in

Benarkah Gaji Dokter Kalah dengan Tukang Parkir? 5 Hal Ini Menjelaskan yang Sebenarnya

Benarkah gaji dari profesi elite seperti dokter kalah dengan tukang parkir? Pertanyaan semacam ini tiba-tiba menjadi topik pembicaraan hangat setelah muncul di pidato ‘Indonesia Menang’ Prabowo Subianto beberapa waktu lalu. Tak urung, pernyataan capres pasangan Sandiaga Uno itupun langsung direspon oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Memang, terdengar tak masuk akal dan bahkan sangat kontras jika membandingkan besaran gaji antara dokter dan tukang parkir. Meski demikian, kita tak bisa langsung saja mempercayai hal tersebut. Entah benar atau tidaknya masalah tersebut, ada baiknya jika kita melihat penjelasan di bawah berikut ini.

Berapa gaji tukang parkir di DKI Jakarta?

Ilustrasi tukang parkir [sumber gambar]
Pada pidatonya yang bertajuk ‘Indonesia Menang’, Prabowo dengan lantang menyebutkan bahwa gaji seorang dokter lebih rendah dari penghasilan juru parkir. Pidato yang akhirnya viral tersebut, mendapat beragam tanggapan dari masyarakat. Merujuk data UPT Perparkiran DKI Jakarta yang dikutip dari news.detik.com, ada sekitar 1.564 jukir yang terdata. Sebanyak 268 orang jukir di tempat parkir elektronik mendapat gaji UMP sebesar Rp 3.940.973 pada 2019. Sedangkan yang lain menerima gaji melalui sistem bagi hasil, tergantung wilayahnya.

Tanggapan Ikatan Dokter Indonesia (IDIP terhadap pernyataan Prabowo

IDI ikut angkat bicara mengenai pidato Prabowo [sumber gambar]

Jika tukang parkir menerima gaji standar UMP DKI Jakarta pada 2019 sebesar Rp 3.940.973, bagaimana dengan dokter? Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Dr Daeng M. Faqih pun buka suara mengenai hal ini. Laman cnnindonesia.com menuliskan, saat ini masih banyak dokter umum di berbagai daerah yang berpenghasilan di bawah Rp3 juta. Salah satu contoh sederhananya adalah, dokter golongan 3A yang mengantongi gaji pokok Rp2,4 juta per bulan, memiliki tambahan penghasilan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sekitar Rp500 ribu. Sehingga penghasilan total sekitar Rp2,9 juta.

Menteri kesehatan pun ikut angkat bicara

Menteri Kesehatan, Nila Moeloek ikut angkat bicara [sumber gambar]
Tak hanya pihak IDI yang menanggapi pernyataan Prabowo, Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Moeloek juga ikut merespons pernyataan capres Prabowo Subianto, terkait pidatonya menyebut banyak dokter bergaji lebih kecil dari juru parkir. Dikutip dari news.detik.com, ia menyebutkan bahwa kehidupan dokter secara umum sangat sejahtera karena penghasilannya mencukupi. Selain itu, profesi kedokteran juga dinilai sangat luas dan berpeluang menambah besaran gaji yang diterima jika berpraktik di banyak tempat. “Saya ikut Nusantara Sehat itu, dokter itu sudah Rp 11 juta. Kalau saya spesial, ikut kerja yang spesialis di daerah Rp 30 juta dari Kemkes doang. Belum dari kabupaten, pemda, belum dia praktik. Makanya cari pacar dokter saja deh,” ujarnya yang dikutip dari news.detik.com.

Peran penting pemerintah di bidang kedokteran

Pemerintah berperan aktif untuk memajukan kedokteran di Indonesia [sumber gambar]
Untuk menunjang profesi kedokteran, pemerintah memiliki peranan penting dalam mengatur undang-undang dan regulasi dalam praktik mereka di lapangan. Terutama soal BPJS. Dilansir dari sains.kompas.com, Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Daeng M. Faqih mengungkapkan, perlu adanya pembenahan pada dua hal penting, seperti penetapan standar kompensasi atau reward yang layak dan bermartabat untuk dokter dan tenaga kesehatan dan Revisi besaran kapitasi dan sistem Indonesian Case Base Groups (INA-CBGs) JKN sesuai dengan nilai perekonomian.

Masa depan profesi kedokteran di Indonesia

Ilustrasi profesi kedokteran [sumber gambar]
Bagaimanapun juga, profesi kedokteran akan dibutuhkan sampai kapanpun. Selama masih ada manusia yang sakit dan membutuhkan layanan kesehatan, keberadaan tenaga kesehatan seperti dokter, perawat dan profesi yang memiliki korelasi dengan hal tersebut masih tetap dicari. Hal ini menunjukkan, bidang kedokteran memiliki posisi penting dan terhormat di kalangan masyarakat. Setidaknya, pemerintah harus melihat kembali regulasinya tentang besaran gaji yang diterima oleh seorang Dokter, sehingga tidak ada lagi isu-isu sensitif seperti kurangnya gaji dan kesejahteraan hidup yang rawan dipolitisir.

BACA JUGA: 4 Dokter Indonesia Ini Rela Hidup Miskin Demi Menggratiskan Pasiennya, Perjuangannya Bikin Salut

Jika masih ada dokter yang bergaji di bawah standar, pemerintah seharusnya segera menerbitkan regulasi yang mengatur andar kompensasi atau reward yang layak dan bermartabat untuk dokter dan tenaga kesehatan lain. Jangan sampai jika di masa depan nanti, perofesi mulia sebagai dokter tak lagi diminati hanya karena masalah gaji yang jumlahnya dianggap terlalu kecil.

Written by Dany

Menyukai dunia teknologi dan fenomena kultur digital pada masyarakat modern. Seorang SEO enthusiast, mendalami dunia blogging dan digital marketing. Hobi di bidang desain grafis dan membaca buku.

Leave a Reply

Heboh #10YearsChallenge, Before-After Foto Kreasi Netizen Bikin Ngakak Jumpalitan

Masih ingat Gaston Castano? Beginilah Kabarnya Setelah Lama Tidak Terlihat di Indonesia