Bagi kebanyakan orang Indonesia, tidur tanpa guling jelas tak lengkap rasanya. Bahkan ada yang tak bisa tidur tanpa guling. Guling pun tak sekadar sebagai teman tidur tapi juga pemberi kenyamanan yang tak tergantikan. Tapi tahu nggak kalau ternyata guling punya cerita dan sejarah yang panjang?
Kisah asal muasal terciptanya guling ternyata sangat unik dan menarik. Bahkan sudah ada sejak zaman penjajahan. Guling pun dulu juga disebut “Dutch Wife” atau Istri Belanda. Penasaran dengan sejarah dan kisah asal muasalnya? Yuk, kita ikuti info lengkapnya di sini.
Ternyata oh ternyata, guling diperkenalkan sudah sejak zaman penjajahan Belanda. Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya Jejak Langkah memaparkan soal hal ini. Diceritakan di dalam percakapan sesama mahasiswa School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau Sekolah Pendidikan Dokter Pribumi, Wilam berkelakar soal kehidupan para tuan tanah bangsa Inggris kepada para sahabatnya, termasuk pada Minke. Salah satu yang diutarakannya adalah, “Tahu kalian apa sebab di dalam asrama tidak boleh ada guling?” Dari situ ia mulai panjang lebar menjelaskan soal guling.
Guling dahulu punya sebutan yang unik, yaitu “Dutch Wife” atau Istri Belanda. Sebutan ini dibuat oleh Letnan Gubernur Jenderal Inggris, Thomas Stanford Raffles setelah kekuasaan Belanda digantikan oleh Inggris. Sebutan “Dutch Wife” ini pun lebih pada sebuah ejekan dari tentara Inggris yang tak suka pada Belanda. Apalagi kata “Dutch” sering diidentikkan dengan sesuatu yang bernada ejekan dan merendahkan. Menurut Encyclopedia of World and Phrase Origins karya Robert Hendrickson, tertulis “Orang-orang Belanda begitu tersinggung oleh bahasa Inggris selama tiga abad sehingga pada 1934 pemerintah mereka memutuskan untuk membuang kata ‘Dutch’ dan menggunakan kata ‘Netherlands’ jika memungkinkan.”
Walaupun sebutan “Dutch Wife” digunakan tentara Inggris dengan maksud menghina Belanda, tentara Inggris sendiri ternyata juga membutuhkannya saat berada di Hindia. Orang Belanda pun tak mau kalah. Mereka juga punya istilah sendiri untuk menyebut guling, yaitu “British Doll” atau Boneka Inggris.
Kalau sekarang sih, siapa saja bebas memiliki dan menggunakan guling. Tapi dahulu ternyata guling menjadi bagian dari gaya hidup golongan atas. Guling yang lahir dalam kehidupan Indisch pada abad ke-18/19, tak lain hasil campuran dari tiga kebudayaan, yaitu Indonesia, Tiongkok, dan Eropa.
Pramoedya Ananta Toer juga menuliskan, “Mereka hanya meniru-niru orang Belanda. Yang datang dari Belanda serta-merta ditiru orang, terutama para priyayi berkepala kapuk itu. Inggris mengetawakan kebiasaan berguling.” Hal ini menunjukkan bahwa dahulu pribumi Hindia sendiri cuma mengikuti kebiasaan orang Belanda yang menggunakan guling. Dan awalnya yang meniru kebiasaan ini adalah para priayi atau golongan atas.
Keberadaan guling di Hindia menghadirkan berbagai cerita unik. Salah satunya adalah kisah John S.C. Abbott, seorang sejarawan juga pastor dari Negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Dalam tulisan “A Jaunt in Java”, yang dimuat di Harper’s New Monthly Magazine Volume XV, Juni-November 1857, ia menceritakan soal pengalaman uniknya mengenal guling untuk pertama kali.
Abbot menjelaskan bahwa guling harus diletakkan di bagian bawah kaki atau lengan. Tujuannya untuk mencegah kontak sentuhan yang terlalu hangat dengan kasur. Selain itu, bisa memperlancar sirkulasi udara yang lebih sejuk. Tinggal di iklim tropis, keberadaan guling saat tidur jelas memberi rasa nyaman tersendiri. Abbot juga mengatakan kalau guling yang diisi dengan kapas jauh lebih baik daripada guling yang berongga-rongga dan terbuat dari bambu buatan Tiongkok.
Apakah guling saat ini cuma dipakai dan digunakan oleh orang Indonesia saja? Ternyata tidak. Guling juga bisa ditemukan di sejumlah negara lain. Sebut saja Korea, Tiongkok, dan Jepang. Hanya saja bentuk guling bisa berbeda dii tiap negara.
Siapa yang sangka kalau guling yang tiap hari menemani kita tidur itu punya sejarah yang sedemikian panjang. Unik dan menarik sih, terutama soal sebutannya. Tak hanya itu, guling juga jadi bukti tak terbantahkan tentang betapa pelitnya orang-orang Belanda dulu.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…