in

Bergejolak Hingga Hari Ini, Siapa Sangka Bung Hatta Ternyata Pernah Menolak Papua Masuk NKRI

Papua sampai hari ini masih bergeliat panas, alasannya tentu karena eksistensi kelompok-kelompok bersenjata yang menginginkan daerah itu lepas. Belum lagi intervensi dari luar yang juga menghendaki hal serupa. Kalau berkaca dari sejarah, sebenarnya bisa saja Papua atau Irian Jaya ini tidak pernah jadi bagian Indonesia, seandainya gagasan Hatta dipertimbangkan.

Jadi, sewaktu sidang BPUPKI di mana para pembesar bangsa ini mengadakan pertemuan untuk membahas kemerdekaan, dirapatkan juga mengenai daerah-daerah mana saja yang akan jadi bagian Indonesia. Mayoritas peserta menghendaki Sabang sampai Merauke, namun Bung Hatta menolak Papua. Alasannya bisa dikatakan sangat masuk akal, walaupun ketika itu tak banyak yang mendukung dirinya.

Lalu apa kata Bung Hatta terkait Papua dan kenapa pendapatnya ditolak? Ketahui lewat ulasan menarik berikut.

Alasan Bung Hatta menolak Papua

Ada beberapa agenda dalam rapat BPUPKI, termasuk salah satunya adalah kesepakatan wilayah Indonesia ke depannya. Ketika itu hadirin rata-rata menginginkan agar wilayah Indonesia mencakup Sabang sampai Merauke di mana ini termasuk Papua juga. Namun hal ini kemudian ditolak oleh Bung Hatta.

Ilustrasi sidang BPUPKI [sumber gambar]
Alasannya tak lain karena ia menganggap wilayah Indonesia yang sudah merdeka hanyalah meliputi Hindia Benda saja, sedangkan Papua tidak termasuk. Papua sendiri menurut Bung Hatta secara etnis berbeda, sehingga memasukkannya ke dalam NKRI akan menimbulkan prasangka bagi negara-negara di luar.

Dalam sidang Bung Hatta berkata, “Jadi jikalau ini diterus-teruskan, mungkin kita tidak puas dengan Papua saja, tetapi Salomon masih juga kita minta dan begitu seterusnya sampai ke tengah laut Pasifik. Apa kita bisa mempertahankan daerah yang begitu luas?”

Daripada Papua, ia lebih menginginkan Malaya

Bung Hatta sendiri sempat berdebat dengan Yamin mengenai ini. Kepada sang Proklamator, Yamin mengatakan bahwa Papua secara historis adalah bagian dari Indonesia. Tak hanya menjelaskan dari sisi sejarah, ia juga mengacu kepada politik dan geopolitik. Namun Hatta tetap konsisten dengan pendapatnya. Ia mengatakan kalau sudah ada bukti yang sangat banyak baru dirinya akan menerima.

Bung Hatta lebih menginginkan Malaya [sumber gambar]

Alih-alih menarik Papua, Bung Hatta sendiri malah cenderung menyarankan agar bangsa ini mengikutkan Malaya dan Borneo bagian Utara yang kini menjadi Malaysia itu. Menurutnya, hal ini lebih masuk akal karena etnisnya masih begitu dekat yakni Melayu, seperti kebanyakan orang Indonesia.

Bung Hatta yang akhirnya kalah voting

Dengan alasan-alasan yang sebenarnya cukup masuk akal itu, apalagi kalau kita lihat di era sekarang, namun pada akhirnya dalam sidang tersebut Bung Hatta kalah suara. Mayoritas mendukung gagasan Bung Karno dan Yamin di mana wilayah Indonesia mencakup Sabang sampai Merauke.

Bung Hatta kalah voting [sumber gambar]
Entah kecewa atau marah, tapi yang jelas nampaknya Bung Hatta akan tetap konsisten dengan pendapatnya tersebut. Dalam sidang ini sebelumnya sang pendiri bangsa ini mengatakan, “Saya sendiri ingin mengatakan bahwa Papua sama sekali tidak saya pusingkan, bisa diserahkan kepada bangsa Papua sendiri. Bangsa Papua juga berhak menjadi bangsa merdeka.”

Bung Hatta konsisten soal Papua

Selepas sidang BPUPKI ini, sikap Bung Hatta nyatanya memang konsisten terkait Papua. Bahkan ketika ditanya oleh seorang Menteri Luar Negeri Belanda di tahun 1948, teman si Bung Besar ini keukeuh mengatakan Papua tidak termasuk bagian dari Indonesia. Sikap konsistennya juga terlihat ketika bangsa ini dihadapkan dengan Konferensi Meja Bundar.

Bung Hatta konsisten soal Papua [sumber gambar]
Sidang penting ini dipimpin oleh Bung Hatta sebagai perwakilan Indonesia. Hasil akhirnya sendiri adalah pengakuan kedaulatan, namun untuk Papua sendiri belum diputuskan ketika itu, padahal Pak Karno sendiri sudah berpesan. Bung Hatta akhirnya menunda penyelesaian untuk provinsi paling timur Indonesia ini. Fakta lain ketika itu adalah, pihak Belanda memang terlihat sangat ngotot ingin mempertahankan kekuasaannya di Papua.

Soal Papua di masa sekarang

Jika berkaca pada kejadian di atas kemudian direfleksikan dengan kondisi sekarang, agaknya perkataan Bung Hatta memang ada benarnya. Terbukti setelah bertahun-tahun pasca sidang penting BPUPKI itu, Papua bergejolak sekarang. Banyak gerakan separatis yang ingin melepaskan wilayah ini dari Indonesia, belum lagi sorotan dari luar terkait konflik di Papua.

Ilustrasi KKB di Papua [sumber gambar]
Seumpama Papua tidak jadi ikut Indonesia seperti kata Bung Hatta, mungkin hari ini negara takkan dipusingkan dengan segala konflik yang ada. Namun keputusan sudah dibuat, Papua sudah jadi bagian Indonesia dengan segala konsekuensinya. Tugas negara sekarang tentu adalah menjaga wilayahnya, serta memakmurkan orang-orangnya. Hentikan konflik dan berikan harapan pada provinsi tercinta ini.

BACA JUGA: Kisah Sangar Bung Hatta yang Pernah Semprot Orang Belanda di Negerinya Sendiri

Terlepas dari pendapatnya soal Papua, dari kejadian ini bisa kita katakan kalau sosok Bung Hatta memang figur revolusioner. Apa yang dipikirkannya begitu jauh ke depan. Tak heran kalau kemudian ia begitu dikagumi bahkan oleh orang-orang Belanda sekalipun. Salam hormat dari kami, Bung!

Written by Rizal

Hanya seorang lulusan IT yang nyasar ke dunia tulis menulis. Pengalamannya sudah tiga tahun sejak tulisan pertama dimuat di dunia jurnalisme online. Harapannya bisa membuat tulisan yang super kece, bisa diterima siapa pun, dan juga membawa influence yang baik.

Contact me on my Facebook account!

Leave a Reply

4 Celetukan Andre Taulany yang Bikin Publik Meradang, Mau Menghibur jadi Salah Paham

Modal Limbah Batok Kelapa dan Internet, Pemuda Ini Raup Rp292 Juta dari Luar Negeri