triliun.
Sebelumnya, Indonesia yang merupakan negara tropis dan seharusnya bisa memproduksi beras yang cukup justru malah mengimpor beras dari luar negeri. Untuk itu, Dahlan Iskan mengambil langkah untuk bisa menguatkan bulog dengan semakin agresif dan menggunakan sistem jemput bola. “Pasukan semut” Bulog merayap ke desa-desa dan sawah-sawah di seluruh Indonesia untuk melakukan peninjauan.
Sebelum tahun 2012, pengadaan beras oleh Bulog hanya mampu menyediakan sekitar 2 jutaan beras. Namun pada pengadaan tahun 2012 berhasil menghasilkan 3,67 juta ton beras dan stok akhir mencapai 2,23 juta ton.
Di bawah kepemimpinanya, BUMN dinilai bersih dari korupsi. Pasalnya, sejak menjabat sebagai menteri ia sudah rajin mengambil langkah-langkah yang dibutuhkan untuk bersih-bersih lembaga tersebut. Menurutnya, pekerjaan bersih-bersih ini adalah pekerjaan raksasa karena bisa menyelesaikan seperlima kasus korupsi di Indonesia.
Tidak berhenti sampai di situ saja, ia juga tidak suka penggunaan fasilitas perusahaan oleh istri dari Dirut atau direksi BUMN. Maka ia akan memecat Dirut BUMN yang ketahuan memfasilitasi istrinya dengan mobil dinas perusahaan seperti yang terjadi pada Dirut Perum Jasa Tirta II, Eddy Adyawarman Djajadireja. Pemecatan ini dilakukan karena adanya fasilitas mobil dinas khusus untuk istri Eddy yang disediakan oleh kantor.
Untuk menciptakan BUMN yang bersih, Dahlan Iskan juga merumuskan sistem “Roadmap Menuju BUMN Bersih”. Dalam sistem ini, ia membentuk satu tim terdiri dari Eri Riyana yang dulu di KPK dan Jonan (Dirut KAI) dan 5 anggota lainnya. Tugas mereka adalah merumuskan secara rinci sistem tersebut.
Memahami jasa dan ambisi Dahlan Iskan paling tidak bisa memberikan kita harapan bahwa masih ada orang yang memiliki keinginan untuk mengubah Indonesia menjadi lebih baik. Kalaupun sekarang ada beberapa orang yang kehilangan kepercayaan gara-gara ia tersangkut kasus korupsi (meskipun penyidikan belum selesai dan statusnya sebagai tersangka telah digugurkan dalam sidang praperadilan), setidaknya kita tidak boleh lupa bahwa Dahlan Iskan juga pernah berjasa bagi Indonesia.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…