Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali memicu perbincangan panas di media sosial. Awalnya, Arra dikagumi karena caranya menyampaikan opini dengan lancar dan percaya diri, sesuatu yang jarang dimiliki anak seusianya. Banyak yang menganggapnya berbakat, namun di sisi lain, ada pula yang mulai mempertanyakan apakah gaya bicaranya benar-benar alami atau justru hasil dari pola asuh yang mendorongnya bersikap lebih tua dari usianya.
Kontroversi terbaru muncul saat Arra kembali viral karena videonya yang menunjukkan dirinya memakai pelembab. Saat ditanya oleh ayahnya alasan menggunakan produk tersebut, Arra menjawab agar tidak seperti “teteh-teteh bubaran pabrik.” Pernyataan itu langsung memicu reaksi keras dari netizen. Meski banyak yang memahami bahwa anak kecil seumur Arra belum tentu mengerti arti ucapannya, tetap saja pernyataan tersebut dianggap menyinggung dan memicu perdebatan. Bagaimana seharusnya orang tua mengarahkan anak yang memiliki kecerdasan verbal tinggi agar tidak kebablasan?
Pola Asuh dan Dampaknya pada Anak di Media Sosial
Arra bocah viral [sumber gambar]Meskipun tidak ada satu pun orangtua yang ingin anaknya tumbuh dengan tidak baik, nyatanya begitu banyak orangtua yang salah dalam menerapkan pola asuh. Padahal, cara orang tua mendidik anak punya pengaruh besar terhadap bagaimana mereka berperilaku, terutama di era digital seperti sekarang. Dengan semakin mudahnya akses ke media sosial, anak-anak jadi lebih terekspos ke berbagai tren dan perhatian publik. Dalam kasus Arra, kepiawaiannya berbicara dengan gaya dewasa membuat banyak orang kagum, tetapi sekaligus menimbulkan pertanyaan: apakah ini murni ekspresi dirinya, atau ada pengaruh dari orang-orang di sekitarnya?
Anak Belajar dari Lingkungan, Peran Orang Tua Itu Kunci
Arra dan orangtua [sumber gambar]Psikolog Lita Gading mengingatkan bahwa anak-anak punya kecenderungan untuk meniru, atau dalam istilah psikologi disebut mirroring. Mereka menyerap apa pun yang mereka lihat dan dengar, baik dari orang tua, saudara, atau lingkungan sekitarnya. Bisa jadi, cara Arra berbicara yang terdengar lebih dewasa dari usianya bukan sesuatu yang sengaja diajarkan, melainkan refleksi dari kebiasaannya melihat dan mendengar orang-orang di sekelilingnya. Ini menjadi pengingat penting bahwa mengarahkan anak sesuai usianya bukan hanya soal membatasi, tapi juga memastikan mereka tetap bisa berkembang dengan sehat dan sesuai dengan usianya.
Ketika Popularitas Bisa Berisiko
Arra [sumber gambar]Menjadi viral di media sosial bukan tanpa konsekuensi, apalagi bagi anak-anak. Perhatian besar yang mereka dapatkan bisa berisiko berubah menjadi eksploitasi, baik secara sadar maupun tidak. Konten yang menampilkan anak dengan gaya bicara dewasa atau komentar yang kontroversial memang bisa menarik perhatian, tetapi efek jangka panjangnya terhadap perkembangan psikologis anak patut dipertimbangkan. Anak seharusnya bisa menikmati masa kecilnya tanpa harus terbebani ekspektasi publik atau tekanan sosial yang tidak seharusnya mereka hadapi.
Orang Tua Perlu Bijak dalam Mengawasi Aktivitas Anak di Media Sosial
Arra [sumber gambar]Di era digital ini, mengawasi anak bukan berarti membatasi kreativitas mereka, tetapi lebih ke memastikan bahwa mereka tidak kebablasan. Jika anak punya bakat berbicara atau tampil di depan kamera, tentu hal itu bisa dikembangkan. Tapi, penting juga bagi orang tua untuk tetap mengontrol arah konten yang dibuat, agar tidak menimbulkan kontroversi atau dampak negatif yang justru merugikan anak di kemudian hari.
Bakat dan kemampuan unik Arra memang patut diapresiasi, namun orang tua perlu memastikan bahwa ekspresi diri anak tetap sesuai dengan usia dan tidak menimbulkan kontroversi yang dapat berdampak negatif pada perkembangan mereka. Dengan pengawasan dan bimbingan yang tepat, anak dapat berkembang secara optimal tanpa harus menghadapi tekanan atau kritik yang tidak perlu.