Banyak orang yang menganggap sosok Soeharto itu ibarat dua sisi mata uang, terutama tentang apa yang dilakukannya kepada Indonesia. Di satu sisi, presiden kedua itu pernah membawa kemakmuran luar biasa (“sek enak jamanku tho?”), tapi di sisi lain Soeharto menjejalkan keterpurukan bagi bangsa. Meskipun demikian, akan selalu ada yang bisa kita ambil dari kisah hidup the Smiling General ini. Terutama tentang cerita cintanya yang syahdu itu.
Terlepas dari ketidaksukaan kita terhadap sosok Soeharto, harus diakui kalau kisah cintanya bersama Siti Hartinah sangat inspiratif. Berawal dari latar belakang yang berbeda, keduanya dipersatukan dan dipisahkan lagi oleh kematian. Perjuangan mereka, ketidakpercayaan diri Pak Harto, kesetiaan Ibu Tien, balada kisah cinta ini sungguh akan membuat kita mendapatkan pencerahan tentang arti cinta.
Mungkin tidak berlebihan kalau seumpama ceritanya dikemas ala drama-drama Korea, maka hasilnya bakal lebih epic dari serial macam Descendants of The Sun yang jadi pembicaraan para drakor (drama korea) mania itu. Lalu, se-epic apa kisah sang Smiling General dan istrinya itu? Simak ulasannya berikut.
Pak Harto, Ibu Tien, dan Cinta Monyet
Jangan bayangkan kisah cinta kedua sosok ini seperti ABG alay sekarang. Zaman dulu anak-anak mudanya masih belum keracunan sinetron. Tapi, memang sih ada sedikit persamaan kisah, terutama tentang cerita cinta monyet keduanya. Awal mula pertemuan Pak Harto dan Ibu Tien adalah ketika keduanya bersekolah di Wonogiri. Dari sini tanda-tanda keduanya adalah jodoh mulai kentara.

Pak Harto adalah kakak tingkat Ibu Tien, sedangkan ibu negara kedua tersebut satu kelas bersama Sulardi, adik sepupu Soeharto. Pak Harto sendiri tidak pernah diceritakan naksir Ibu Tien ketika masih muda. Justru Ibu Tien yang memberikan tanda-tanda kalau ia menaruh hati. Lewat percakapan dengan maksud mengolok Sulardi, ibu negara ini pernah bilang kalau adik Pak Harto itu kelak akan jadi adik iparnya. Kita tentu sudah tahu maksud ini, kan?
Keduanya Sama-Sama Terlibat Dalam Perjuangan Besar Negara
Selepas dari sekolah, keduanya kemudian terpisah jarak serta waktu yang jauh dan lama. Hingga akhirnya mereka dipertemukan lagi, kali ini bersama-sama berjuang demi bangsa. Soeharto menjadi seorang tentara, sedangkan Siti Hartinah tergabung dalam organisasi perjuangan perempuan, seperti Laswi (Laskar Wanita Indonesia) serta Palang Merah Indonesia.
Perjodohan yang Membuat Soeharto Rendah Diri
Ketika Soeharto sudah menginjak usia matang, hal ini jadi semacam alarm bagi Prawirowiardjo, sang paman, untuk mulai menyikut-nyikut calon presiden ini untuk menikah. Lewat sebuah obrolan singkat, istri Prawirowiardjo yang merupakan adik Pak Karto, ayah Soeharto, menawari sang ponakan untuk dijodohkan.
Ekspektasi Soeharto Terbayar Tuntas
Soeharto masih sedikit ragu atas ide bibi dan pamannya, mengingat saat itu di Jawa memang hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengawini putra putri pembesar. Tapi, sang bibi tidak pernah berdusta. Siapa yang menyangka jika lamaran Soeharto diterima oleh Hartinah. Sang presiden pun terhenyak namun memendam gempita bahagia luar biasa.
Tidak Ada Pesta Pernikahan Besar, Hanya Lilin Temaram
26 Desember 1947 jadi tanggal penting bagi Soeharto dan Siti Hartinah. Kedua pemuda pemudi pemalu ini akhirnya diikat oleh sebuah pernikahan. Semua pihak menerima baik pernikahan ini, meskipun sempat Soeharto minder gara-gara status Ibu Tien yang ningrat. Hanya saja, meskipun salah satu mempelai adalah pembesar, pernikahan ini dilakukan dengan prihatin.
Cinta sejati itu ada, buktinya ya dua orang ini. Berawal dari segala ketidakmungkinan, tapi bisa disatukan. Bahkan perpisahan mereka pun bukan karena bercerai atau parahnya salah satunya ketahuan selingkuh. Ya, kematian lah yang memisahkan. Sang Ibu negara meninggal pada tahun 1996, 12 tahun kemudian, tepatnya di 2008 sang Smiling General, sosok yang paling dihormati seorang Siti Hartinah sang ningrat, akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir.