Umumnya, saat membicarakan seorang tokoh diktator, kesan pertama yang muncul adalah kejam dan tidak kenal takut. Tapi sama seperti manusia lain, diktator juga memiliki ketakutan dengan hal-hal tertentu dan tidak pernah kamu duga.
Para diktator yang akan disebutkan di artikel ini, ternyata memiliki ketakutan dengan hal-hal yang paling umum dan sepele yang pernah ada. Tentu saja hal ini membuat kita merasa heran apalagi dengan sisi keras mereka.
Lin Biao adalah pendukung besar dan kunci penting bagi Mao Tse-tung. Ia berhasil menjadi tangan kanan diktator asal China dan terpilih menjadi penerusnya sebelum akhirnya meninggal secara misterius dalam kecelakaan pesawat. Lin Biao terkenal sebagai seorang hypochondriac atau orang yang selalu khawatir secara berlebihan tentang kesehatannya, serta sebagai seseorang yang memiliki ketakutan berlebihan terhadap air, angin, dingin, suara berisik, serta cahaya.
Diktator asal Romania, Nicolae Ceausescu terkenal dengan seorang hypochondriac, sebuah kondisi yang rupanya berasal dari masalah tenggorokan yang pernah ia miliki saat masih muda. Ia takut dengan AC sehingga memerintahkan agar bangunan dibangun tanpa menggunakan fasilitas ini.
Nicolae Ceausescu juga menolak makan di acara formal karena takut diracuni, dan bahkan mempekerjakan seorang ahli kimia untuk menghancurkan kotorannya untuk mencegah intelijen asing mengetahui kondisi kesehatannya. Ia bahkan tidak pernah memakai pakaian yang sama dan pakaian yang baru saja ia pakai harus segera dihancurkan.
Diktator Guinea Ekuator, Francisco Macias Nguema begitu membenci dengan pendidikan. Setelah berhasil menguatkan posisinya sebagai pemimpin tertinggi dengan kekuatan mutlak pada tahun 1973, ia melakukan kampanye untuk menghapuskan pendidikan. Ia melarang kata ‘intelektual’, menutup semua perpustakaan termasuk perusahaan surat kabar dan perusahan cetak, serta mengumumkan bahwa pendidikan private juga ilegal. Ia hanya ingin mengajarkan slogan politik pada anak-anak dan mengumumkan dirinya sendiri sebagai Grand Master di bidang sains, pendidikan, dan budaya.
Kaisar Wilhelm II begitu terobsesi dengan pandangan bahwa ancaman terbesar peradaban Barat berasal dari Asia. Tahun 1900, ia memerintahkan pasukan Jerman melakukan perjalanan ke China dan “bersikap seperti bangsa Huns”, tanpa menunjukkan belas kasihan dan tanpa mengambil tahanan.
Ketika pemimpin Korea Utara, Kim Il Sung berusia 65 tahun pada tahun 1977, ia mengumpulkan sekelompok dokter dan memerintahkan mereka untuk membantunya hidup lebih lama hingga 100 tahun, 120 tahun, dan bahkan lebih. Sekelompok dokter ini meneliti 1750 jenis tanaman yang ditulis di buku obat-obatan Asia serta melakukan eksperimen untuk memperpanjang usia diktator ini dan putranya.
Pada tahun 1960an dan 1970an, marijuana adalah hal yang umum digunakan di Korea Selatan meskipun sekarang sudah menjadi hal yang sangat tabu. Diktator Park Chung Hee tidak suka dengan budaya Amerika yang memasuki Korea Selatan dan memandangnya sebagai ancaman bagi kekuasaannya.
Salah satu sasaran targetnya adalah seorang musisi rock, Shin Joong-hyun yang menolak menulis lagu memuji sang diktator. Ia kemudian disiksa dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa dan dituduh sebagai orang gila yang kecanduan obat-obatan.
Pemimpin fasis asal Italia, Benito Mussolini dikenal sebagai seorang yang begitu membenci gereja Katolik. Pasukan Fasis miliknya dikenal suka menghajar para pendeta dan meneror perkumpulan pemuda Katolik serta bank yang dimiliki oleh para Katolik.
Meski begitu, Mussolini akhirnya berbaikan dengan gereja demi mengamankan kekuatan politisnya. Mussolini membuat kesepakatan bahwa ia akan melarang perjudian, dan perceraian serta mengijinkan gereja memberikan pengaruh di sekolah. Untuk itu, gereja setuju untuk membubarkan partai Katolik.
Hitler memang dikenal sebagai penyayang binatang, tapi ternyata rasa sayangnya ini tidak berlaku untuk kuda yang sering ia hubungkan dengan arogansi para pasukan berkuda aristokrat. Menurutnya kuda sama dengan para Yahudi yang sama-sama berusaha mempertahankan diri melawan para penyerang, tapi akan tercerai berai lagi setelah bahaya berlalu.
Meski dikenal bertangan besi, ternyata Joseph Stalin tidak cukup tangguh dalam hal naik pesawat. Ia lebih memilih naik rombongan motor, atau naik kereta api yang ditemani dengan tentara bersenjata untuk perjalanan yang lebih jauh. Seumur hidupnya, Stalin hanya pernah naik pesawat satu kali untuk mengunjungi konferensi Tehran pada tahun 1943 dengan Perdana Menteri Churchill dan Presiden Rosevelt. Sebenarnya ia lebih memilih perjalanan darat, namun saat itu belum ada rute yang aman.
Tahun 1950, Ruhollah Khomeini terlibat dengan kelompok Shia yang menarget kepercayaan Baha’i di Iran. Menurut mereka, kelompok ini sesat karena berhubungan dengan Israel. Saat mereka menyadari kontrak Pepsi di Iran ada di tangan seorang pebisnis Baha’i, Khomaini mengumumkan bahwa siapapun yang minum Pepsi akan masuk neraka. Tentu saja penjualan Pepsi langsung merosot tajam dan hal ini dimanfaatkan oleh Coca Cola dan memastikan kontrak mereka di Iran ditujukan pada seseorang yang bukan Baha’i.
Nah, beberapa hal tersebut membuktikan bahwa seorang diktator ternyata juga manusia biasa yang memiliki ketakutan dengan hal-hal tertentu. Siapa sangka juga jika ternyata hal yang mereka benci adalah hal-hal yang biasa dan umum.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…