Eksploitasi pada anak di bawah umur memang kerap terjadi diberbagai belahan bumi. Salah satunya di Republik Demokratis Kongo. Negara di wilayah Afrika Tengah ini, tengah menjadi sorotan lantaran mempekerjakan anak di bawah umur di sebuah pertambangan. Bukan sembarang tempat, areal tersebut merupakan kawasan tambang kobalt yang menjadi bahan bagi baterai smartphone ternama dunia.
Bukan masalah kobaltnya, yang jadi perhatian serius adalah pekerja di bawah umur yang notabene adalah anak-anak usia sekolah. Di mana terkadang mereka harus bekerja keras dengan jam-jam panjang, dan mengangkut berkilo-kilo kobalt dengan upah yang terbilang rendah. Padahal, hasil keringat anak-anak ini disulap menjadi baterai yang mentenagai ponsel-ponsel bermerek dunia dengan keuntungan milyaran dolar. Ironis, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi tersebut.
Bekerja keras demi sekelumit pendapatan yang tak sesuai dengan beratnya resiko
Bekerja di sebuah tambang kobalt memang bukanlah perkara mudah. Hal inilah yang saban hari dijalani oleh lebih dari 40.000 anak di Republik Demokratik Kongo. Dengan upah tak seberapa, mereka rela bekerja keras meski terkadang harus mengesampingkan resiko bahaya yang bisa saja muncul secara tak terduga. Salah satunya adalah sosok Elodie yang masih berusia 15 tahun.
Hasil kobalt yang menjadi surga dan neraka bagi mereka
Menurut Siddharth Kara, dosen tambahan di Harvard Kennedy School of Government dan ilmuwan tamu di Harvard School of Public Health yang dikutip dari Theguardian.com, penelitian lapangannya menunjukkan bahwa anak-anak berusia enam tahun adalah di antara mereka yang mempertaruhkan hidup di tengah debu beracun, untuk menambang kobalt untuk perusahaan elektronik besar dunia.
Ketimpangan kesejahteraan antara dua kutub yang berbeda
Dengan menggunakan hasil dari kobalt tersebut, para vendor ponsel dunia itu kemudian memproduksinya menjadi batangan baterai lithium. Tentu saja, hal ini juga mendukung penjualan mereka ke seluruh dunia yang bernilai miliaran dollar. Jauh dari penghasilan anak-anak di Kongo yang hanya sebesar 2 dollar (Rp 27.000). Bukan saja ironis, tapi juga miris. Tak heran jika Amnesty International mengkritisi proses yang terjadi selama ini.
BACA JUGA: Di Balik Kecanggihan Smartphonemu Ternyata Ada Jutaan Nyawa Pekerja Anak Afrika Dipertaruhkan
Terkadang, apa yang terlihat sepele oleh mata kita, nyatanya memiliki sisi tersembunyi yang jarang disadari. Anak-anak Kongo yang bekerja keras di atas, berjasa besar terhadap smartphone yang hari ini berada di dalam genggaman. Kita cukup menikmati, merekalah yang saban hari harus menyabung nyawa demi nyala miliaran ponsel yang ada di seluruh dunia. Miris, mungkin itulah gambaran yang memang terjadi.
https://youtu.be/I1nXa6t_9V0