Jalur Gaza sepertinya memang tidak pernah sepi dari pemberitaan beberapa tahun terakhir ini. Entah itu terkait perang maupun persoalan kemanusiaan di dalamnya. Tidak jarang kita dibuat marah, bingung, sampai bersedih saat harus mendengar berita terkait wilayah tersebut. Namun baru-baru ini ada satu kejadian yang nampaknya akan membuat kita semua sumringah.
Pasalnya baru-baru ini masyarakat Indonesia mengeluarkan bantuan yang cukup besar untuk wilayah itu. Memang sih bantuan bukan lagi berupa pasukan militer ataupun ransum. Namun apa yang diberikan Indonesia kali ini mampu membuat malam Ramadan penduduk di sana semakin terang.
Krisis listrik di Gaza
Invasi militer Israel ke jalur Gaza memang menyisakan duka mendalam bagi masyarakat Palestina di sana. Berbagai macam blokade yang dilakukan Israel juga secara otomatis menyisakan dampak negatif termasuk salah satunya kerusakan infrastruktur. Satu fakta yang juga muncul adalah mengenai adanya pemadaman listrik selama berjam-jam, bahkan hingga 20 jam per hari di wilayah tersebut. Belum lagi pada 2008 lalu di mana satu-satunya pembangkit listrik juga turut dibombardir Israel.
Sedekah bahan bakar diminta oleh seorang relawan Indonesia
Fakta mengenai blokade Israel di jalur Gaza itulah yang kemudian membuat seorang relawan Indonesia bernama Abdillah Onim di sana berinisiatif untuk mengumpulkan bantuan dari pihak lain. Pria yang akrab disapa dengan panggilan Bang Onim ini menceritakan bahwa dia ingin mengumpulkan sedekah berupa solar dan bensin semata-mata agar masjid di sana bisa terang ketika Ramadan.
Distribusi bahan bakar dilakukan sebelum Ramadan
Sungguh tidak disangka bahwa ternyata ada banyak masyarakat yang turut memberikan donasi demi terangnya masjid di jalur Gaza. Ada sekitar 10 ribu liter solar yang kemudian didistribusikan pada 100 masjid di sana. Jadi untuk setiap masjid mendapatkan total bantuan sebesar 100 liter solar. Dengan 100 liter tersebut diperkirakan masjid dapat kembali bercahaya selama satu bulan Ramadan. Tak terkecuali di waktu sahur, dan pastinya juga bisa turut mengaktifkan pengeras suara rumah ibadah tersebut.
Kondisi perekonomian Gaza melemah
Blokade Israel di jalur Gaza tak hanya membuat isi kota menjadi gelap. Sejalan dengan mahalnya harga bahan bakar yang mereka jual, ternyata saat ini ada sekitar 70 persen warga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Adapun saat ini banyak sekali masyarakat di sana yang harus menganggur dan tidak memiliki pekerjaan.
Bisa dibayangkan bagaimana kehidupan warga di Gaza tiap malam bila harus bertahan tanpa penerangan. Apalagi bila Ramadan tiba di mana otomatis banyak ibadah yang dilakukan pada malam hari membutuhkan penerangan. Namun untung saja hanya dengan Rp 30 ribu dari satu individu di Indonesia dapat berkontribusi dalam menerangi 100 rumah ibadah di daerah tersebut. Bahagianya saat ini saudara-saudara kita di Gaza tak lagi menjalani ibadah dalam kegelapan.