Jika dalam islam ada istilah ustaz, ustazah, serta kiai untuk memberi gelar kepada mereka yang ahli dalam urusan agama, maka di Mongolia ada istilah biksu atau atau bhikkhuni untuk wanita. Mereka ini merupakan orang-orang yang ditahbiskan dalam lingkungan biara Buddhis, atau disebut juga sebagai rohaniawan agama Buddha.
Seperti yang sering disaksikan dalam film-film, para biksu ini biasanya suka menyendiri, bermeditasi, dan cenderung hidup secara tradisional di kuil-kuil. Nah, berbeda halnya dengan para biksu di Mongolia. Zaman kehidupan yang sudah modern juga membuat mereka mampu hidup seperti generasi ‘miillennial’ kebanyakan yang melek teknologi. Jika dilihat secara lebih detail, beginilah kehidupan mereka.
Diberi kendali atas biara-biara Mongolia
Pengajaran yang lebih fleksibel
dalam hal melestarikan generasi berikutnya, para biksu usia 20-30 tahun ini meninggali biara dan menyebarkan ajaran dengan cara yang lebih fleksibel. Salah satu contohnya adalah Biara Amarbayasgalant di Mongolia Utara. Dipimpin oleh seorang kepala biara yang baru berusia 35 tahun, biara ini memperbolehkan para pelajar mereka berinteraksi dengan dumi modern. Di sela-sela pembelajaran, biksu muda diperbolehkan rehat dan bermain basket, mereka juga boleh mengakses internet –meski masih 3G, mereka juga boleh melakukan panggilan telepon walaupun dibatasi waktunya.
Orang pilihan yang memutuskan menjadi biksu
Kehidupan sebagai guru biksu
BACA JUGA: Misteri Biksu yang Terpendam Dalam Patung Buddha Berusia 1.000 Tahun
Sama halnya seperti menjadi ulama, biksu adalah profesi di mana butuh hati yang tulus, ikhlas dalam menjalankan tugas, serta mental yang kuat dan tahan banting. Karena hanya dengan beginilah akan tercipta generasi muda yang bisa melestarikan keberadaan agama Buddha di Mongolia.