SD Inpres yang eksis di masa pemerintahan Soeharto, rupanya-rupanya menjadi jalan bagi Abhijit Banerjee, Esther Duflo dan Michael Kremer untuk meraih penghargaan bergengsi dunia. Dilansir dari cnbcindonesia.com, ketiga warga AS itu memenangkan Hadiah Nobel di bidang ekonomi tahun 2019 terkait penelitian mereka soal kemiskinan global.

Uniknya, salah satu yang masuk dalam penelitiannya adalah SD Inpres di Indonesia. Hal tersebut dipilih lantaran berkaitan dengan tema penelitian tentang edukasi pada masyarakat miskin. Salah satunya adalah bagaimana meningkatkan kinerja sekolah di daerah-daerah tertinggal. Lantas, seperti apa SD Inpres yang menjamur di era Orde Baru tersebut?

Gagasan sekolah yang lahir berkat jasa ekonom Widjodjo Nitisastro

Ekonom Widjodjo Nitisastro yang menggagas SD Inpres [sumber gambar]
keluarnya Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 1973 tentang Program Bantuan Pembangunan Gedung sekolah dasar, SD Inpres kemudian lahir untuk memenuhi kebutuhan pendidikan pada masyarakat miskin. Kala itu, penggagasnya adalah adalah ekonom Widjodjo Nitisastro.

Proyek Soeharto untuk memperluas kesempatan belajar hingga di pelosok pedesaan

Program Soeharto yang menjangkau pelosok pedesaan [sumber gambar]
SD Inpres yang juga sering disebut sebagai “sekolah kecil” , bertujuan untuk menuntaskan masalah baca dan tulis pada penduduk Indonesia yang masih banyak buta huruf. Terutama pada mereka yang berada di daerah pelosok atau pedesaan. Pelaksanaan pengajaran sendiri dimulai pada tahun 1975.

SD Inpres dianggap sukses meningkatkan taraf pendidikan untuk masyarakat miskin

Soeharto saat bersama dengan anak-anak [sumber gambar]
Esther Duflo yang merupakan seorang ekonom AS, meneliti soal SD Inpres yang diterbitkan pada Agustus 2000 berjudul Schooling and Labor Market Consequences of School Construction in Indonesia: Evidence from an Unusual Policy Experiment. Yang mengejutkan, hasil riset Duflo menyimpulkan bahwa pembangunan SD Inpres ternyata mampu meningkatkan pendidikan dan pendapatan untuk masyarakat miskin.

Ikut menyumbang kenaikan ekonomi berupa kenaikan upah

Ilustrasi SD Inpres [sumber gambar]
Masih dalam riset yang sama, Duflo juga menemukan adanya peningkatan upah yang diterima pada masyarakat miskin. Kesimpulannya, kebijakan SD Inpres oleh pemerintah telah sukses meningkatkan ekonomi masyarakat miskin. Bahkan, besaran pengembalian ekonomi sekitar 6,8% hingga 10,6%.

Jadi bahan penelitian yang akhirnya membuahkan penghargaan Nobel

Tiga ekonom AS yang raih Nobel di bidang ekonomi setelah meneliti SD Inpres [sumber gambar]
SD Inpres dan segala dinamikanya di era pemerintahan Orde Baru, menjadi jalan kesuksesan bagi Abhijit Banerjee, Esther Duflo dan Michael Kremer untuk meraih penghargaan Nobel 2019 di bidang perekonomian. Datanya penelitian tersebut berbasis pada realita yang memang benar-benar terjadi di Indonesia pada tahun 1973 dan 1978.

BACA JUGA: Nostalgia Klompencapir, Acara Jadul di Era Soeharto yang Sukses Mencerdaskan Petani RI

Meski keberadaan SD Inpres tak lagi terdengar gaungnya, program tersebut secara nyata mampu menecerdaskan anak bangsa pada masanya. Bahkan karena dianggap sebagai sistem yang mumpuni, para ekonom asal AS menjadikannya sebagai objek penelitian hingga berbuah Nobel. Bukti bahwa SD Inpres di era Soeharto diakui oleh dunia.