Categories: Trending

5 Mitos Terkait Gerhana Matahari Total yang Dipercaya oleh Sebagian Besar Masyarakat Indonesia

Tidak hanya di seluruh penjuru dunia saja, mitos mengenai alam dan sekitarnya juga ada dan dipercayai oleh banyak masyarakat Indonesia. Khususnya untuk fenomena gerhana matahari total, ada beberapa mitos tradisonal yang mungkin sampai sekarang masih dipercaya oleh orang-orang di daerah tertentu di Tanah Air.

Matahari total adalah fenomena luar angkasa yang terjadi karena sinar matahari tidak dapat menyentuh permukaan bumi seperti pada umumnya. Dikarenakan hal ini, maka sebagian wilayah di bumi akan mengalami kegelapan. Sayangnya, tidak semua negara di dunia dapat melihat peristiwa yang jarang terjadi ini dan Indonesia merupakan salah satu negara yang tepat untuk menyaksikan fenomena gerhana matahari total yang kabarnya akan terjadi pada tanggal 9 Maret 2016 mendatang itu.

Memang, fenomena alam seperti ini tidak hanya sekali saja terjadi karena selama berpuluh-puluh tahun juga pernah terjadi. Berbeda dengan zaman maju dan modern seperti sekarang, orang-orang zaman dahulu lebih mempercayai mitos jika gerhana matahari total terjadi. Berikut ini adalah mitos-mitos terkait gerhana matahari total yang beberapa di antaranya masih dipercaya oleh masyarakat Indonesia.

1. Matahari dimakan raksasa

Mitos yang beredar khususnya di Pulau Jawa ini mengatakan bahwa ketika terjadi gerhana matahari total, maka ada sosok raksasa bernama Batara Kala (Jawa), Rahu (Bali), Taluh (Kalimantan Tengah) atau juga Suanggi (Halmahera) dengan tubuh amat sangat besar mendekati matahari dan kemudian memakannya. Karena ulah raksasa inilah mengakibatkan bumi menjadi gelap gulita.

Matahari di makan raksasa [ image source ]

Saat terjadinya gerhana matahari total, tidak sedikit dari orang-orang di pedesaan yang akan membunyikan berbagai alat untuk dapat mengusir matahari. Walaupun aneh, namun tradisi pengusiran matahari seperti ini masih kerap dilakukan oleh masyarakat Indonesia di beberapa daerah di Tanah Air.

2. Wanita hamil dan anak-anak tidak boleh keluar rumah

Seiring dengan dimakannya matahari oleh Batara Kala, maka banyak pria yang harus berjaga-jaga di luar dan menyuruh anak-anak mereka untuk masuk ke dalam rumah. Tidak hanya anak-anak saja, wanita yang sedang hamil juga wajib untuk bersembunyi di dalam rumah untuk menghindari amuk dari sang raksasa.

Wanita hamil [ image saource]
Ternyata, tidak hanya di Pulau Jawa saja, mitos larangan bagi wanita hamil dan anak-anak keluar dari rumah saat gerhana matahari total terjadi juga berlaku di beberapa negara di dunia.

3. Larangan makan babi

Di Sulawesi Selatan, mitos terkait dengan terjadinya fenomena yang diperkirakan bakal kembali terjadi 40 tahun lagi ini adalah larangan untuk memakan daging babi. Akan ada sanksi adat yang tegas dan keras bagi siapa saja yang melanggarnya.

Daging babi [ image source ]

Orang-orang zaman dahulu di Sulawesi Selatan mempercayai bahwa dengan tidak memakan babi saat terjadinya gerhana matahari, maka dapat membuat langit kembali terang dan sinar matahari muncul lagi. Sayangnya tidak banyak informasi dan penjelasan mengenai mitos larangan makan babi tersebut.

4. Bersembunyi di bawah kasur atau meja

Lain halnya di Banten, ketika terjadi fenomena gerhana matahari total, maka anak-anak dan wanita hamil diwajibkan untuk bersembunyi di bawah tempat tidur atau juga meja agar melindungi cahaya jahat yang dapat membuat kulit anak menjadi belang-belang.

Bersembunyi di bawah kasur atau meja [ image source ]

Namun, semakin majunya teknologi dan peradaban, tradisi seperti ini sudah amat sangat jarang dilakukan atau bahkan ditemukan di seluruh penjuru Banten dan sekiranya.

5. Membunyikan petasan

Hampir sama seperti mitos yang ada di Pulau Jawa, Kalimantan Tengah, Halmahera dan Bali, masyarakat keturunan di Palembang juga mempercayai bahwa ketika gerhana matahari total terjadi, maka ada seekor naga raksasa sedang murka dan melahap matahari.

Membunyikan petasan [ image source ]

Dikarenakan hal ini, maka untuk dapat ‘menyelamatkan’ matahari dan mengusir sang naga, maka masyarakat harus menyalakan petasan atau juga membuat suasana menjadi gaduh. Bahkan, konon menurut cerita kuno masyarakat Tiongkok, saat fenomena ini berlangsung, maka prajurit harus menembakkan peluru meriam mereka langsung ke arah matahari.

Selain menjadi satu hal yang aneh namun juga unik, akan tetapi mitos-mitos tersebut yang sudah berumur puluhan tahun itu, sampai sekarang diperkirakan masih ada yang mempercayai sekaligus melakukannya.

Dikarenakan garis lintas yang sangat tepat ada di 12 provinsi di Tanah Air, maka menurut Menteri Pariwisata Arief Yahya, diperkirakan akan ada sekitar 5 juta wisatawan asing yang akan datang ke Indonesia untuk menyaksikan fenomena langka ini. Dan tentu saja hal itu adalah sumber devisa bagi negara.

Share
Published by
Diah

Recent Posts

Statemen Arra Bocah Viral Dianggap Menyinggung Pekerja Pabrik, Ortu Dikritik Netizen dan Psikolog

Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…

1 week ago

Profil Fedi Nuril, Sang Aktor yang Gencar Kritik Pemerintah dan Pejabat Publik

Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…

1 week ago

Kontroversi RUU TNI yang Mendapat Penolakan Masyarakat

Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…

2 weeks ago

Indonesia Airlines, Maskapai Indo tapi Memilih Berpusat di Singapura

Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…

2 weeks ago

Kasus Pencabulan oleh Kapolres Ngada, Akhirnya Pelaku Dimutasi

Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…

3 weeks ago

Terkuaknya Skandal Aktor Termahal Korea Selatan, Netizen: Hindari Pria Korea

Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…

3 weeks ago