Jenderal Gatot Subroto dan Soeharto [sumber gambar]
Kata-kata ‘monyet’ tengah menjadi sorotan di Indonesia saat ini. Apa lagi kalau bukan soal rasisme pada mahasiswa asal Papua, yang akhirnya berujung pada tindakan anarkis di Manokwari beberapa waktu lalu. Meski terdengar menyakitkan, kata ‘monyet’ rupanya telah lazim digunakan di dunia militer. Bahkan, orang sekelas Soeharto pun tak luput dari kata-kata monyet tersebut.
Dilansir dari tirto.id, Jenderal Gatot Subroto adalah sosok yang berani memanggil Soeharto dengan sebutan monyet kala keduanya masih aktif berdinas di kemiliteran. Soeharto sendiri tak merasa sakit hati dengan sebutan tersebut. Bukan tanpa alasan, panggilan monyet oleh Gatot Subroto pada bawahannya ternyata memiliki makna tersendiri.
Dikenal sebagai penguasa Orde Baru, Soeharto memang sangat disegani oleh siapa pun semasa menjadi Presiden RI ke-2. Meski demikian, ada satu orang yang berani pada dirinya dan bahkan pernah memanggil sebutan ‘monyet’. Ya, dia adalah Jenderal Gatot Subroto. Saat itu, baik Soeharto dan Gatot sama-sama masih aktif berdinas di kemiliteran. Keduanya pun merupakan serdadu bentukan tentara kolonial Hindia Belanda (KNIL), di mana panggilan dengan nama binatang adalah hal yang wajar.
Selain kalah senior dan pengalaman militer, Gatot juga merupakan sosok yang berjasa besar pada Soeharto. Menurut Robert Elson dalam Suharto: Sebuah Biografi Politik (2005: 150), yang dikutip dari tirto.id menyebutkan, Gatot Subroto ikut menyelamatkan karier Soeharto yang nyaris dikeluarkan dari Angkatan Darat karena terlibat kasus penyelundupan. Praktis, Gatot Subroto pun dikenal oleh anak-anak buahnya-termasuk Soeharto, dengan “Teguran keras ‘zeg monyet’ yang menjadi salamnya dalam setiap perjumpaan.
Mungkin, panggilan tersebut dianggap wajar dan biasa di dalam dunia militer yang serba keras dan disiplin, tapi tidak cocok jika diterapkan terhadap orang-orang sipil. Bukannya akrab, panggilan monyet tersebut cenderung bernada mengejek dan berpotensi menimbulkan kesalapahaman yang bisa berujung konflik. Tak perlu jauh-jauh, kasus kerusuhan mahasiswa di Jawa Timur dan masyarakat Manokwari adalah contoh yang nyata.
BACA JUGA: Benarkah Soeharto Pernah Ditampar Alex Kawilarang Karena Jadi Prajurit Nakal?
Sesuatu yang tidak diletakkan pada tempatnya, tentu akan memiliki dampak yang besar karena adanya ketidakcocokkan. Melihat kasus rasisme panggilan monyet terhadap mahasiswa Papua yang terjadi beberapa waktu lalu, memang amat sangat disayangkan. Hal inipun jadi bukti, bahwa celetukan yang dianggap biasa di dunia militer, nyatanya tidak bisa diterima oleh masyarakat sipil biasa. Jadi jangan coba-coba ya Sahabat Boombastis.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…