Dunia perfilman Indonesia memang tengah berada di masa yang gemilang. Lahirnya sineas muda membawa nama Indonesia dikenal dunia melalui jagad sinema. Enggak Cuma film-film dengan durasi berjam-jam saja, film pendek buatan anak muda Indonesia pun banyak yang mendapat apresiasi dari perfilman mancanegara.

Kali ini, Boombastis.com akan membahas beberapa film pendek Indonesia yang masuk dalam beberapa festival film bergengsi dari berbagai belahan dunia. Agar enggak penasaran, kuy langsung kepoin di sini.

Anak Lanang (The Sons) karya Wahyu Agung Prasetyo

Anak Lanang adalah film karya sineas Wahyu Agung Prasetyo yang memenangkan Outstanding Achievement dalam Indonesian Film Festival (IFF) Australia ke-14 dalam Short Film Competition. Berdurasi 15 menit, film ini keren banget karena diambil dengan one shoot atau satu sudut kamera saja.

Setelah menonton film ini, mungkin kamu akan berdecak kagum dan berpikir bahwa film satu ini memang pantas mendapatkan penghargaan itu. Full berbahasa jawa dialek Yogyakarta, ada banyak sekali pesan yang disampaikan oleh film ini. Menjaga kelestarian budaya, kenakalan khas anak lelaki, hingga kepiawaian sang sutradara mengatur anak-anak yang notabenenya bukan artis untuk masuk ke dalam cerita.

Sekala Niskala, film Indonesia yang masuk dalam TIFF (Toronto International Film Festival)

Sekala Niskala atau The Seen and Unseen adalah salah satu film Indonesia yang masuk dalam Toronto International Film Festival. Film ini bercerita tentang dua anak kembar, Tantra dan Tantri yang punya keterikatan bathin satu sama lain.

Suatu ketika Tantra sakit dan harus dirawat selama berhari-hari. Selama itu pula, Tantri menjaganya, bahkan menari di depan Tantra hingga ia meninggal dunia. Tak berhenti di sana, setelah kembarannya meninggal, Tantri tetap menari. Namun, dalam Tariannya itu, ada makhluk lain yang juga ikut menari.

Prenjak yang memenangkan penghargaan Le Prix Découverte Leica Cine

Waktu pengerjaan film ini hanya dua hari saja loh. Pendaftaran untuk mengikuti Festival Film Cannes 2016 pun dilakukan beberapa hari sebelum deadline. Prenjak sendiri bercerita tentang seorang gadis bernama Diah yang menjual korek api karena ekonominya yang sulit. Namun, harga satu batang korek api tersebut sebesar 10 ribu Rupiah.

Mahal? Yes, sebab korek tersebutlah yang dipakai sebagai penerangan untuk melihat bagian kewanitaan Diah. Prenjak ini diputar sebanyak tiga kali dalam Festival Film Cannes, sebelum akhirnya memenangkan penghargaan Le Prix Découverte Leica Cine sebagai film pendek terbaik.

On The Origin of Fear

Punya cerita yang cukup rumit, On The Origin of Fear dibuat untuk memperingati 50 tahun tragedi 1965. Berlatar orde baru, film ini bercerita bahwa kekerasan bisa jadi cara agar sebuah kekuasaan bisa langgeng.

Film ini merupakan debut dari sutradara Bayu Prihantono yang langsung diputar dalam festival film Venice Internasional 2016 program Orizzonti alias formula baru. Kita seharusnya bangga loh, karena enggak banyak film-film yang berasal dari Asia yang bisa menembus Festival Film Venice ini.

BACA JUGA: Satu Lagi Film Pendek Indonesia Menang Penghargaan di Australia, ‘Anak Lanang’ Tentang Apa sih?

Dengan adanya film-film yang berkualitas dan dibuat dengan sepenuh hati, semoga sineas yang baru dan penuh talenta juga semakin banyak ya. Semoga juga perfilman Indonesia terus maju dan tidak jalan di tempat terus.