Aksi penembakan berdarah di Selandia Baru yang terjadi beberapa waktu lalu, ternyata tak lepas dari ideologi rasis ala kulit putih yang dianut oleh sang pelaku, Brenton Tarrant. Untuk memuluskan tindakan keji tersebut, pria asal Australia itu menggunakan The Great Replacement Manifesto yang merupakan pemikiran kaum kanan kulit putih.

Dalam manifesto yang dikutip dari laman tirto.id menuliskan, isinya merupakan sebuah teori konspirasi yang dipercaya kaum kanan tentang berkurangnya populasi warga kulit putih Perancis dan Eropa secara sistematis akibat imigrasi massal, khususnya dari daerah Timur Tengah dan Afrika sub-Sahara. Tak hanya The Great Replacement, sejumlah ideologi ‘berbumbu’ rasisme di bawah ini juga tak kalah mematikannya.

Nazizme ala Adolf Hitler

Lewat karyanya yang berjudul “Mein Kampf” yang menjadi landasan politik sekaligus ideologi dari Third Reich (Nazi Jerman), Hitler sukses membuka babak awal PD II secara brutal denga serangkaian aksi kejam yang akan terus dikenang sejarah. Seperti yang ditulis laman bbc.com, ia menulis buku tersebut ketika berada di penjara. Isinya seputar pandangan Hitler tentang rasis dan anti-Semitisme.

Hitler dan Third Reich-nya yang mendominasi selama babak awal PD II [sumber gambar]
Bisa ditebak, kelanjutannya adalah program ‘permurnian Ras Arya’ yang begitu diagung-agungkan oleh Hitler. Di mana ada jutaan nyawa mereka yang dianggap non-aryan, dibabat habis tanpa sisa. Peristiwa yang akhirnya disebut sebagai Holocaust itu, dikemudian hari banyak diamini oleh beberapa penduduk dunia sebagai tragedi kemanusiaan yang memilukan di abad ke-20. Namun, banyak pula yang meragukan kejadian tersebut betul-betul ada. Tapi yang jelas, ideologi rasis ‘Aryan Supremacy‘ ala Hitler itu sangatlah berbahaya karena menyebarkan kebencian terhadap etnis tertentu.

Supremasi radikal kulit putih Ku Klux Klan

Sejak awal berdiri pada akhir tahun 1860-an, Ku Klux Klan telah mendeklarasikan kelompoknya sebagai penentang kulit berwarna, di mana sasarannya pada saat itu kebanyakan adalah warga Afro-Amerika yang berkulit hitam. Terlebih sejak kemenangan Donald Trump, kelompok ini tidak malu-malu lagi muncul di depan publik. Hingga kini, keberadaannya bsia dibilang antara ‘hidup dan mati’. Ditentang banyak orang, namun masih eksis dan dilanggengkan.

Anggota Ku Klux Klan yang seideologi dengan Neo-Nazi [sumber gambar]
Dilansir dari tirto.id, kelompok ini memiliki ideologi politik Neo-konfederasi, di mana para anggota di dalamnya sangat anti-komunisme, anti-Katolik, Anti-semit, dan Neo-Nazi. Menariknya, aryan supremacy yang sempat digaungkan oleh Hitler di abad 20 silam, ternyata ikut membentuk ideologi Ku Klux Klan. Kekuatan dari pemikiran inilah yang akhirnya membuahkan peristiwa seperti kebencian pada kaum kulit hitam, imigran asal Timur Tengah dan kaum Hispanik. Sejak dahulu, supremasi putih ala Ku Klux Klan inilah yang melanggengkan perbudakan dan memakan banyak korban. Utamanya dari orang-orang kulit hitam.

The Great Replacement ala Brenton Tarrant

Ideologi white supremacy lainnya datang dari seorang Brenton Tarrant, di mana pemikiran tersebut dijadikan sebagai ‘landasan pembenaran’ bagi dirinya untuk menembaki jamaah muslim di Selandia Baru beberapa waktu lalu. Laman tirto.id menuliskan, The Great Replacement merupakan sebuah teori konspirasi yang dipercaya oleh kaum kanan, di mana keberadaan orang kulit putih terancam eksistensinya karena adanya para pendatang (imigran).

The Great Repalcement yang menjadi landasan Brenton Tarrant [sumber gambar]
Hal inilah yang membuat Brenton ‘merasa perlu’ melakukan ‘pembersihan’ dengan cara menembaki jamaah masjid An-Noor dan Linwood yang notabene diisi oleh para imigran muslim. Bisa dibilang, inti dari pemikiran yang ada dalam The Great Replacement adalah kekhawatiran kaum kulit putih yang eksistensi merasa ‘terancam’ oleh pendatang di luar kelompok mereka. Tak hanya digunakan Tarrant, ideologi ini juga dipakai oleh sejumlah politikus seperti Geert Wilders (Belanda) dan kaum nasionalis kulit putih di Amerika Serikat. Intinya sama. Menolak imigran dan kulit berwarna mendominasi wilayah atau tanah mereka.

BACA JUGA: 5 Hal Inilah yang jadi Pemicu Kenapa Paham Radikal Terorisme Bisa Meracuni Pikiran

Rasisme atau perilaku rasial yang ada di beberapa belahan dunia, cenderung berlaku diskriminatif terhadap masyarakat lain yang tidak segolongan dengan para penganutnya. Bisa ditebak, kekerasan baik secara fisik maupun psikis, sering dilancarkan sebagai bentuk eksistensi kelompok dan merupakan ‘sinyal’ ancaman bagi kaum lainnya. Tentu saja, hal ini sangat merugikan dan bisa mengancam keberagaman dalam sebuah negara. Gimana menurutmu Sahabat Boombastis?