Semua kejadian yang ada sekarang ini punya sejarahnya. Termasuk bagi para Muslim sendiri, hal-hal yang berhubungan dengan syariat dan hukum Islam pasti memiliki cerita awal mula. Sejarah adalah bagian penting yang tidak boleh kita tinggalkan dalam menjalankan kehidupan beragama. Sayangnya, di masa sekarang ini, kebanyakan orang termasuk Muslim sepertinya mulai menganggap sejarah adalah sesuatu yang tak terlalu penting.
Perayaan tahun baru tak disangsikan juga dilakukan mereka para Muslim. Entah apa alasannya sampai melakukan hal tersebut, namun yang pasti hal ini adalah sesuatu yang jelas dilarang. Alasannya, ini bukanlah perayaan orang Islam, dan kedua adalah sejarah atau asal usul perayaan ini yang sama sekali jauh dengan nilai-nilai Islam. Makanya, untuk inilah pentingnya belajar sejarah.
Tentang tahun baru, ternyata ini merupakan tradisi yang sangat tidak Islami. Hukum melakukannya adalah berat, kita bahkan bisa tergolong umat islam yang tidak selamat nanti di akhirat. Berikut adalah hal-hal yang harus diketahui oleh orang Islam tentang perayaan tahun baru.
Janus adalah nama dewanya orang-orang Pagan Romawi. Nama Janus sendiri seringkali diidentikkan sebagai awal mula kata Januari yang artinya adalah permulaan. Dewa Janus digambarkan dengan dua muka yang berlawanan arah, menyimbolkan masa lalu dan masa depan. Setiap awal tahun baru seperti beberapa waktu lalu, orang-orang Romawi melakukan pesta-pesta untuk memperingati sang Dewa.
Ada yang pakai topi kerucut tahun baru kemarin? Jika anda seorang Muslim, maka hal tersebut sangatlah memiriskan hati. Pasalnya, topi tahun baru justru adalah simbol penghinaan bagi Muslim di masa lalu. Kembali ke tahun 1492, Muslim mengalami penindasan dari Raja Ferdinand dan Ratu Isabela yang memimpin Spanyol. Orang-orang Muslim dibantai kala itu, namun beberapa orang berhasil selamat.
Dengan menilik peristiwa sejarah ini, maka ketika kita mengenakan topi kerucut, tak hanya saat tahun baru saja, secara tak langsung kita ikut bersorak atas murtadnya saudara sesama Muslim di masa lalu.
Sebenarnya dua sejarah di atas bukan lagi hal baru, utamanya bagi orang-orang Islam. Sayangnya, dengan berbagai dalih, orang-orang justru tak peduli dan ikut-ikutan merayakan. Tak hanya kembang api dan topi kerucut, banyak juga yang sampai menggelar pesta pora yang dulu juga dilakukan oleh orang-orang Romawi.
Syarat untuk memeluk agama sangat simple, hanya butuh pengakuan. Syahadat sendiri adalah bentuk pengakuan kalau tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusanNya. Lalu bagaimana tentang tahun baru ini? Ya, kita yang ikut-ikutan merayakan acaranya, secara tak langsung mengakui kalau agama orang-orang Romawi adalah benar.
Firman Allah dalam Surat Ali Imron 19, “Sesungguhnya agama yang diridhoi di sisi Allah hanyalah Islam.”
Sepantasnya bagi Muslim tak perlu melakukan hal-hal yang jauh dari nilai-nilai Islam. Termasuk perayaan seperti ini yang siapa sangka justru punya latar belakang yang sangat berkebalikan dengan Islam. Namun, faktanya sungguh miris. Memang benar kalau kita kadang lebih suka perayaan mereka yang bukan Islam. Buktinya, mana ada pergantian tahun Hijriah yang semeriah tahun baru kemarin. Semoga kita tak lagi melakukan kesalahan seperti ini lagi di waktu-waktu mendatang.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…