in

Mengenal Ryanggang, Hotel Bintang 6 Kebanggaan Korut tapi Disebut Mirip Penjara oleh Dunia

Korea Utara sampai saat ini masih menjadi negara yang menarik dikunjungi oleh sebagian orang. Melihat daerah yang dikuasai satu pemimpin berkekuasaan mutlak mungkin bisa jadi pengalaman yang berbeda. Apalagi dikatakan kalau banyak tempat wisata di sana yang sebenarnya tak kalah indah dengan milik negara lainnya.

Nah, salah satu yang tak boleh dilewatkan ketika berada di Korut adalah menginap di hotel bintang enamnya. Pasalnya, hotel ini disebut jadi kebanggaan dari Kim Jong Un dan paling indah di sana. Lalu benarkah apa yang digembar-gemborkan oleh peminpin agung Korut itu? Biar gak penasaran, simak ulasan di bawah ini.

Hotel bintang 6 Korut kesayangan Kim Jong Un

Umumnya ketika melacong di suatu negara tentu salah satu hal yang mesti dipikirkan adalah tempat menginap yang nyaman. Nah, Korea Utara ternyata juga memikirkan hal serupa untuk para tamu mancanegaranya. Oleh sebab itu, mereka menyiapkan Ryanggang sebagai hotel andalan bintang enam yang akan mengajak para penginap merasakan bermalam seperti warga Korea Utara.

Hotel milik Korut [sumber gambar]
Namun sayangnya, bukannya mendapatkan respon positif dari dunia, yang ada malah banyak komentar negatif dari para tamu yang pernah datang ke sana. Mereka menganggap hotel yang berada di Pyongyang ini erat dengan kamar-kamar ala Soviet zaman dulu yang sangat minim fasilitas untuk para tamu.

Kamar yang disebut mirip penjara

Satu hal yang jadi sorotan utama dari hotel ini adalah keadaan kamar yang dianggap tidak layak. Dilansir dari laman Kumparan, kamar yang disuguhkan untuk tamu itu ternyata lebih mirip disebut penjara. Kasur-kasur dan bantalnya dianggap sangat keras seperti kayu sehingga tidak nyaman untuk tidur. Kamar mandi pun oleh pengunjung dianggap tidak layak.

Tempat tidur mirip penjara [sumber gambar]

Ketika mereka ingin menyiram toilet, kakinya ikut basah karena ada air yang mengalir. Oleh sebab itu, bukan hal yang aneh kalau kebanyakan situs luar negeri memberikan tanda jempol bawah kepada hotel Ryanggang ini. Namun ada juga yang menganggapnya sebagai ciri khas keadaan di sana.

Masakan yang tidak menggugah selera

Hal yang paling dinanti ketika menginap di hotel adalah service makanan yang disediakan selalu istimewa. Mungkin hal itu juga yang membuat sebuah hotel dinilai lebih bagus daripada yang lainnya. Lantaran keadaan kamar Ryanggang yang buruk, apakah bisa tertolong oleh makanannya?

Sarapan di Korut [sumber gambar]
Ternyata tidak, alih-alih menyidakan makanan yang membuat para tamu betah yang ada malah bikin mereka tidak berselera. Dilansir dari laman Liputan6, sarapan yang disediakan dianggap amat sederhana dengan rasa yang biasa. Belum lagi semua disajikan di atas taplak yang kotor yang membuat makin buruk citranya. Alhasil komentar negatif pun harus diterima untuk service hotel ini.

Bagi sebagian orang hal ini adalah pegalaman

Namun uniknya, di balik banyaknya komentar negatif pada hotel Korut itu, rupanya ada yang menganggapnya hal yang berharga. Hal itu karena para turis ini sudah lama merasakan dunia barat yang maju dan modern. Sehingga merasakan bisa satu hari saja hidup seperti keadaan Soviet zaman dulu tentunya jadi hal yang berharga.

Keadaan hotel [sumber gambar]
Dengan segala keminiman fasilitas yang ada, mereka sama sekali tidak komplain dan tetap menikmati. Hotel Ryanggang tidak benar-benar buruk, para pelayannya bersikap ramah dan keadaan jalan yang sepi membuat beberapa orang nyaman. Bisa dibilang kalau semua tergantung pada sudut pandang masing-masing.

BACA JUGA: Dibanggakan Kim Jong Un, Inilah Air Koryo Si Maskapai Korut yang Malah Dipandang Remeh Dunia

Menjadi kebanggaan dari Kim Jong Un, tidak membuat hotel di Korea Utara itu kebal dari kritik. Pasalnya para tamunya adalam orang-orang dari luar negeri sehingga wajar mereka kaget melihat keadannya. Namun kembali lagi semua tergantung pada sudut pandang masing-masing.

 

Written by Arief Dian

Seng penting yakin.....

Matahari Tepat di Atas Kabah, Arah Kiblat Berubah?

4 Fakta Myanmar yang Pernah Belajar Politik ke Indonesia, Ingin Negaranya Mirip Orde Baru