dekan fk unair dipecat
Beberapa hari terakhir, pemandangan yang ‘agak lain’ terpampang nyata di Gedung Fakultas Kedokteran Kampus A Universitas Airlangga Surabaya. Karangan-karangan bunga berderet di sepanjang jalanan salah satu kampus papan atas Jawa Timur tersebut.
Karangan bunga tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap sang dekan dari Fakultas Kedokteran, Profesor Budi Santoso yang diberhentikan jabatannya. Banyak pihak menduga kejadian ini ada kaitannya dengan sikap Prof. Budi. Ada apa?
Sebuah karangan bunga mengucapkan kekecewaan kepada pihak kampus Unair sekaligus dukungan terhadap Prof. Budi. Di papan tersebut tertuang dorongan semangat bagi sang Profesor agar bisa mendapatkan keadilan.
Baru-baru ini, Prof. Budi Santoso menjadi sorotan banyak pihak. Dirinya diberhentikan dari jabatan dekan Fakultas Kedokteran Unair karena diduga ikut dalam barisan yang menolak rencana pemerintah untuk datangkan dokter asing ke rumah sakit-rumah sakit Indonesia.
Dilansir dari IG catchmeupco, Kepala Pusat Komunikasi dan Informasi Publik Unair, Martha Kurnia tidak menjelaskan secara detail mengenai pencopotan Prof. Budi. Ia hanya mengklaim bahwa keputusan dari kampus adalah untuk penguatan kelembagaan.
Di sisi lain, Plt Kepala Biro Kerja Sama Hubungan Masyarakat Kemendikbud-Ristek Anang Ristanto mengaku sudah mengingatkan Rektor Universitas Airlangga (Unair) Prof. Nasih, sekaligus menekankan pentingnya kebebasan mimbar civitas akademika di Unair.
Terlepas dari polemik pencopotan Prof. Budi Santoso, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Ini berkaitan dengan pemerataan fasilitas kesehatan, terutama di daerah-daerah.
Menkes, Budi Gunadi Sadikin pernah membeberkan fakta bahwa ada 285 rumah sakit umum daerah di seluruh Indonesia yang belum memiliki kelengkapan personel untuk dokter spesialis dasar, seperti spesialis anak, spesialis penyakit dalam, spesialis anestesi, spesialis radiologi, dan lain-lain.
Di samping fakta kurangnya dokter-dokter spesialis di rumah sakit umum daerah, Budi Gunadi Sadikin juga menjelaskan fakta bahwa dengan standar pertumbuhan saat ini, Indonesia membutuhkan waktu 10 tahun untuk pemerataan dokter spesialis.
Lebih dari itu, pria yang akrab disebut dengan nama singkat BGS ini juga mengingatkan bahwa di waktu yang sama, kebutuhan kesehatan masyarakat juga terus meningkat dan semakin kompleks. Misalnya saja, kasus penyakit jantung bawaan yang kini dialami sekitar 12.000 bayi di negara kita.
Pemecatan Prof. Budi Santoso terindikasi sebagai akibat dari suara lantangnya menolak rencana pemerintah mendatangkan dokter-dokter asing. Selain itu, hal ini juga menunjukkan ketidakpercayaan kita kepada kualitas tenaga kesehatan di negeri sendiri.
BACA JUGA: Pusat Data Nasional Diserang Ransomware dan Tak Punya Backup, Reaksi Meutya Hafid: Itu Kebodohan
Di sisi lain, kita juga tidak bisa menunggu bertahun-tahun demi menyelamatkan ribuan bayi yang membutuhkan pertolongan medis sesegera mungkin. Sebagai warga negara, ke manakah Anda akan menempatkan diri? Dukung pemerintah dengan dokter spesialis asing, atau bersama Profesor Budi Santoso lebih mempercayai putra-putri terbaik bangsa ini?
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…