Bukan lagi rahasia kalau banyak bahasa Indonesia ini ternyata merupakan serapan dari luar. Misalkan sepur yang berarti kereta api yang ternyata punya arti sama dengan ‘spoor’ dalam bahasa Belanda. Hal itu sejatinya membuktikan kalau memang kosa kata bahasa kita ini kaya sekali. Bukan hanya dari bahasa daerah namun juga luar negeri.
Bicara soal serapan, siapa sangka beberapa waktu yang lalu ditemukan lagi padanan kata dengan bahasa asing. Namun sayang bukan kata benda atau sifat, melainkan kata umpatan yang sering digunakan di Indonesia. Lalu kata apa itu? Dan terinspirasi dari mana? Simak ulasan berikut.
Jarang orang mengenal, namun Jan Cox adalah nama seorang seniman di benua Eropa sana yang memiliki karya melegenda. Pria yang lahir di Den Haag 27 Agustus 1919 ini selalu punya ciri khas dalam setiap lukisannya. Jan melukis dengan banyak teknik, tapi menurut pengamat abstrak adalah gaya terbaiknya. Hal ini terbukti juga dengan lukisan-lukisan imajinernya yang lebih banyak dipamerkan .
Di lansir dari Grid.Id, pada masa penjajahan, tank milik musuh berjenis M3A3 Stuart sempat berlabuh di Indonesia. Namun siapa sangka di kendaraan perang tersebut bertuliskan nama Jan Cox. Entah itu lantaran si tentara penjajah ngefans atau apa, namun kata Jan Cox itu akhirnya digunakan sebagai sandi perang jika ada kendaraan tempur serupa yang mendekat.
Nama sang seniman yang memang mirip dengan sebuah umpatan itu membuat banyak orang berpikir kalau memang Jan Cox memang asal kata dari “J*ncuk” di Jawa. Padahal jangankan berkunjung ke Indonesia, bahkan karyanya pun orang-orang kita sangat jarang yang mengenalinya. Namun terlepas dari benar atau tidaknya info itu, kata J*ncuk sendiri bahkan memiliki pemahaman berbeda di masyarakat.
Usut punya usut, dilansir dari Wikipedia, ada beberapa asal-usul dari kata J*ncuk sendiri yang memiliki makna yang berbeda. Versi bahasa Arab mengatakan kalau istilah ini berasal dari kata Da’Suk yang berarti ‘Meninggalkan keburukan’. Sedangkan versi Belanda mengatakan kalau J*ncuk berasal dari kata ‘yantye ook’ yang berarti kamu juga namun diplesetkan untuk menghina para kompeni.
Tentu mesti dilakukan penelitihan lebih lanjut apakah benar kalau seniman bernama Jan Cox ini benar-benar menjadi awal mula dari umpatan dari bahasa Jawa. Terlepas dari benar tidaknya nanti, satu hal yang perlu diketahui adalah kadang sebuah kata bisa bermakna negatif di satu daerah namun positif di tempat lain. Lalu, bagaimana menurutmu soal ini?
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…