in

Kenalan dengan Inem Jogja, ‘Wong Edan’ Teman Rakyat Jelata yang Ternyata Mantan Dosen

Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar kata ‘Inem?’ Kalau penulis bisa menebak pasti sosok pembantu seksi di era perfilman 70-an atau sosok yang akrab sebagai pelayan orang kaya dalam sinetron tahun 2000-an.

Berbeda dengan Inem Jogja ini ya. Dirinya adalah sosok yang selalu riang ke sana kemari dengan membawa tas besar membagikan sembako dan nasi bungkus di sekitar Jogja dengan berdandan nyentrik abis. Sosoknya adalah teman rakyat jelata, meski dulu sempat dianggap ‘wong edan’, sekarang Inem adalah pahlawan. Karena dandanannya yang nyentrik itu, banyak yang penasaran dengan Inem, siapa sih dia?

Inem memang bukan orang biasa, ia adalah mantan dosen di salah satu kampus di Yogyakarta

Penampilan sehari-harinya saat turun ke jalan, Inem memakai baju kebaya dan jarit sederhana, berdandan layaknya badut, rambutnya dikepang, membawa skuter dan tas besar yang berisi makanan. Sosok ini ternyata bukan sembarang orang. Bernama lengkap Made Dyah Agustina, Made adalah lulusan Magister Pertunjukan Seni di Institut Seni Indonesia (ISI).

Sebelumnya, sarjana strata satu (S1) ia selesaikan di Universitas Negeri Yogyakarta dengan jurusan Pendidikan Tari. Ia juga sempat menjadi tenaga pengajar atau dosen di beberapa universitas di Jogja, seperti Universitas Terbuka dan Universitas Sanata Dharma. Berhenti mengajar pada tahun 2016 lalu, ia fokus menjadi ibu rumah tangga dan mengelola Sanggar Budaya Tembi. Di sela-sela waktu kosong itulah ia gunakan untuk menjadi Inem di jalanan jogja.

Aksi menjadi Inem yang dilakukan seminggu sekali

Menjadi Inem sendiri, ia lakukan setiap satu minggu sekali. Ia akan membawa tas besar berisi nasi bungkus dan makanan yang ia bagikan kepada warga yang ia temukan. Berdandan nyentrik mungkin salah satu cara Inem mengekspresikan apa yang sudah ia pelajari di bangku kuliah sepertinya, dalam arti lain sosoknya memang mencintai seni.

Selain sembako dan nasi bungkus, ia juga tidak jarang membagikan uang yang ia punya kepada mereka yang terlihat membutuhkan. Jadi, kalau kamu sedang ke Jogja dan mungkin bertemu dengan sosok ini, jangan takut ya, karena ia adalah Inem.

Di balik wajah yang full dengan make up, ternyata ini filosofinya

Mungkin ada nih yang bertanya ‘mengapa kok Inem berdandan seperti badut?’ Melansir Hipwee.com, dandanan ini adalah kreasi Inem sendiri. Ia terinpsirasi dari Tari Edan-edanan yang fungsinya sebagai tolak bala. Jadi, secara tidak langsung, sosok Inem diibaratkan sebagai orang yang bisa menolak bala yang datang dari dalam dan luar Yogyakarta.

Inem Jogja [sumber gambar]
Peran Inem juga ia lakoni sebagai salah satu bentuk terima kasih untuk Yogyakarta. Faktor terakhir tentunya ia berdandan untuk menarik perhatian orang lain, sehingga punya ciri khas tersendiri dan akan langsung dikenali oleh masyarakat. Dengan wajah yang penuh riasan itu, ia juga bisa menghibur orang dengan leluasa.

Inem yang pernah dianggap gila hingga dilempari dengan es batu

Saat ini, Inem mungkin memang bisa diterima oleh banyak orang dan dikenal di Jogja. Namun, dulu ia juga pernah mengalami perlakuan kurang baik. Pertama kali ia datang ke Malioboro dengan dandanan wajah yang putih dan penuh make-up, Inem diusir oleh petugas keamanan di sana.

Inem jogja in Action [sumber gambar]
Saat menghampiri para pedagang, ia malah dianggap gila dan dilempari dengan es batu. Tapi, penolakan tersebut membuat ia kuat dan terus berusaha untuk dikenal oleh orang banyak. Dan akhirnya, seperti sekaranglah sosok Inem yang suka membantu, jampir semua pedang dan rakyat kecil tau dirinya.

BACA JUGA: Cerita Haru Penjual Nasi yang Gratiskan Dagangan Tiap Jum’at Untuk Anak yatim dan Dhuafa

Sosok Inem mengajarkan kita untuk berbagi bersama orang yang membutuhkan dan rakyat kecil. Ternyata, cara berbagi kebahagiaan itu banyak sekali ya, enggak harus mewah dan mengundang ribuan orang, dengan cara keliling kampung dan membagikan makanan saja sudah bisa membuat orang senang.

Written by Ayu

Ayu Lestari, bergabung di Boombastis.com sejak 2017. Seorang ambivert yang jatuh cinta pada tulisan, karena menurutnya dalam menulis tak akan ada puisi yang sumbang dan akan membuat seseorang abadi dalam ingatan. Selain menulis, perempuan kelahiran Palembang ini juga gemar menyanyi, walaupun suaranya tak bisa disetarakan dengan Siti Nurhalizah. Bermimpi bisa melihat setiap pelosok indah Indonesia. Penyuka hujan, senja, puisi dan ungu.

Leave a Reply

Kisah Wahyu Selow, dari Tukang Cat Hingga Penyanyi Viral yang Lagunya Dicover Via Vallen

Duduk Bersama Presiden Jokowi, Inilah Sosok Driver Pertama Gojek yang Jarang Diketahui