Sutomo atau lebih dikenal dengan nama Bung Tomo adalah sosok pejuang dan pemimpin dalam masa perang Revolusi Indonesia melawan Belanda. Ia adalah sosok penting dalam pertempuran Surabaya ketika Belanda menyerang kota pada bulang Oktober dan November 1945.
Lewat pidato-pidatonya di radio, Bung Tomo membakar semangat arek-arek Surabaya untuk melawan tentara NICA yang berusaha menjajah Indonesia lagi. Pekikan pidato dan seruannya untuk berjuan mampu menggetarkan jiwa para pejuang. Namun siapa sangka jika dibalik ketegasannya tersebut, Bung Tomo ternyata adalah sosok yang romantis. Sisi romantisnya ini terlihat jelas dari bagaimana ia memperlakukan sang istri, Sulistina.
Meskipun sudah menikah, Bung Tomo tidak pernah galak terhadap istrinya. Ia selalu bersikap romantis dan kerap menatap mata istrinya dalam-dalam. Berbagai macam panggilan sayang diberikan kepada Sulistina, salah satunya adalah Tiengke. Dalam setiap surat yang dikirimkan kepada sang istri, Bung Tomo selalu menyebut Sulistina dengan, Tieng adikku sayang, Tieng bojoku sing denok debleng, Dik Tinaku sing ayu dewe, Tieng istri pujaanku, dan masih banyak lagi. Sebuah romantisme manis yang akan membuat wanita manapun selalu merasa jatuh cinta setiap saat.
Gaya Bung Tomo dalam menulis surat juga sungguh menyentuh hati setiap wanita yang membacanya. Dalam salah satu surat yang ia kirimkan kepada sang istri, ia menulis:
“Kalau ada musuh yang siap menembak, dan yang akan ditembak masih pikir-pikir dulu, itu kelamaan. Aku dikenal sebagai seorang pemimpin yang baik dan aku adalah seorang pandu yang suci dalam perkataan dan perbuatan. Pasti aku tidak akan mengecewakanmu. Seorang pejuang tidak akan mengingkari janjinya. Aku mencintaimu sepenuh hatiku, aku ingin menikahimu kalau Indonesia sudah merdeka. Aku akan membahagiakanmu dan tidak akan mengecewakanmu seumur hidupku.”
Cinta yang sangat besar terhadap sang istri ini tentu saja membuat Sulistina begitu terharu. Bahkan, satu hal yang membuat istrinya menangsi trenyuh adalah ketika ia membuka dompet Bung Tomo setelah beliau meninggal. Dalam dompet tersebut, tersimpan foto Sulistina yang tersenyum dengan tulisan “iki bojoku” atau ini istriku. Di foto lain yang disimpan Bung Tomo juga tertulis, “Tien istri Tomo”.
Bahkan sepeninggal sang suami, Sulistina masih menulis surat kepada sang suami menceritakan segala hal yang dialaminya. Meskipun ia tahu bahwa suaminya sudah tidak bersamanya lagi dan tidak bisa membaca suratnya lagi. Bung Tomo meninggal saat melaksanakan ibadah haji pada 7 Oktober 1981 lalu. Jenazahnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya, jawa Timur.
Sebuah kisah manis yang menunjukkan bahwa Bung Tomo tidak hanya sosok yang tegas dan berani, tapi ia juga merupakan sosok lembut dan romantis untuk wanita yang dicintainya. Sebuah bukti bahwa tegas dan keras tidak selalu hadir tanpa sisi kelembutan.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…