Legenda soal kota atau wilayah yang hilang seperti Atlantis, rupa-rupanya juga pernah terjadi di Indonesia. Hanya saja jika Atlantis kerap dianggap sebagai hal yang fiktif, peristiwa raibnya sebuah wilayah di tanah air adalah kejadian yang nyata adanya. Nggak percaya, lihat saja saat air Waduk Jatigede surut saat musim kemarau. Dilansir dari regional.kompas.com, terlihat adanya bekas pemukiman warga yang kini tenggelam menjadi saah satu areal waduk.
Selain eks perkampungan, beberapa wilayah di Indonesia tercatat telah dianggap ‘hilang’ dari peredaran. Penyebabnya pun bermacam-macam. Mulai terkena imbas dari bencana alam yang ada, peristiwa berbau mistis yang tak masuk di akal, hingga kesalahan teknis dari sebuah perusahaan. Buntut dari hal tersebut, semua desa yang dulu pernah dihuni manusia, kini telah terkubur berkalang tanah dan air. Di mana dan bagaimana kondisinya?
Semburan lumpur yang terjadi bersamaan dengan aktivitas pengeboran PT Lapindo Brantas di Sidoarjo, memilik dampak yang luas secara global. Tak hanya dirasakan oleh masyarakat lokal, kejadian ini bahkan menjadi bahasan utama di forum internasional yang melibatkan 90 ahli geologi dari seluruh dunia. Tercatat, semburan lumpur telah ‘mengubur’ 16 desa di 3 kecamatan di Sidoarjo.
Ada sebuah kata-kata yang sering kita dengar menyatakan, bahwa tindakan maksiat yang dilakukan oleh manusia akan dibalas oleh Tuhan jika dianggap telah melampaui batas. Hal inilah yang dialami oleh Dusun Legetang, sebuah pemukiman penduduk yang berada tepat di kaki gunung Pengamun-amun. Layakya masyarakat di Indonesia, keberadaan gunung tersebut juga tak lepas dari mitos dan cerita yang bersumber dari kearifan lokal setempat.
Saat gempa bumi dan tsunami besar melanda Palu, Sulawesi Tengah, penduduk di Desa Petobo juga harus bertaruh nyawa menghadapi ancaman likuifaksi. Fenomena alam itulah yang akhirnya membuat kampung tersebut hilang ditelan bumi. Saat gempa terjadi, tanah di sekitarnya seolah bergerak, bergulung-gulung hingga mampu melipat jalanan aspal yang keras.
Dengan tujuan untuk membangun fasilitas rakyat, Desa Jatibungur di Kabupaten Sumedang menjadi korban karena harus ditenggelamkan oleh air dari Waduk Jatigede. Namun saat mengering, wilayah yang hilang itu kini nampak kembali ke permukaan. Terlihat, hanya puing-puing bangunan yang sebagian telah hancur dan pepohonan kering di beberapa titik.
BACA JUGA: Inilah Dusun Karang Kenek yang Katanya Dikutuk Selamanya Tak Akan Bertambah Penduduknya
Meski telah tiada, keberadaan daripada kampung yang telah menghilang itu tetap akan diingat sebagai suatu pembelajaran hidup, terutama bagi generasi di masa depan. Bukan apa-apa, hal ini bisa menjadi peringatan bagi kita semua, bahwasannya setiap perbuatan yang kita lakukan pasti memiliki konsekuensinya sendiri. Termasuk harus siap kehilangan tempat tinggal dan wilayah seperti kejadian di atas.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…