Demo di depan kantor wali kota Malang [image source]
Seperti kita ketahui, transportasi ojek online saat ini memang begitu populer dan digemari. Selain praktis bagi para penumpang, driver juga bisa mendapat lebih banyak pelanggan dengan adanya aplikasi. Ya memang, jadi pengemudi ojek online punya banyak fasilitas yang diberikan oleh pihak pengelola, seperti asuransi gratis, helm, ponsel pintar, jaket, hingga uang saku. Namun, di balik segala berkah yang diterima oleh para penggiatnya, tentu ada yang kurang setuju dengan keberadaan pengemudi berbasis online.
Siapa lagi kalau bukan para supir angkot tradisional yang merasa tersaingi. Mereka beranggapan jika keberadaan ojek online membuat sebagian orang tak lagi berminat menunggu angkutan di tepi jalan. Hal itu otomatis mengurangi pendapatan para supir. Hal ini kemudian berbuntut pada bergulirnya demo penolakan. Niatnya mungkin ingin menuntut hak, tapi pada kenyataannya sangat merugikan semua pihak. Bahkan bagi si sopir angkot sendiri.
Sudah ada banyak fenomena seperti ini di berbagai kota. Dan lagi-lagi, yang jadi korban pun semua orang termasuk pengguna jalan yang tidak ada sangkut pautnya. Seperti apa fenomena demo ojek online tersebut? Simak ulasannya berikut.
Sebenarnya, nggak semua supir angkutan umum yang ngerasa tersaingi dengan maraknya ojek online, mungkin karena yakin soal rejeki sudah ada yang ngatur ya. Tapi, pada kenyataannya para supir angkot rata-rata tetap berangkat berdemo demi solidaritas. Mungkin terpaksa berangkat karena dimintai tolong oleh rekan-rekannya.
Bisa dibayangkan gimana jadinya kalau ratusan supir angkot sepakat buat ngumpul di suatu tempat (selain di terminal), sudah dipastikan kalau mereka bakal bikin jalanan macet total. Kantor-kantor juga diserbu, membuat jalur di sekitarnya lumpuh.
Nggak semua orang menyukai fasilitas ojek online. Buktinya, masih banyak orang yang masih bertahan menggunakan jasa angkutan umum. Mereka inilah para penumpang yang jadi pihak paling dirugikan terkait demo penolakan ojek online. Gimana nggak? Saat mereka di tengah perjalanan, tiba-tiba sang supir rubah haluan dan minta para penumpang turun di tengah jalan.
Memang, sejauh ini cuma supir angkot yang ngasih harga khusus buat pelajar. Cuma modal seragam, tanpa tawar menawar pasti sudah diberi harga miring saat naik angkot. Jadi, sudah dipastikan kalau anak sekolahan bakal lebih milih, atau bahkan sangat bergantung pada angkutan umum saat berangkat ke sekolah.
Demo menolak keberadaan ojek online mungkin bukan hanya sekali dua kali terjadi. Dan dampaknya selalu sama, yang dirugikan jauh lebih banyak ketimbang mereka yang melakukan demo itu sendiri. Kira-kira, adakah alternatif menyerukan suara keadilan tanpa adanya demo?
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…