Apa yang kamu tahu dari wanita Minang atau gadis Padang? Selama ini mungkin matrilineal (perempuan lebih istimewa daripada laki-laki), nominal mahar yang mahal, atau istilah perempuan yang melamar duluan lebih sering kita dengar. Namun, ternyata selain itu ada banyak sekali aturan yang harus dipatuhi oleh mereka.
Kehidupan para perempuan Minang yang lekat dengan adat juga diatur oleh panduan Bundo Kanduang. Bundo Kanduang ini merupakan sosok yang hampir sama dengan ratu dalam sebuah keluarga. Segala norma yang berkaitan dengan kehidupan perempuan Minang tersebut kelak akan menjadikan mereka perempuan bijaksana. Seperti apa kira-kira peraturan dalam kehidupan perempuan Minang? Yuk, simak uraiannya berikut!
Karena beragam budaya yang ada di Indonesia, macam-macam pula aturan yang ditetapkan, contohnya saja pelaksanaan sebuah pernikahan. Dalam adat Minangkabau, pernikahan sasuku atau berasal dari suku asli memang tidak diharamkan, namun kebanyakan mereka yang masih berpegang teguh dengan adat akan melarang hal tersebut. Larangan ini tentu dibuat atas dasar beberapa pertimbangan, seperti mempersempit pergaulan dan menghasilkan keturunan yang tidak berkualitas.
Semua perempuan Minang adalah calon Bundo Kanduang, wanita yang kelak menjadi madrasah dan panutan anak dalam kehidupan mereka. Ya, bagaimana lazimnya wanita panutan, dalam kehidupan sehari-hari, perempuan Minang punya aturan tersendiri, termasuk dalam hal berjalan. Jika bepergian ke luar rumah, maka harus ditemani dengan seorang teman, minimal dengan anak kecil.
Pernikahan memang hal sakral, sekecil apapun itu akan menjadi kenangan tersendiri bagi sang mempelai. Dalam adat Minangkabau, Suntiang atau mahkota pengantin bukan hanya sebagai assesoris yang mempercantik pengantin, tetapi juga hal yang harus dan wajib dipakai oleh perempuan. Suntiang haruslah dipadankan dengan busana yang sopan dan tertutup, karena suntiang ini merupakan identitas yang melambangkan kehormatan para perempuan Minang yang sudah terbangun ratusan tahun lamanya.
Selain adat dalam sumbang bajalan, lebih lengkapnya ada 12 aturan yang tidak boleh dilanggar oleh perempuan Minang. Istilah sumbang duo baleh (aturan yang dua belas) meliputi segala aspek kehidupan, dari tata cara berbicara, makan, bekerja, bergaul dengan lawan jenis, berdiri dan duduk hingga adab bertanya dan menjawab.
Di Sumatra Barat sendiri, peran perempuan itu sangat penting sekali, bukan hanya sebagai ibu bagi anak dan istri bagi suami saja. Lebih dari itu, mereka adalah panutan, guru, serta sekolah untuk anak-anak mereka. Ya, wajar sih kalau banyak aturan yang dibebankan kepada mereka. Bukan hanya di Minang saja, semua wanita pada dasarnya harus bersikap yang sama, hanya tak ada aturan tertulis untuk hal itu.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…