Kalau berbicara tentang ganja, pasti yang terpikir adalah penggunaannya yang dijadikan sebagai obat-obatan terlarang bukan? Padahal, ganja ini bukan hal yang dipermasalahkan di Aceh dulu. Saking tak bisa dipisahkan, kadang ada candaan klise seperti ini: “Cari dodol ganja? Sekarang sudah susah mendapatkannya.”
Sekarang, budidaya ganja di Aceh sudah di bawah pantauan Badan Narkotika Nasional (BNN), bahkan mungkin sudah tak ada lagi orang yang menanam ganja karena hal itu bisa berujung terkena pasal dan bisa berurusan dengan pihak berwajib. Untuk tau lebih jauh mengenai ganja ini, mari kita kembali ke masa lalu.
Alasan mengapa ganja bisa tumbuh subur di tanah Aceh
Kalau berbicara tentang ganja, maka Gayo Lues adalah tempat di mana ganja bisa tumbuh dengan sangat subur. Orang lokal menyebut tumbuhan ini dengan nama ‘tembakau hijau’. Meskipun sekarang ganja termasuk dalam barang illegal, namun hal itu bukan berarti tak ada yang berani menanamnya.
Ganja yang dipakai untuk penyedap dalam makanan khas aceh
Selain guyonan ‘dodol ganja’, tumbuhan satu ini sebenarnya sudah sejak zaman dahulu kala digunakan oleh masyarakat Aceh sebagai penyedap dalam makanan mereka. Salah dua makanan yang sering memakai ganja adalah Kuah Beulangong atau Kari Bebek (Sie Itek).
Ganja untuk obat-obatan dan juga pengusir nyamuk
Tak hanya makanan saja, hikayat mariyuana pun tak jauh-jauh dari riwayat Serambi Makkah. Pohon ini disebut dalam kitab Tajol Mulok sebagai warisan Kesultanan Aceh abad ke-18 Masehi. Kitab tersebut memuat manfaat ganja sebagai resep obat-obatan, seperti dilansir dari kumparan.com.
BACA JUGA: Miris, 4 Daerah di Indonesia Ini Ternyata Merupakan Pemasok Ganja Dunia
Namun sekarang, jangankan untuk ditanam demi menjadi bahan bumbu makanan, ada lahan ganja yang tak bertuan alias ganja liar saja, bisa dimusnahkan oleh pihak berwajib. Tapi, meski begitu masih ada saja kok orang yang nekat menanam dan berbisnis secara sembunyi-sembunyi.