Rumah merupakan istana bagi penghuninya. Untuk mengejar kenyamanan, tentu si pemilik akan mendesain rumahnya semenarik mungkin. Karena dengan inilah ia bisa bereksplorasi mewujudkan rumah impian. Tak heran di jaman sekarang banyak sekali rumah yang memiliki desain unik dan cantik, bahkan ada yang sampai meniru gaya eropa demi mempercantik istananya tersebut.
Namun pernahkah Anda melihat rumah Joglo? Rumah adat Jawa ini juga tak kalah unik dari model hunian yang ada sekarang. Susunan ruangannya, lalu ciri khas bangunannya, semua seolah menggambarkan jati diri Kejawaan yang kental. Tak hanya bentuk fisik yang unik, bangunan rumah Jawa pun penuh dengan makna filosofis. Tapi, sayangnya beberapa ruang dalam bangunan rumah Jawa sudah tak banyak lagi ditemui sekarang ini.
Nah, untuk mengingatkan kita lagi akan uniknya Joglo. Berikut kami ulas hal-hal menarik seputar itu plus dengan makna filosofinya sekaligus.
Salah satu ciri khas yang dimiliki rumah Jawa adalah teras yang tak beratap serta pendopo yang terbuka dengan empat tiang. Umumnya pendopo Jawa berbentuk segi empat memanjang ke arah samping kanan-kiri rumah. Pendopo ini juga dibangun tanpa pembatas di keempat sisinya. Hal ini melambangkan sikap terbuka pemilik rumah bagi siapa saja yang ingin datang.
Menuju ke arah dalam, rumah adat Jawa memiliki ruang yang disebut sebagai Pringgitan. Ruang ini merupakan ruang peralihan dari pendopo menuju ke ruang dalem ageng. Dibuatnya ruangan ini memang memiliki tujuan tersendiri, yakni sebagai tempat untuk mengadakan pertunjukan wayang kulit di acara-acara tertentu.
Semakin masuk ke dalam Joglo, maka kesannya akan makin menunjukkan tingkat privasi ruangan tersebut. Bagian dalam dari rumah Jawa disebut sebagai Dalem Ageng. Ruangan ini berbentuk segi empat dengan dikelilingi dinding-dinding di keempat sisinya. Dalam tradisi Jawa, Dalem Ageng merupakan bagian terpenting di dalam rumah karena di ruangan ini terdapat 3 senthong atau 3 kamar.
Begitu lekatnya kepercayaan terhadap Dewi Sri dari masyarakat Jawa memang tidak lepas dari mata pencaharian mereka yang memang sebagian besar menjadi petani. Bagi masyarakat Jawa, Dewi Sri merupakan perwujudan dewi yang memegang peranan penting dalam kesejahteraan para petani. Untuk itu, demi kelancaran usahanya di bidang agrarian, dibuatkanlah ruangan khusus di dalam rumah untuk menghormati Dewi Sri ini.
Ruangan paling belakang dari rumah tradisi Jawa adalah Gandhok yang berbentuk memanjang di sebelah kiri dan kanan pringgitan dan dalem ageng. Selain itu, juga ada pawon yang merupakan sebutan bagi dapur dalam tradisi Jawa, serta pekiwan yang digunakan sebagai wc/toilet. Pawon dalam Bahasa Jawa berasal dari kata pa+awu+an yang berarti tempat awu atau abu, yang terlihat hitam dan kotor. Oleh karena itulah ruangan ini ditempatkan di bagian belakang dari rumah.
Itulah filosofi yang terdapat dalam bangunan rumah adat Jawa yang kini tak banyak ditemui. Dengan bentuk yang sudah paten, memang bangunan rumah adat Jawa menggambarkan gaya hidup masyarakatnya yang rukun dan suka berbaur. Selain itu, susunan pembagian ruangnya pun juga tak lepas untuk melindungi privasi penghuni rumah dari pengetahuan luar. Nah, rumah seperti apakah yang menjadi impian anda? Rumah adat Jawa ini mungkin bisa menjadi salah satu referensi yang patut dicoba.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…