in

Mengenal Gatot Subroto, Jenderal TNI yang Pernah Panggil ‘Monyet’ Kepada Soeharto

Jenderal Gatot Subroto dan Soeharto [sumber gambar]

Kata-kata ‘monyet’ tengah menjadi sorotan di Indonesia saat ini. Apa lagi kalau bukan soal rasisme pada mahasiswa asal Papua, yang akhirnya berujung pada tindakan anarkis di Manokwari beberapa waktu lalu. Meski terdengar menyakitkan, kata ‘monyet’ rupanya telah lazim digunakan di dunia militer. Bahkan, orang sekelas Soeharto pun tak luput dari kata-kata monyet tersebut.

Dilansir dari tirto.id, Jenderal Gatot Subroto adalah sosok yang berani memanggil Soeharto dengan sebutan monyet kala keduanya masih aktif berdinas di kemiliteran. Soeharto sendiri tak merasa sakit hati dengan sebutan tersebut. Bukan tanpa alasan, panggilan monyet oleh Gatot Subroto pada bawahannya ternyata memiliki makna tersendiri.

Soeharto nurut dan manut meski dipanggil monyet

Dikenal sebagai penguasa Orde Baru, Soeharto memang sangat disegani oleh siapa pun semasa menjadi Presiden RI ke-2. Meski demikian, ada satu orang yang berani pada dirinya dan bahkan pernah memanggil sebutan ‘monyet’. Ya, dia adalah Jenderal Gatot Subroto. Saat itu, baik Soeharto dan Gatot sama-sama masih aktif berdinas di kemiliteran. Keduanya pun merupakan serdadu bentukan tentara kolonial Hindia Belanda (KNIL), di mana panggilan dengan nama binatang adalah hal yang wajar.

Jenderal Gatot Subroto dan Soeharto [sumber gambar]
Atmadji Sumarkidjo dalam TB Silalahi: Bercerita Tentang Pengalamannya (2008) yang dikutip dari tirto.id menyebutkan, Gatot Subroto pernah berteriak memanggil Soeharto ketika berada di pertempuran Palagan Ambarawa. “Hei monyet, mari ke puncak sini.” Mendengar sebutan ini, Soeharto tak ambil pusing ataupun marah pada Gatot. Secara usia dan pengalaman di dunia serdadu, ia kalah senior dengan atasannya tersebut. Pria yang kelak menjadi RI-2 itu pun manut dan nurut meski di panggil monyet.

Tanda bahwa dirinya menyukai bawahan

Selain kalah senior dan pengalaman militer, Gatot juga merupakan sosok yang berjasa besar pada Soeharto. Menurut Robert Elson dalam Suharto: Sebuah Biografi Politik (2005: 150), yang dikutip dari tirto.id menyebutkan, Gatot Subroto ikut menyelamatkan karier Soeharto yang nyaris dikeluarkan dari Angkatan Darat karena terlibat kasus penyelundupan. Praktis, Gatot Subroto pun dikenal oleh anak-anak buahnya-termasuk Soeharto, dengan “Teguran keras ‘zeg monyet’ yang menjadi salamnya dalam setiap perjumpaan.

Gatot Subroto dalam sebuah acara [sumber gambar]

Moh. Oemar dalam biografi Gatot Subroto, Jenderal Gatot Subroto (1976: 112) menuliskan, setiap orang juga mengerti bahwa teguran itu justru tanda terbukanya hati tokoh ini menerima kedatangan seseorang untuk berbicara maupun urusan yang lain,”. “Kalau beliau [Gatot Subroto] suka kepada seorang maka beliau panggil orang itu monyet,” aku mantan taruna revolusi Sayidiman Suryohadiprojo dalam Mengabdi Negara Sebagai Prajurit TNI: Sebuah Otobiografi (1997: 246), mengutip dari tirto.id.

Cocok di kemiliteran tapi tidak di ranah sipil

Mungkin, panggilan tersebut dianggap wajar dan biasa di dalam dunia militer yang serba keras dan disiplin, tapi tidak cocok jika diterapkan terhadap orang-orang sipil. Bukannya akrab, panggilan monyet tersebut cenderung bernada mengejek dan berpotensi menimbulkan kesalapahaman yang bisa berujung konflik. Tak perlu jauh-jauh, kasus kerusuhan mahasiswa di Jawa Timur dan masyarakat Manokwari adalah contoh yang nyata.

Salah satu demonstran asal Papua [sumber gambar]
Dikutip dari bbc.com, Pengunjuk rasa dalam protes di Manokwari, Papua Barat menyatakan alasan mereka turun ke jalan, aksi yang berakhir rusuh, karena antara lain pernyataan negatif, “Kami orang Papua dikatakan sebagai monyet.” Ya, sebutan hewan primata tersebut menjadi musabab turunnya massa ke jalan dan melakukan aksi protes. Buntut dari kejadian yang ada, sejumlah pejabat Jawa Timur, termasuk Gubernur Khofifah Indar Parawansa meminta maaf terkait insiden tersebut.

BACA JUGA: Benarkah Soeharto Pernah Ditampar Alex Kawilarang Karena Jadi Prajurit Nakal?

Sesuatu yang tidak diletakkan pada tempatnya, tentu akan memiliki dampak yang besar karena adanya ketidakcocokkan. Melihat kasus rasisme panggilan monyet terhadap mahasiswa Papua yang terjadi beberapa waktu lalu, memang amat sangat disayangkan. Hal inipun jadi bukti, bahwa celetukan yang dianggap biasa di dunia militer, nyatanya tidak bisa diterima oleh masyarakat sipil biasa. Jadi jangan coba-coba ya Sahabat Boombastis.

Written by Dany

Menyukai dunia teknologi dan fenomena kultur digital pada masyarakat modern. Seorang SEO enthusiast, mendalami dunia blogging dan digital marketing. Hobi di bidang desain grafis dan membaca buku.

Leave a Reply

Cerdas Bawaan, Inilah 5 Anak Jenius Asal Indonesia yang Pintarnya Lampaui Orang Dewasa

SCP Foundation, Organisasi yang Meneliti Makhluk ‘Aneh’ Agar Tak Mengganggu Manusia