Nama Ananda Badudu mendadak santer menjadi sorotan lantaran peristiwa penangkapan dirinya oleh polisi. Pria yang juga merupakan seorang musisi band indie Banda Neira itu, dijemput aparat keamanan dengan alasan ia terlibat penggalangan dan penyaluran dana aksi mahasiswa 23-24 September lalu. Dilansir dari CNN Indonesia, ia ditangkap saat terlelap di sebuah kamar kos.
Dunia aktivis sejatinya bukanlah hal yang baru bagi seorang Ananda Badudu. Sebelumnya, ia sangat dikenal luas di kalangan jurnalis dan musisi indie lewat karya-karyanya. Ananda juga sempat menjadi jurnalis Tempo, kemudian ia pindah ke Vice Indonesia. Bahkan, ia juga sempat membentuk sebuah band bersama temannya pada 2012 yang bernama Banda Neira. Seperti apa kisahnya? Simak ulasan berikut.
Mengecap sukses sebagai musisi band indie
Bersama Rara Sekar, Ananda mulai berpetualang di ranah musik indie dengan membentuk Banda Neira pada 2012 silam. Padahal, grup musik itu berawal dari proyek isengnya dengan Rara. Nama Banda Neira semakin dikenal setelah merilis album kedua bertajuk Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti pada 2016. Sayang, bulan Desember di tahun yang sama, ia memutuskan membubarkan Banda Neira setelah banyak menghasilkan karya sejak 2012 silam.
Seorang jurnalis yang juga cucu dari pakar Bahasa Indonesia
Ditangkap Polisi karena terlibat penggalangan dan penyaluran dana aksi mahasiswa
Nama Ananda kemudian menjadi viral lantaran dirinya ditangkap oleh pihak kepolisian lantaran dianggap terlibat dengan aksi demo mahasiswa. Dilansir dari CNN Indonesia, ia dijemput pada pukul 04.25 WIB pagi saat tengah terlelap di sebuah kos di kawasan Tebet Barat, Jakarta Selatan. Alasan penangkapannya adalah, soal penggalangan dan penyaluran dana aksi mahasiswa 23-24 September lalu.
Penangkapan dirinya jadi sorotan banyak pihak
Ananda Badudu akhirnya dibebaskan
Setelah diperiksa selama 5 jam di Polda Metro Jaya, Mantan wartawan TEMPO sekaligus personel grup musik Banda Neira Ananda Badudu akhirnya diperbolehkan pulang. Diketahui sebelumnya, ia ditangkap lantaran melakukan penggalangan dana di laman Kitabisa.com. Dilansir dari Metrto Tempo, uang sejumlah Rp 175 juta yang terkumpul, digunakan untuk logistik pendemo, penyewaan mobil komando, dan transportasi pendemo.
BACA JUGA: 5 Aktivis Pembela Rakyat yang Mati Terbunuh Karena Perjuangannya!
Menjadi seorang aktivis memang tidak semudah yang dibayangkan. Terlebih, jika harus berurusan dengan suatu masalah yang tergolong rawan dan menyangkut banyak pihak, jelas ujung-ujungnya harus berhadapan dengan aparat keamanan yang menjadi tonggak hukum di negeri ini.