Bekerja sebagai penyidik di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tentu merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Mengungkap praktik menyimpang seperti penyuapan hingga penyalahgunaan wewenang yang berujung pada korupsi, merupakan tugas berat yang menjadi tanggung jawab utama.

Melihat banyaknya keberhasilan KPK melakukan tindakan operasi tangkap tangan (OTT), jelas komisi antirasuah itu memiliki segudang cara untuk membongkar kasus yang ada. Tak jarang, kesuksesan mereka membuat para koruptor alias ‘tikus-tikus berdasi’ kalang kabut. Maka tak heran, adalah sebuah prestasi bila anggotanya berhasil melakukan hal tersebut. Penasaran? Simak ulasannya berikut ini.

Kasus korupsi yang bisa dideteksi lewat sistem pemerintahan yang ada

Ilustrasi gedung anggota dewan [sumber gambar]
Menurut Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto mengatakan, cara paling mudah mengungkap jaringan koruptor di Indonesia adalah, dengan menelisik sistem pemerintahan yang ada. Hal ini bisa dilihat dari sistem yang dibangun Undang-Undang tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD, yang menurut dirinya bisa menjadi celah untuk dimanfaatkan para koruptor. “Korupsi adalah well-organized crime. Sistem dibuat korup sedari awal,” ucapnya yang dikutip dari CNN Indonesia.

Memanfaatkan pelaku yang menjadi bagian dari tindak pidana korupsi

Ramai-ramai pakai rompi oranye [sumber gambar]
Salah satu teknik lainnya yang selama ini cukup ampuh adalah, dengan menggunakan tersangka kasus korupsi untuk membongkar jaringan mereka sendiri. Bisa dibilang, mereka yang ditangkap pasti akan dicecar untuk membuka siapa saja yang terlibat dalam kasus tersebut. Hal ini pun sering kita lihat di layar kaca. Di mana para koruptor kerap ‘menggigit’ rekannya satu sama lain karena kedoknya telah terbongkar.

Teknik menyadap diduga koruptor dengan ketat yang cukup efektif di lapangan

Ilustrasi penyadapan KPK [sumber gambar]
Untuk persoalan di ranah teknis, KPK juga mengandalkan penetapan standar penyadapan yang ketat. Jika lewat cara manual, kebanyakan hal tersebut bisa disadari oleh pelaku maupun terduga koruptor, yang kemudian menghindar agar tidak terdeteksi oleh komisi antirasuah tersebut. Jelas, pendekatan yang paling efektif adalah dengan cara menggunakan teknik penyadapan.

Memanfaatkan laporan terpercaya dari pihak di luar KPK

Ilustrasi laporan KPK [sumber gambar]
Operasi tangkap tangan (OTT), menjadi salah satu teknik ampuh KPK yang selama ini banyak menelan ‘korban’. Bahkan seperti yang dikutip dari CNN Indonesia, sepanjang 2018, komisi antirasuah sudah melakukan 28 operasi tangkap tangan dan menetapkan 108 orang sebagai tersangka. Terbanyak dalam sejarah KPK. Rahasianya, OTT bersumber dari laporan orang di luar KPK yang kredibel dan bisa dipercaya.

Meminta bantuan profesional untuk kasus-kasus tertentu

Tukang kunci yang disewa KPK [sumber gambar]
Tak sekedar mengerahkan kemampuan internal, KPK ternyata juga sempat memanfaatkan keahlian di luar mereka untuk mengungkap kasus korupsi. Hal ini sudah pernah diangkat oleh Boombastis.com lewat artikel berjudul “Inilah 4 Fakta Ahli Kunci yang Disewa KPK Buat Bobol Brankas Milik Para Koruptor“, di mana seorang ahli kunci disewa untuk membuka brankas Wali Kota Blitar, Samanhudi.

BACA JUGA: Kisah Novel Baswedan, Penyidik KPK yang Sukses Ungkap Kasus Korupsi Besar di Indonesia

Ada banyak jalan menuju Roma. Ungkapan tersebut seolah melekat erat dengan KPK yang kerap berhasil membongkar kasus korupsi dengan cara khas mereka. Meski sempat merasa “dipreteli’ dengan UU Revisi KPK, komisi anitrasuah itu justru berhasil melakukan OTT pada sejumlah pejabat daerah. Hebat ya Sahabat Boombastis!