Jika berkunjung ke Yogyakarta, maka kamu akan tau mengapa banyak orang bilang jika kota ini istimewa. Faktanya, beragam budaya masih sangat dijaga di negeri keraton ini, muai dari bangunan, tradisi masyarakat hingga kesopan-santunan yang tak lekang oleh waktu.
Salah satu bentuk nyata dari adat budaya yang masih ada yaitu Abdi dalem. Abdi ini adalah sosok yang secara sukarela mengurus keraton dan mengabdi kepada raja. Karena dilakukan secara sukarela, maka masalah gaji dan upah juga tidak dipermasalahkan. Lebih dalam tentang kehidupan mereka, simak dalam ulasan berikut.
Abdi dalem juga bisa datang dari dua jenis penduduk, rakyat biasa dan mereka yang masih ada hubungannya dengan keraton alias masih ada darah kerajaan. Dengan ini, pangkat dan gelar mereka juga akan berbeda-beda satu sama lain. Tak hanya itu, seragam yang dikenakan pun ada dua jenisnya, yang digunakan sehari-hari serta pakaian di perayaan khusus, jika kebetulan ada event spesial Keraton Yogyakarta, para abdi harus memakai dasi.
Ya, sesuai dengan namanya mengabdi, pastinya berat sekali menjalani tugas ini. Sebelum sah menjadi abdi, seseorang harus melewati lima tahapan dulu. Pertama, Sowan Bekti, dimana seseorang akan dilatih untuk benar-benar siap dan ikhlas. Selanjutnya ada magang selama 4 tahun, lalu ada Sawek Jajar –sang abdi mendapat nama baru dari sultan dan digaji 5 ribu rupiah per bulan. Setelah Sawek Jajar ada Bekel Enom di mana sang abdi mendapat kepercayaan dan dibekali dengan keris. Tahapan terakhir adalah Bekel Sepuh, saat abdi sudah dianggap layak dan menerima gaji Rp 15 ribu sebulan.
Begitulah kehidupan abdi dalem, karena rasa pengabdian tulus mereka, ada berkah tersendiri yang datang menghampiri. Tanpa memikirkan apa yang akan didapat mereka hanya berpatokan bahwa kaya yang sebenarnya itu datang dari hati, selama memiliki budi yang luhur, sopan santun, maka hidup bisa bahagia.