Sebagai negeri yang kaya akan budaya dan kearifan lokal, tentu Indonesia dihuni oleh masyarakat dengan berbagai suku, salah satunya adalah Masyarakat Asmat yang berada di Papua Barat. Sayangnya, letak yang susah dijangaku sepertinya membuat provinsi yang berada di ujung timur Indonesia ini tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah.
Bisa dibuktikan dengan masih kurangnya fasilitas umum pelayanan kesehatan. Baru-baru ini bahkan wabah penyakit campak yang menyerang anak-anak, namun belum mendapat penanganan serius, akibatnya, korban berjatuhan tak bisa dihindari. Dari sekian masalah di atas, masih ada lagi potret miris kehidupan masyarakat Asmat yang akan membuatmu ikut sedih melihatnya.
Selama ini masyarakat suku Asmat sebenarnya dikenal kebal penyakit dan terbebas dari Kejadian Luar Biasa (KLB) campak pada 2006 lalu. Namun, 12 tahun berlalu virus campak kembali menjadi momok di tahun 2018, mirisnya ada banyak anak-anak Asmat yang tidak terselamatkan. Dilansir dari liputan6.com, menurut Mantan Direktur Rumah Sakit Umum wabah campak ini menyebar dengan cepat ketika diadakannya pergelaran pesta budaya yang berlangsung pada akhir 2017.
Tidak hanya campak saja, gizi buruk juga menjadi dilemma yang tidak kalah menakutkan. Terhitung dari September 2017 lalu, sudah 24 anak yang meninggal akibat karena alasan gizi buruk. Penyebab utama dari gizi buruk ini karena belum adanya asupan pangan yang yang layak untuk warga Asmat. Masyarakat belum bisa mendapat makanan yang bergizi, ikan saja tidak setiap hari didapat, sayur-sayuran juga terbatas. Selain itu kesadaran akan pentingnya kesehatan masih belum mendarah daging di masyarakat.
Masalah gizi buruk dan wabah campak yang menyerang anak-anak di Papua ini tentu bukan menjadi PR bagi pemerintah Papua saja, tapi seluruh masyarakat Indonesia. Salah satu yang geram dengan kasus ini adalah Nihayatul Wafiroh, salah satu anggota anggota Komisi IX DPR RI. Dalam unggahan di twitter pribadinya, Ninik menegasakan sikap lamban dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap kondisi masyarakat Asmat juga menjadi pangkal masalah kasus ini.
Tidak bisa membayangkan jika saat kita sakit, namun tempat berobat sangatlah jauh untuk ditempuh, seperti yang dialami masyarakat Asmat ini. Ada banyak wilayah di Asmat yang tidak punya akses jalan darat, sehingga pergi ke puskesmas harus lewat transportasi air 2-3 jam. Disamping itu belum ada jangkauan jaringan komunikasi antarwarga, sehingga saat datang ke puskesmas, kadang petugas medis sedang tidak ada di tempat. Bagaimana perasaanmu jika menjadi mereka?
Anak-anak Asmat adalah asset negara yang tidak kalah penting dengan generasi muda di berbagai penjuru Indonesia, maka sudah sepantasnya mereka mendapatkan fasilitas kesehatan yang layak. Dari sederet masalah di atas, walaupun bukan siapa-siapa, tetap ada yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka. Misalnya dengan meggalang bantuan dana atau menjadi relawan untuk ikut terjun ke lapangan.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…