Nama besar Airbus sebagai produsen pesawat terbang, rupanya berhasil memikat perhatian BUMN PT Pertamina (Persero) untuk mengakuisisi salah satu produknya. Dilansir dari cnnindonesia.com, perusahaan pelat merah itu akan membeli pesawat Airbus A400 untuk bisnis kargo anak perusahaannya, yakni maskapai Pelita Air Service atau Pelita Air.
Selain dikenal tangguh, A400 juga menjadi pilihan bagi banyak negara anggota NATO untuk mendukung beragam kegiatan operasional sesuai kebutuhan yang ada. Tak hanya di Eropa, AU Malaysia (Royal Malaysian Air Force) juga merupakan pengguna A400 satu-satunya di Asia Tenggara. Dengan adanya rencana pembelian yang dilakukan Pertamina, Indonesia bakal menjadi negara kedua yang menyusul. Seperti apa sosok daripada A400?
Dirancang secara presisi untuk mengangkut beban yang besar
Airbus A400 yang diluncurkan pada Mei 2003 ini, merupakan bentuk respon dari kebutuhan akan angkutan udara dari tujuh negara yang tergabung dalam OCCAR seperti Belgia, Perancis, Jerman, Luxemburg, Spanyol, Turki dan Inggris. Dikutip dari airbus.com, A400M adalah pesawat yang lebih besar, lebih modern, dan dirancang untuk membawa beban yang sangat besar dalam jarak yang jauh. Tak heran jika Malaysia yang baru bergabung dengan OCCAR pada 2005, tertarik memiliki pesawat berbadan lebar ini.
Dilengkapi teknologi canggih dan sanggup menjelajah dengan jangkauan yang luas
Selain berkemampuan angkut dengan kapasitas ‘raksasa’, A400 juga dilengkapi dengan sederet teknologi untuk mendukung kinerjanya. Salah satunya adalah penggunaan empat mesin turboprop TP 400 EuroProp International (EPI) yang menawarkan daya jelajah hingga 4,800 nautilus mile (nm) atau 8900 km. Saat terbang ke udara, mesin A400 juga mampu mencapai ketinggian hingga 37.000 kaki (11.300 m) dan kecepatan Mach 0,72,. Bahkan untuk operasi khusus militer, A400 dapat membubung tinggi sejauh 40.000 kaki (12.200 m).
Kemampuan operasional pesawat yang fleksibel dalam beragam tugas
Dalam laman resmi airbus.com menyebutkan, A400 dibekali fungsi teknis seperti Airdrop (ditribusi logistik/bantuan lewat udara), evakuasi medis (MEDEVAC), dan ketahanan. Selain itu, kemampuan yang mengesankan dari pesawat ini adalah fitur Air-to-air refuelling, di mana A400 sanggup melakukan pengisian bahan bakar udara-ke-udara (AAR), di samping keberadaannya sebagai angkutan udara logistik dan taktis yang fleksibel.
Membuat Indonesia lebih mandiri dalam hal penyediaan transportasi dan distribusi via udara
Pada saat gempa dan tsunami memporak-porandakan Palu dan sekitarnya, AU Malaysia (Royal Malaysian Air Force) mengirimkan A400 miliknya untuk bantuan logistik berupa obat-obatan dan perlengkapan medis sumbangan dari Bulan Sabit Merah Malaysia. Dari sini, terlihat jelas bahwa pesawat besutan Airbus itu juga bisa digunakan untuk keperluan kemanusiaan. Terlebih, beberapa titik rawan bencana di Indonesia merupakan medan yang terkadang sulit dijangkau tanpa adanya angkutan udara. Jika terealisasi, potensi untuk mandiri dan tidak bergantung dengan bantuan transportasi udara dari negara lain bisa dilakukan secara perlahan.
BACA JUGA: Irkut MC-21, Pesawat Buatan Rusia Pesaing Boeing dan Airbus yang Bakal Dipakai Merpati Air
Beberapa wilayah di Indonesia yang masih terpencil, menuntut penggunaan transportasi udara yang fleksibel agar bisa menjangkau tempat tersebut. Dengan demikian, sembako dan kebutuhan yang dikirimkan bisa tersalurkan secara merata dengan satu harga. Tak hanya itu, keberadaan A400 juga bisa mengurangi ketergantungan Indonesia pada negara lain, jika suatu saat diterpa bencana dan memerlukan bantuan berupa dukungan logistik.